Ngomongin Band “Day6”

Halo! Balik lagi di postingan kekoreaan. Kali ini saya bukan mau bahas drama atau k-pop karena saya sedang hiatus dalam dunia perdramaan wkwkwk. Saya cuma mau bahas soal band underrated (too rate too low) di Korea sana bernama Day6!

Seperti yang dijelaskan wikipedia, Day6 adalah band dengan aliran pop rock di bawah naungan JYP Entertainment. Beranggotakan lima orang yaitu Jae, Sungjin, Young K, Woonpil, dan Dowoon (sumpah saya nggak hapal nama dan wajahnya, saya lihat di wikipedia). Day6 ini bisa dibilang band bentukan baru ya karena mereka baru mengudara tahun 2015 lalu, jadi nggak heran kalau masih banyak orang yang belum tahu soal Day6 even orang yang ngakunya k-popers sejati pun belum tentu tahu (saya yang bukan k-popers merasa sedikit jemawa).

Menemukan Day6 secara tidak sengaja di twitter seperti menemukan air di tengah gurun pasir oke ini lebay. Jujur, saya suka Day6 karena mereka ini suka ngecover lagu-lagu barat dengan pengucapan yang baik (tahu sendiri kan orang korea kalau soal pengucapan inggris masih kurang fasih). Dan mereka ngecovernya asik banget men, harmonisasinya dapet, suara merdunya dapet, eh ditambahin bonus wajah-wajah mereka berlima juga yang hensem-hensem. Paket lengkap deh buat nambah dosa.

Sayang beribu sayang, Day6 masih dianggap sebelah mata di Korea sana, bisa dibilang fans-fans Day6 ini datangnya kebanyakan malah dari orang-orang di luar Korea. Tapi saya nggak peduli, yang penting saya bisa dengerin Day6 ngecoverin lagu karena mereka jadi tamu tetap di KBS CoolFM setiap seminggu sekali. Yeay! Day6 baru-baru ini juga ngeluarin lagu baru dengan judul How Can I Say. Bagus banget kok lagunya, tapi karena berbahasa korea, saya lebih prefer untuk dengerin Day6 ngecover lagu sih, hehehe. Saya nggak paham artinya apa kalau pakai bahasa korea. 😦

Buat yang penasaran seberapa kerennya Day6 ngecover lagu, yuk coba siapin kuota dan dengerin!

Meskipun ini pakai bahasa korea, saya bisa seneng banget dengerinnya padahal nggak mudeng artinya apa. 😦

 

Day6 waktu lagi ngecover lagunya Maroon 5 – She Will Be Loved.

 

Day6 ngecover lagu All of Me.

 

Sebagian personil Day6 ngecover lagunya Adam Levine – Lost Stars. Bagus, one of my favorite song! :’)

 

Ngecover lagu Justin Bieber – Love Yourself.

 

Udah ini terakhir, Day6 waktu ngecover lagu Good Life. Harmonisasinya keren!

 

Buat yang masih penasaran sama Day6, bisa langsung cek aja di youtube dan di sana ada banyak sekali lagu-lagu Day6 sendiri atau coveran mereka yang nggak kalah bagus.

Sekian, saya pamit dulu ya, chingu!

 

Perihal Jatuh dan Patah Hati

Bodoh. Aku seperti orang bodoh kalau sedang bersamamu.

Jijik. Aku geli lihat kamu dekat dengan orang lain selain aku.

Konyol. Aku terlihat aneh kalau sedang memikirkanmu.

Alay. Iya aku tahu, kalian pasti bakal bilang kalau aku itu alay waktu kalian baca tulisan di atas.

Ada fasenya. Pasti ada fase dimana kalian merasakan hal yang sama seperti baris pertama sampai ketiga, atau seperti di baris terakhir. Ya, walaupun jelas kedua fase itu saling bertolak belakang.

Mau muntah? Silakan saja.

Aku tidak akan bilang kalau aku sedang jatuh cinta. Aku hanya sedang belajar untuk bangun cinta. Lebih tepatnya, belajar untuk lebih dewasa dalam memaknai cinta.

Ditulis pada; 7 Juli 2013. Sepertinya saat itu saya sedang jatuh cinta.

Mata. Mempesona. Menakutkan. Menjerumuskan.

Sudah kubilang, aku tak berani berlama-lama menatap matamu. Bukannya aku cuek, bukannya aku jahat. Aku hanya, takut terjerumus dalam pesonamu. Aku teramat takut bila mata kita saling bertemu. Lebih tepatnya, aku gugup.

Aku takut kalau-kalau, mataku terlihat berbunga-bunga saat aku menatapmu.

Ditulis pada; 6 Juli 2013. Oh tidak, saya benar-benar jatuh cinta saat itu.

Tiada hingar dan bingar. Tiada penerang juga bintang. Tiada binatang apalagi orang. Hanya kita. Kamu. Aku. Seolah-olah begitu.

Tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu. Anggap saja, aku pun lupa. Kita bertemu, bercengkrama, bercanda. Bukan memadu kasih, hanya banyak bicara juga tertawa. Itu pun tak sengaja. Untuk selanjutnya, selalu ada pertemuan-pertemuan lain yang tentunya disengaja namun aku malas membahasnya.

Malas? Kenapa? Entahlah. Hanya saja, aku rasa tak ada yang perlu diceritakan lagi. Intinya aku lelah. Juga jijik.

Lelah karena, semua yang kulakukan adalah sia-sia semata. Membuang waktu, menabung rindu, menambah semu.

Jijik karena, mengingatnya. Mengingat aku pernah merindu, menggalau, bahkan menangis.

Ditulis pada; 25 Oktober 2013. Saya patah hati.

Sepertinya, catatan harian yang saya sempat tulis di atas (ada di blog ini) adalah pengalaman jatuh cinta dan patah hati tersingkat yang pernah saya alami. Saya nggak ngerti kenapa saya harus menulis kata-kata itu selama saya merasa galau dengan perasaan saya. Intinya, itu tulisan nirfaedah yang jika dibaca di masa sekarang selalu sukses bikin saya nostalgia. Hmm, ternyata saya juga sempat merasakan indahnya masa-masa limarence dan sakitnya patah hati. Karena jujur, sepertinya saya sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta juga patah hati. Saya selalu merasa, “Apakah saya terlalu tua untuk merasakan  jatuh cinta lagi? Apakah saya terlalu malas untuk merasa patah hati lagi?”

Tapi jujur lagi, ada sedikit perasaan yang membuat saya ingin merasa jatuh dan patah hati lagi. Ada yang saya rindukan. Masa dimana saya dengan luwes mengungkapkan isi hati saya. Masa dimana saya bisa merasakan hati saya masih berfungsi dengan baik sebaik-baiknya. Masa dimana setiap fase kupu-kupu menggelitik perut sampai sendu menyayat hati benar-benar saya nikmati.

Aih, mungkin benar kata dosen mata kuliah komunikasi gender. Perempuan itu lemah soal cinta. Mau sekeras apapun perempuan bicara soal kesetaraan gender, bila menyangkut perihal cinta, mereka kalah.

Eh, sepertinya asyik kalau kapan-kapan saya coba menulis soal feminisme. Ehehehehe malah keluar topik.

 

Di Ruang Tunggu

Pagi ini, aku dapat antrian nomor terakhir. Itu berarti, paling tidak aku harus menunggu satu setengah jam di ruang tunggu. Ada beragam manusia yang kutemui di ruang tunggu. Seorang wanita paruh baya yang meski sedang sakit, ia selalu berbicara entah dengan siapa saja. Mungkin itu salah satu caranya untuk mengurangi sakit fisiknya. Di sudut ruangan lain, aku melihat seorang ibu yang mondar-mandir menggendong anaknya yang tak pernah berhenti menangis. Seringkali sang ibu keluar ruangan untuk mendiamkan anaknya, juga agar yang berada di ruang tunggu tidak merasa terganggu dengan suara tangisan anaknya. Padahal sebenarnya, tidak ada satu pun dari kami yang merasa terganggu. Di sebelah kiriku, ada seorang ibu yang sangat nampak di wajahnya bahwa ia sedang sakit. Ia seperti sedang berjuang mati-matian menahan rasa sakitnya. Alasan sang ibu sederhana saja, ia datang bersama anaknya. Seorang ibu harus terlihat kuat di depan anaknya bukan? Anaknya juga pengertian, dia terus-terusan menghibur ibunya dengan menirukan suara-suara lucu si Jarjit, Upin dan Ipin, sambil menari-nari percaya diri meski dilihat oleh seluruh orang yang berada di ruang tunggu. Anak yang baik. 

Berbeda dengan yang duduk di sebelah kiriku, seorang laki-laki seumuran omku sibuk dengan dunianya sendiri. Ia menelepon terus sepanjang menunggu antrian. Sepertinya dia sibuk dengan pekerjaannya. Mendekati nomor antriannya dipanggil barulah ia berhenti memegang handphonenya, dan mengajak wanita paruh baya mengobrol bersamanya. Barulah aku tahu ternyata laki-laki itu hendak membelikan anaknya yang sedang panas tinggi itu obat. Dari kecil anaknya selalu diperiksa di klinik itu, katanya. Lalu di kursi tepat di samping lelaki itu, ada seorang perempuan cantik yang tertidur pulas sambil sesekali bangun mengecek handphonenya. Sepagi ini ia punya mobilitas yang amat tinggi. Tak heran jika beberapa kali ia tertidur, menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. 

Akhirnya tiba giliranku untuk dipanggil. Aku masuk dengan perasaan takut, tentu saja, ini sakit pertamaku semasa enam semester kuliah. Untunglah, segala bayangan soal thypus dan DB segera hilang begitu dokter bilang aku hanya sakit radang saja. Mungkin ini akumulasi dari segala es soda, es susu, es sirup, es teh, es lemon yang kuminum dalam sehari saja di hari Minggu kemarin. 

Sebelum pulang dokter berpesan padaku,

“Besok-besok kalau mau periksa, jangan diantar Umi ya! Dokternya udah jinak kok sama kamu.”

Aku cengengesan. 

Ingat pernah membaca kalimat perempuan cantik yang tertidur pulas? Ya, dialah ibuku. Yang mengantar dan menemaniku di ruang tunggu, di usiaku yang tahun ini menginjak 21.

Belajar Berumah Tangga dari Hello Counselor

Anyeong! Balik lagi di postingan kekoreaan. Eits tunggu dulu, sebelum di skip, biar saya kasih tahu, tulisan ini nggak ada hubungannya sama drama korea atau k-pop ya! Seriusan!

Kalau kalian mengira sesuatu yang menarik di Korea Selatan cuma drama sama k-popnya aja, kalian salah besar! Masih banyak kok hal-hal menarik di sana, salah satunya program acara berupa talkshow yang berjudul Hello Counselor. Kalau yang penasaran bisa baca deskripsi lengkapnya langsung dari wikipedia ya. Ringkasnya, program acara Hello Counselor ini isinya berupa dua subyek yang menjadi tamu (satu subyek sebagai korban, satunya lagi sebagai pelaku) yang saling berbicara dengan mediasi dari para pembawa acara. Jadi si korban ini awalnya menceritakan permasalahannya, kemudian si pelaku diberikan kesempatan untuk membela diri, mengakui kesalahannya, dan sebagainya. Yang menjadikan program acara ini menarik bagi saya adalah karena permasalahannya yang nggak jauh beda sama permasalahan di Indonesia. Salah satunya adalah permasalahan dalam berumah tangga!

Ada beberapa permasalahan yang membuat saya jengkel setengah mati, terharu, ingin berkata kasar sewaktu menontonnya,

1. Tentang seorang anak yang merasa tidak dicintai oleh Ayahnya karena Ayahnya hobi menggoda atau mengejeknya.

Jadi di dalam video di atas diceritakan ada seorang anak yang merasa tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya. Ayahnya sering mengejek dan pilih kasih. Pernah suatu waktu, si anak mewakili sekolahnya untuk lomba origami tetapi sang Ayah malah mengejek dan berkata apa yang dilakukan anaknya itu bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Pernah juga si anak ini menjadi wakil presiden, dan respon Ayahnya cuma, “semua orang bisa jadi wakil presiden”. Saya langsung marah, ini Ayahnya kenapa sih sama si anak sulung kok jahat banget. Yang bikin saya ketawa itu waktu Ayahnya ditanya sama pembawa acara, “Ayah, apa kamu pernah menjadi wakil presiden? Semua orang kan bisa jadi presiden!” Hahaha Ayahnya cuma ketawa sambil nundukin muka, kemakan omongannya sendiri pada akhirnya.

“Lihatlah, dia anak yang hebat, dia bahkan bisa melakukan apa yang tidak bisa kamu lakukan, Ayah!”

2. Tentang istri yang mengeluhkan suaminya karena tidak menjalankan tugasnya sebagai suami dengan baik.

 

Pada intinya dari kedua video di atas menceritakan tentang suami yang belum cukup dewasa untuk menjadi seorang suami. Mereka masih suka hangout sampai malam, pulang-pulang kerjaannya mabuk, pengangguran, dan nggak mau ngurusin anaknya. Komentar saya setelah menontonnya kurang lebih seperti ini,

“Hah! Apa kamu bilang? Anak itu urusan Ibunya doang? Heh sadar plis tulung, kamu Ayahnya si bayi lho, A-Y-A-H!”

“Yasalam kebablasan banget ini mabuk-mabukan nyampe nggak sadar anaknya ditindihi!”

“Ya Allah ngehabisin duit semalam nyampe 2000 dollar cuma buat di club doang. Insyaf Bapak…”

“Liat itu istrimu nangis, istrimu nangis gara-gara kamu nggak becus jadi suami, Pak!”

Intinya ditonton aja, karena mungkin kalian juga akan merasakan kemarahan yang sama seperti saya ketika menontonnya.

3. Tentang seorang anak kelas enam SD yang merasa lelah karena harus mengurusi adik kembarnya sendirian.

Singkat cerita dari video di atas adalah ada seorang anak sulung yang mengurusi adik kembarnya sendirian. Kenapa sendirian? Karena Ibunya sakit-sakitan dan Ayahnya yang nggak mau peduli alias bodo amatlah. Saya nangis waktu nontonnya, seorang anak yang masih kelas enam SD harus mengurusi dua anak kecil sendirian? Bapak mana Bapak? Di mana? Ternyata kata si anaknya ini Bapaknya cuma ongkang-ongkang kaki doang di rumah, nggak mau ikutan ngurusin anaknya. Si Ibu sebenarnya juga salah sih, karena kurang bisa melakukan pendakatan sama anaknya, Ibunya jadi nggak pengertian sama adik kecil menyedihkan itu. :’)

Ada satu kalimat dari si anak ini yang masih saya ingat sampai sekarang, waktu itu pembawa acara tanya, “Apakah kamu tidak pernah meminta sesuatu dari orangtuamu?”

Jawaban si anak ini bikin saya makin sendu,

“Semakin aku bertambah besar, semakin sedikit hal-hal yang kuharapkan dari orangtuaku”

Lalu saya nangis sekebun. :’)

~~~~~

Sebenarnya ada banyak lagi video-video yang bisa saya tunjukkan, tapi biarlah rasa penasaran kalian yang menuntaskannya. Pada intinya, ada banyak hal, hal-hal diluar ekspektasi kita mengenai pernikahan (yang katanya indah dan menggelora).

Pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah mungkin akan membuat kita berpikir dua kali soal pernikahan;

“Kamu bisa bertahan hidup dengan dirinya sampai kamu tua nanti? Sebaik atau seburuk apapun tabiatnya?”

“Apakah hanya dengan memiliki anak, aku dan kamu bisa berbahagia selamanya?”

“Bisakah kita saling menghargai satu sama lain untuk  selama-lamanya?”

“Jika kita menginginkan buah hati, sudah siapkah kita menjadi orangtua yang pantas untuknya?”

“Kita akan berada di kasur yang sama setiap malam, sampai ajal memisahkan kita. Apakah kamu akan betah mendengar dengkuranku yang mungkin akan mengganggu tidurmu?”

“Apakah kamu masih bisa melihat wajahku dengan perasaan yang sama seperti pertama kali kamu menyatakan cinta kepadaku?”

“Aku sedang sakit, bisakah kamu membantuku membersihkan pekerjaan rumahku/pekerjaan kantorku?”

“Apakah kita akan saling mengakui kesalahan jika memang kita melakukannya?”

“Apa yang akan kita lakukan kalau suatu saat nanti anak kita menuntut haknya untuk diperlakukan sama dengan saudaranya yang lain? Bukankah kita sudah menjadi orangtua yang tidak adil?”

“Bisa tidak kita untuk saling tidak menyakiti satu sama lain, mendukung satu sama lain, dan mengingatkan satu sama lain, untuk selama-lamanya?”

Hayo gimana, masih pada mau nikah?

EH SALAH!

Hayo gimana, masih pengin keburu-buru nikah?

Hehehe, salam damai. Kkeut.

 

Tertawa Hahahaha

Di semester enam yang baru berjalan tiga minggu ini sepertinya saya terlalu banyak tertawa. Terlalu banyak energi yang saya habiskan hanya untuk tertawa. Hari ini saja perut saya sudah sakit tiga kali karena terlalu sering tertawa. Aih, padahal menurut hadist, sering tertawa membuat hati menjadi keras kan ya? :’)

Entahlah sudah berapa kali teman saya bertanya mengapa akhir-akhir ini saya sering tertawa. Bertanya untuk memastikan apakah benar saya masih normal atau tidak. Bertanya apakah ada seseorang yang membuat saya bisa tertawa selepas ini. Padahal sebenarnya, saya juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini saya jadi mudah tertawa. Sampai suatu hari, beberapa hari yang lalu, teman saya dari dimensi lain (sebut saja bukan teman karib) berkata,

“Emang yo nek kakehan masalah ki dadi seneng ngguyu-ngguyu wae. Aku yo akhir-akhir iki seneng ngguyu mboh opo sebabe” (Emang ya kalau kebanyakan masalah tuh jadi suka ketawa-ketawa terus. Aku ya akhir-akhir ini jadi suka ketawa padahal nggak tau penyebabnya apa).

Saat teman saya berkata seperti itu, dia mengakhirinya sambil tertawa. Saya pun juga akhirnya merespon ucapannya dengan ber he’eh medok dan tertawa. Sesampainya di rumah, saya jadi terus memikirkan perkataan teman saya. Dia benar.

Tidak selamanya kita tertawa karena sebab-sebab lucu terjadi. Tidak selamanya kita tertawa pada sesuatu yang lumrah untuk ditertawakan. Karena kadang, kita tertawa untuk hal-hal yang sebenarnya kita sudah lelah mengatasinya. Karena kadang, kita tertawa untuk memaksakan beban-beban di dalam diri kita terangkat. Lucu juga ya, menertawakan masalah padahal sebetulnya masalah tidak akan hilang hanya dengan ngguyu saja. Semua orang tahu itu.

Tetapi, kenapa saya masih memilih untuk terus tertawa?

~~~

Hari ini saya banyak tertawa bersama kawan bloger dan juga kawan sebangku di kampus: Reye. Kami punya selera humor yang sama, sama-sama receh. Jadi tadi di kantin, di kelas, dan di depot kami banyak tertawa untuk hal-hal yang sebenarnya nggak terlalu lucu. Pernah lihat video bayi disuapin tapi nggak jadi? Tadi kami ketawa ngakak cuma karena lihat video itu. Juga video ini, Reye ngakak sampai keluar air mata dan minta diulang terus videonya. Bahasan soal Raja Salman yang khusus bawa eskalator dari Arab juga bikin kita ngakak nggak tau malu di depot.

“Mungkin keringatnya Raja Salman itu dosa kali ya”

“Bayangin dia duduk terus bangun udah sampai aja ke tempat yang dia tuju”

Sebetulnya kami sudah lama berjanji untuk membuat tulisan bertema ‘Dingin’, namun nyatanya tema itu terlalu sulit untuk direalisasikan. Jadi, biarlah kali ini temanya direvisi menjadi tulisan bebas, dan saya memutuskan untuk menulis tulisan gaje seperti di atas hahaha. Yang penting menulis ya, Rey? Sudah lama kita absen di sini… **membungkuk sopan lalu meminta maaf**

Selamat datang semester enam! KKN, magang, dan judul skripsi, kami dataaang!

5 Drama Korea Terbaik di Tahun 2016

Annyeong para pecinta drama korea! Balik lagi nih di postingan kekoreaan setelah sebelumnya membahas soal 5 Drama Korea Terburuk di Tahun 2016.

Saya akan meuliskan lima drama korea terbaik (tentunya versi saya) dari sekian banyak drama yang sudah saya tonton di tahun 2016 ya! List dramanya ada di artikel sebelumnya kok, jadi mungkin bisa dijadikan acuan.

Sebelumnya izinkanlah saya memberikan pandangan mengenai drama korea terbaik versi saya. Saya menyukai drama yang memiliki plot cerita yang baik dan unik, dengan genre komedi dan keluarga yang mendominasi. Cast/pemain dan jumlah episode bagi saya tidak menjadi fokus utama dalam menonton drama. Oke, langsung dimulai saja!

1. Reply 1988

“Waenyol”

“Hyaa!”

“Mbeeheeheek”

Yak, mungkin itu impersonate yang bisa saya berikan dari drama Reply 1988. Sebuah drama dengan genre komedi keluarga yang membuat penonton merasa dekat ketika menontonnya. Entah berapa kali saya terbahak dan menangis selama menonton 20 episodenya. Cerita yang sederhana namun mampu membangkitkan memori, membuat drama ini menjadi drama pertama di TVN dengan rating tertinggi. Keren kan? Penokohan dalam drama ini juga kuat sekali, padahal bisa dibilang banyak aktor dan aktris baru yang terlibat di dalamnya. Plot cerita yang ditampilkan juga menarik, meski memang konflik yang ada di dalamnya tidak terlalu serius. Overall, Reply 1988 masih merupakan drama terbaik yang saya tonton semasa hidup saya. Kenapa? Kalian bisa baca lewat link ini karena saya pernah menulis review lengkapnya.

2. Signal

Lagi-lagi drama dari TVN, memang TVN semakin ke sini semakin menunjukkan progressnya dalam dunia perdramaan. Setelah Reply 1988 selesai, TVN menampilkan drama dengan genre yang berlawanan, tetapi dapat menarik rating yang hampir menyalip rating dari drama Reply 1988. Daebak! Signal adalah sebuah drama dengan genre crime, mystery, dan fantasy, sebuah genre yang menurut saya bisa dibilang baru dalam dunia perdramaan. Penonton akan merasakan ketegangan di setiap episodenya, karena plot cerita yang ditampilkan amat sangat baik. Selain itu, akting dari aktor dan aktris di dalamnya juga sangat kuat. Mungkin kelemahan dari drama ini cuma karena genrenya yang fantasi, jadi cenderung tidak masuk nalar. Sebagai seseorang yang sebenarnya tidak suka drama dengan genre fantasi, Signal bisa membuat saya betah. Karena saking betahnya saya cukup menyelesaikan ke-16 episodenya dalam waktu tak lebih dari dua hari saja. Kesimpulannya, Signal ini bercerita soal detektif di masa sekarang dan di masa lalu yang saling terhubung untuk saling membantu menyelesaikan kasus-kasus pembunuhan. Untuk review lengkapya, bisa baca di sini.

3. Romantic Doctor Teacher Kim

Kalau kalian suka drama yang berkaitan dengan dunia medis, drama ini sangat direkomendasikan! Berlawanan dengan judulnya yang ‘romantis’, drama ini hanya menampilkan sedikiiit momen cinta-cintaan khas drama di dalamnya. Suer, ini drama medisnya serius pakai banget. Di tiap episodenya paling tidak ditampilkan dua kali adegan dengan latar ruang operasi. Dan itu berarti, penonton akan disuguhkan momen-momen berupa darah muncrat secara intens. Bagi saya yang takut lihat darah, ini jadi beban tersendiri ya. Karena setiap adegan operasi berlangsung, kalau nggak saya skip ya saya cuma nontonin subtitlenya aja biar paham. Penokohan yang rinci dan kuat menjadi keunggulan tersendiri di dalamnya. Selain itu, plot yang ditampilkan juga menarik. Kabarnya, drama ini minim promosi tapi selalu mendapatkan rating tinggi. Kenapa? Karena kasus-kasus yang disuguhkan ini ternyata dekat dengan masyarakat Korea. Emang patut diacungi empat jempol sih sutradanya. Terdiri dari 20 episode dan 1 episode spesial, juga dengan pilihan backsound yang omo daebak menjadikan drama Romantic Doctor Teacher Kim sangat layak ditonton. Yang penasaran dengan review lengkapnya, bisa baca di sini.

4. Age of Youth

Yang anak kos-kosan ayo angkat tangan! Yak, drama Age of Youth ini merupakan drama yang sangat dekat dengan kehidupan kos-kosan. Bercerita tentang lima cewek yang mengontrak di satu rumah yang sama, dengan sifat dan latar belakang yang jauh berbeda. Tetapi masing-masing dari kelimanya sama-sama memiliki ketakutan yang diibaratkan dengan sosok hantu di kontrakannya. Suer ini bukan drama horor, karena awalnya saya pikir ini bakalan seram, eh taunya nggak ada seram-seramnya hahaha. Lima pemain utama di dalamnya memiliki penokohan yang kuat, karena kelimanya selalu mendapatkan porsi yang sama di dalamnya. Selain itu, karena saya mahasiswa (meskipun nggak ngekos) jadi saya merasa sangat tertarik ketika menontonnya. Ditambah, backsound yang juga pas, saya jadi ngerasa seperti nonton film indie berkelas tinggi muehehe. Overall, Age of Youth jadi drama paling hangat yang pernah kutonton sih dilihat dari segi pertemanannya mereka berlima. Review lengkapnya bisa dibaca di sini.

5. Goblin

Akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga hahaha. Yap, Goblin dengan genre fantasinya menjadikan kelima list drama terbaik (tentunya versi saya) menjadi lengkap. Udahlah ya nggak perlu dijelasin panjang lebar kenapa Goblin jadi salah satu drama yang must to watch. Kurang apa sih chemistry para pemainnya? Kurang bagus apa sih backsound yang dipilih? Jujur, saya termasuk shippernya Kim Shin dan Wang Yeo, bromance-nya dapet banget. Tapi untuk karakternya, saya suka sama Sunny wkwkwk. Buat yang penasaran sama review yang lengkap selengkap-lengkapnya lengkap, bisa baca di blognya kak Cinta di sini.

Buat para pecinta drama ini, plis jangan marahin saya karena masukin ke list yang terakhir. Dramanya bagus, sangat bagus, cuma genrenya bukan selera saya aja hehehe. Selain itu, kekurangan drama ini berupa alurnya yang lambat menjadikan saya sempat beberapa kali ngantuk sih waktu nontonnya hehehe. Saya juga tadinya bingung mau taruh Goblin atau Drinking Solo di urutan ke lima. Tapi baiklah, Goblin lebih memberikan kesan yang baik (juga agar tidak dibully fans-fans setia dokkaebi di sini wkwkwk).

Yak, itulah kelima drama terbaik di tahun 2016. Kesimpulan yang bisa saya kasih cuma satu. Kamu harus nonton. Menularkan kelima drama di atas ke kerabat terdekat nggak sulit kok, lebih gampang daripada ngajakin MLM-an wkwkwk.

~~~

Ohiya, mungkin buat kalian yang suka nonton drama, saya akan berikan list drama yang menurut saya worth to watch alias sangat layak untuk ditonton. Saya akan bagi berdasarkan genrenya ya!

Drama dengan genre keluarga:

  1. Reply 1988
  2. Reply 1994
  3. Reply 1997
  4. Oh My Geum Bi

Drama dengan genre komedi:

  1. Jealousy Incarnate
  2. Sound of Your Heart (webdrama)
  3. Please Come Back Mister

Drama beralur ringan dan asyik:

  1. Drinking Solo
  2. Weighlifting Fairy Kim Bok Joo
  3. Beautiful Gong Shim
  4. Oh My Ghost

Drama diluar genre di atas tapi layak untuk ditonton:

  1. Beautiful Mind
  2. Remember
  3. My Wife’s Having an Affair
  4. Kill Me, Heal Me
  5. I Miss You
  6. Gentleman’s Dignity
  7. Pinocchio

Oke, sekian dari saya dan sampai jumpa di postingan kekoreaan selanjutnya!

Kamsahamnida! Sarangheo! ^^

Ternyata Saya Seorang ISFJ

Yak, terima kasih Kak Jeka karena akhirnya aku tahu diriku yang sebenarnya hahaha! Jadi, barusan saya disaranin sama Kak Jeka untuk buka link https://www.16personalities.com/  untuk mengecek apakah saya seorang yang ENFJ, ENTP, ISTJ, dan sebagainya. Setelah sekitar 20 menit saya menjawab 60 pertanyaan berbahasa Inggris (iya sayangnya masih belum tersedia bahasa Indonesianya) sambil sesekali membuka kamus, akhirnya saya mendapatkan hasilnya. Saya adalah seorang ISFJ-A! Nah bingung kan itu artinya apa? Iya, sama, saya juga awalnya nggak paham. Lalu setelah baca hasilnya, ooh jadi begitu to…

ra

Ini hasilnya!

Jadi, menurut hasil yang dipaparkan oleh webnya, ada beberapa poin penting yang menjadi garis besar seseorang dengan kepribadian ISFJ,

  • Dalam Keirsey Temperament Sorter yang dikembangkan David Keirsey, ia mengkategorikan ISFJ kedalam Temperamen Guardian, diperkirakan populasi ISFJ didunia yakni antara 9-14% dari populasi dunia
  • Merupakan jenis pribadi konkret dan terorganisir. Mencari keamanan dan rasa memiliki, mereka peduli dengan tugas dan tanggung jawab. Mereka unggul dalam pengorganisasian, memfasilitasi, memeriksa, dan mendukung
  • Mereka sabar dan teliti dalam menangani tanggung jawab. Meskipun tenang, mereka berorientasi pada orang lain dan sangat jeli. Teman dan keluarga cenderung menggambarkan mereka sebagai sosok bijaksana dan dapat dipercaya

Yak, poin pentingnya itu. Setelah membaca sambil menerjemahkan, padahal sebenarnya di link ini ada bahasa Indonesianya, saya cuma bisa angguk-angguk sambil senyum-senyum sendiri.

“Weh… bener ya..”

“Oh gitu…”

“Kok bisa tau sih…”

Yak, itu yang ada di pikiran saya karena baru kali ini ada yang benar-benar mengerti saya sepenuh hati segenap jiwa *halah. Hahahaha.

Lalu untuk ISFJ nya itu sendiri punya pengertian kurang lebih seperti ini:

  • I (Introversion): cenderung tenang dan pendiam. Umumnya suka berinteraksi intensif hanya dengan beberapa teman dekat daripada dengan banyak orang, dan memperoleh energi saat sedang menyendiri (ini benar sekali)
  • S (Sensing): cenderung menyukai hal konkret ketimbang abstrak. Memusatkan perhatian pada realitas ketimbang kemungkinan di masa depan (ini juga benar, saya realistis banget orangnya)
  • F (Feeling): cenderung menghargai pertimbangan pribadi dalam mengambil keputusan. Seringnya mengutamakan implikasi sosial ketimbang logika (ah ini juga, lebih sering mikirin dampaknya duluan sebelum logikanya main)
  • J (Judgement): cenderung merencanakan kegiatan dan membuat keputusan di awal. Mereka mengontrol melalui prediktabilitas (seperti yang dijelaskan di awal, saya orangnya memang terorganisir banget, mau nggak ngapa-ngapain aja harus direncanakan, lho)

Terus untuk ciri-ciri umum ISFJ, ada beberapa poin yang menurut saya itu saya banget,

  • Kaya akan informasi yang dikumpulkan mengenai manusia (sebut saya stalker terniat)
  • Jeli dalam memahami perasaan, dan reaksi orang lain (tapi sayangnya tertutup oleh gengsi yang terlampau tinggi)
  • Dapat diandalkan untuk mengikuti hal-hal sampai selesai (alasan mengapa saya selalu menonton habis tiap episode kdrama walau ceritanya jelek pakai banget)
  • Stabil, praktis, bersahaja, tidak suka bekerja dengan teori dan pemikiran abstrak (karena memang yang seperti itu njlimeti)
  • Memegang nilai keamanan, tradisi, dan hidup damai (nggak suka lihat konflik memang sih)
  • Berfokus pada apa yang orang lain butuhkan dan inginkan (malah nggak fokus sama dirinya sendiri hesemeleh)
  • Baik dan penuh perhatian (ini self branding alias riya)
  • Cenderung menempatkan kebutuhan orang lain di atas mereka sendiri (ini juga termasuk self branding alias riya)
  • Mengambil tanggung jawab dengan serius (woy udah cukup woy self brandingnya elah)

Untuk kelemahannya ISFJ sendiri nggak sedikit kok,

  • Terlalu rendah hati dan pemalu (yak ini nggak baik, jadi sulit berkembang ya kan)
  • Terlalu membawa semua hal untuk dirinya sendiri (maksudnya apa-apa disimpan sendiri, tertutup kalau soal masalah personal)
  • Terlalu menahan perasaannya (meskipun sebenarnya sensitif, tapi lebih mementingkan perasaan orang lain, jatuhnya bikin sakit psikis ini kalau berkelanjutan)
  • Terlalu memaksakan diri (selalu berusaha tapi nggak sadar diri karena takut akan ekspetasi orang lain)
  • Enggan berubah (ya ini namanya konsisten *pembelaan ngawur)
  • Terlalu mengutamakan kepentingan orang lain (yang bikin seorang ISFJ pekewuh, jatuhnya kalau kelamaan bisa stres kali ya mentingin orang lain terus soalnya wkwk)

Intinya sih, kata kunci dari seorang ISFJ itu ada empat:

  • Terorganisir
  • Mempertahankan apa yang telah berhasil dilakukan
  • Membangun kesepakatan
  • Seorang yang terampil

 

ok-fimage-isfj

ISFJ dalam grafis

So, itu sedikit yang bisa saya jelaskan mengenai kepribadian seorang ISFJ. Mungkin setelah membaca ada yang merasa ini gue banget? Kalau ada, kita harus ketemu! Saya penasaran bagaimana melihat kepribadian saya sendiri ada di orang lain hahaha.

Untuk kalian yang mau atau pernah mencoba tetapi lupa, silakan klik link-nya di sini

Selamat mencoba! ^^

 

Tentang Komitmen

Aku sedang bersama denganmu, tapi tidak. Aku sedang menggenggam tanganmu, tapi tidak juga. Aku sedang tertawa bersamamu, tapi tidak juga. Pada intinya, aku selalu menemanimu, tapi tidak.

Memang terasa aneh, bagaimana aku yang sedang bersamamu, juga tidak bersamamu di waktu yang sama. Tapi, izinkanlah aku membersamaimu dalam kesendirianmu. Izinkan aku menjadi bayangmu, yang kelak akan mewujud, menjadi nyata.

Yang harus kamu tahu, aku sudah mencintaimu, bahkan sebelum aku tahu siapa kamu. Aku sudah menerimamu, tulus, bahkan sebelum kamu bisa menerimaku. Lagi-lagi aneh, bukan?

Cintaku memang tak berwujud dan mewujud. Cintaku masih kabur tetapi bayangnya terasa jelas.

Aku merasakan hadirmu dalam ketidakhadiranmu. Sesederhana itu komitmenku.

Kalau ditanya pernahkah aku jatuh cinta? Jawabannya adalah setiap hari. Setiap hari aku selalu jatuh cinta. Padamu. Yang wajahnya masih samar terlihat. Yang senyumnya samar merekah. Yang ronanya masih tak kasat mata.

Kumohon, jagalah cintamu seperti aku yang sedang bersusah-payah menjaga cintaku. 

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan #10DaysKF dari akun twitter @KampusFiksi. Yosh! Besok hari terakhir!

Tentang Fakta atau Opini

Kata banyak orang, saya ini periang.

Nyatanya tidak setiap detik saya merasa selalu bahagia. Saya manusia biasa, yang bisa merasakan kesedihan setiap harinya. Hanya saja, saya menyimpannya untuk diri saya sendiri. Tapi, sesekali ketika saya sedih saya juga tetap bahagia dan tertawa. Bukan karena gila, tetapi karena saya tahu menertawakan masalah akan membuat diri merasa lebih plong.

Kata banyak orang saya ini sombong.

Mungkin karena pengaruh tatapan mata saya yang cenderung aneh, banyak orang yang berkata kesan pertama bertemu saya adalah sombong. Padahal nyatanya tidak, justru saya ini ramah jika diajak berbicara. Jadi cobalah ketika bertemu saya, jangan tatap mata saya, langsung saja diajak berbicara. Lalu saya akan menjadi teman bicara yang menyenangkan.

Kata banyak orang saya ini ekstrovert.

Duhai, saya ekstrovert dari mananya coba? Saya ini benar-benar pure introvert. Saya tidak suka keramaian, tidak suka berbicara, tidak suka jadi pusat perhatian. Mungkin saya dikira ekstrovert karena mudah membaur kali ya? Atau karena saya ramah pada siapa saja? Tapi maaf, saya tidak ekstrovert. Mungkin secara kebetulan saya pintar berkamuflase, jadi orang-orang berpikir seperti itu.

Kata banyak orang saya ini cuek.

Hmm, memang saya tidak bisa menyangkalnya. Saya ini cueknya kebangetan. Tapi sebenarnya, dari lubuk hati yang paling dalam, saya ini peduli, hanya tertutupi rasa gengsi yang terlalu tinggi. Saya ini sebetulnya pemerhati yang baik, pengamat sekitar yang teliti, hanya saja saya berpura-pura tidak peduli. Ya karena itu tadi, rasa gengsi saya jauh lebih tinggi. Padahal, apa susahnya ya untuk tidak cuek? Aih sudahlah, menurut saya sih susah.

Kata banyak orang saya ini gila.

Mereka bercanda sih ngomongnya. Berkata gila karena saya suka tertawa cekikikan sendiri, ngomong-ngomong sendiri, ya begitulah. Padahal kan saya masih normal 😦 Saya cuma suka aja ketawa sama ngomong sendiri. Ya habis tiap saya ketawa terus saya tunjukin ke orang-orang kenapa saya ketawa, mereka nggak ikutan ketawa. Jadi mending ketawa sendirian aja. Hahahaha.

 

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan #10DaysKF dari akun twitter @KampusFiksi

Tentang Kekuatan Diri

Kali ini saya ditantang oleh @KampusFiksi untuk membuat tulisan yang bisa menguatkan saya ketika membacanya. So, akan coba saya lakukan.

Halo, kamu…

Apa kabar senyum pagimu hari ini? Bukan senyum yang kamu paksakan atau kamu jadikan topeng kan? Tetaplah menebar kebahagiaan lewat senyummu yang menawan.

Apa kabar perjalanan pagimu hari ini? Menyenangkan seperti biasanya kan? Jangan lupa untuk menikmati udara segar bebas polusi agar ceriamu tak kunjung pergi.

Apa kabar kesibukanmu hari ini? Masih kuat kan? Jangan cepat lelah tapi juga jangan lupa untuk istirahat ya! Tetap selalu tanamkan bahwa kesibukanmu adalah untuk kebaikanmu kelak. Memang harus ada yang  diperjuangkan untuk menjadi ‘seseorang’ kan?

Kamu, tetaplah menjadi kamu yang ceria, humoris, gemar tertawa, dan suka menolong. Bukan agar kamu di-cap sebagai seseorang yang baik, tetapi karena kamu harus melakukannya.

Kamu, tetaplah gigih untuk menjalankan kesibukan sehari-harimu. Bukan karena ada orang lain yang harus kamu bahagiakan, tetapi karena kamu memang harus berjuang untuk kebaikan dirimu sendiri.

Kamu, tetaplah rendah hati dan haus ilmu. Bukan karena kamu membutuhkan pengakuan orang lain, tetapi karena dengan begitu kamu akan selalu bahagia dalam menjalankan hidupmu.

Untuk kamu, dari aku

Untuk aku, dari kamu

Kamu pantas bahagia, kamu berhak menentukan jalan hidupmu sendiri.

Aku pantas bahagia, aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri.

 

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan #10DaysKF dari akun twitter @KampusFiksi