Draft: November, 2017

“Hingga saat ini kau masih satu-satunya

Yang paling mengerti aku, semua baik burukku

Hingga detik ini, aku masih orang itu
Kau kenal dengan hatimu, masih seperti dulu”

Aku tidak tahu siapa atau apa yang berubah. Pun sama tidak tahunya dengan semua kekakuan temu yang saling kita lakukan hari ini.

Tidak ada sapaan atau lambaian tangan khasmu untukku, aku hanya melihat senyum tersungging canggung di wajahmu. Tidak ada sepatah dua patah kata terucap dari bibirmu, kamu hanya menatapku sebentar dan berlalu.

Tidak mengapa, sungguh.

Tapi seandainya kamu tahu, senja tadi aku menikmati kesendirianku di bawah payung pantai dengan memandangi punggungmu. Aku melihatmu menggandeng mesra, berlarian, hingga bermain ombak bersama dengan bunga mataharimu.

Tawamu belum berubah, masih tetap hangat. Tawa yang dulu selalu menjadi bekalku jalani hidup. Tawa yang bahkan masih bisa kulihat jelas dengan mata minusku.

Kamu hati-hati mendampingi bunga mataharimu, sekali dua kali kamu mengambil gambarnya atau mengajaknya selfie. Lebih sering kalian saling melemparkan pasir basah, kulihat kacamatamu terkena pasir.

Aku terkekeh dari kejauhan sambil menyeruput es kelapa muda.

Aku tidak tahu siapa atau apa yang berubah. Yang aku tahu, kebiasaanku memperhatikanmu dari jauh tidak pernah berubah.

Yang bisa kulakukan memang hanya diam. Diam-diam mengamati lalu mengagumi kemudian menyukaimu. Diam-diam bahagia mendapat secuil perhatian darimu. Diam-diam berharap. Diam-diam mendoakan. Diam-diam patah hati dan mencoba bangkit.


Saking bingungnya mau nulis apa bulan ini di blog, nggak sengaja menemukan draft dari hampir dua tahun yang lalu. Hmm hampir dua tahun yang lalu ya, sudah selama itu ternyata saya nggak bertemu dan tahu kabar doi. Tapi nggak papa, karena kadang, sebaik-baiknya kabar adalah tidak ada kabar.

Delapan Tahun

Blog random saya akhirnya bisa mencapai umurnya yang kedelapan. Meski udah lama nggak aktif ngeblog, dapat notifikasi kayak begini masih terasa sama menyenangkannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Delapan tahun bukan waktu yang singkat, ada sedikit rasa bangga bisa bertahan selama ini di blog (meski akhir-akhir ini saya jaraaang banget ngeblog hehe).

Tepat di usianya yang kedelapan, tiba-tiba saya merasa sangat bersyukur bisa mengenal dunia blog. Begitu banyak hal yang bisa saya dapatkan dari blog, salah satunya…. hmm baiknya tidak saya umumkan sekarang agar teman-teman blog semakin penasaran. Tunggu tanggal mainnya saja ya, hihihi.

Saya tentu berharap dapat lebih aktif menulis di sini, karena beberapa bulan belakangan saya sedang di masa malas-malasnya ngeblog. Saya juga pengin bisa rutin blogwalking lagi, penasaran juga nih karena udah lama nggak berhubungan sama teman-teman blog juga. Saya kangen kalian! 😭

Kayaknya udah mesti bikin jadwal mingguan di mana satu dari tujuh hari dikhususkan untuk upload satu tulisan di blog ya, hmm….

Rehat

Yang dicari hilang

Yang dikejar lari

Yang ditunggu

Yang diharap

Biarkanlah semesta bekerja untukmu

“Tenangkan hati, semua ini bukan salahmu”

Mantra yang berhasil menenangkan hati saya tiap saya merasa menjadi orang paling bodoh sedunia karena selalu disalahkan dan seolah hidup saya tak pernah benar.

“Yang kau takutkan takkan terjadi”

Mantra yang membuat kegelisahan, kegundahan, kegalauan tak berkesudahan saya berangsur berkurang. Apa yang sebetulnya harus saya takutkan? Yang saya takutkan tidak seburuk itu, kok.

“Kita coba lagi, untuk lain hari”

Saya memang tidak pernah tahu kapan akan mati, tapi bukankah tidak ada salahnya berkeyakinan untuk memiliki hari baru, hari yang lebih menyenangkan dari hari ini?

Kalau sedang merasa tidak baik-baik saja, kamu bisa coba dengarkan lagu ini. Masalahmu memang tidak akan selesai hanya dengan mendengar lagunya, tapi perasaan dipahami yang tercipta dari mendengarkan lagunya bisa membuatmu percaya bahwa kamu tidak pernah benar-benar sendiri.

Yuk, rehat sejenak. Besok weekend.

Senandung

🎢🎢

Hujan hujan pergilah

Datanglah lain hari

Kamu kamu datanglah

Aku sudah rindu sekali

—–

Hujan hujan pergilah

Datanglah lain hari

Ayo kamu kemarilah

Aku slalu menanti

—–

Hujan hujan pergilah

Datanglah lain hari

Tidakkah kamu gundah

Belum bertemu bidadari

—–

Hujan hujan pergilah

Datanglah lain hari

Tidakkah kamu resah

Tanpa diriku di sisi

—–

Hujan hujan pergilah

Datanglah lain hari

Sudah jangan berkilah

Lekas cepat kemari

🎢🎢

Berita Kematian

Siang ini saya dapat kabar, salah satu adik kelas saya sejak TK sampai SMA meninggal dunia. Yang membuat saya kaget, almarhum meninggal karena kecelakaan. Bukan kecelakaan tunggal, bukan pula ditabrak atau menabrak orang. Almarhum meninggal tertimpa pohon yang tiba-tiba rubuh, tanpa angin tanpa hujan. Ngilu hati saya saat membaca kabar dukanya tadi di grup angkatan.

Almarhum adalah anak semata wayang yang baik luhur dan pekertinya. Semasa sekolah dulu, almarhum dikenal pandai dan rajin beribadah. Almarhum juga jadi murid kesayangan guru-guru. Intinya, almarhum orang yang sangat baik. Saya memang tidak terlalu dekat dengannya, cuma karena satu organisasi semasa SMA dulu, saya selalu menyapa almarhum tiap berpapasan di sekolah. Begitu pun dengan almarhum, senyumnya selalu merekah tiap berpasasan atau mengobrol dengan saya. Saya hanya merasa sedih, di saat-saat terakhirnya, saya tidak sempat untuk menanyakan kabar apalagi mengingat sosoknya. Lalu tiba-tiba hari ini, semua kenangan tentangnya menguar di memori saya. Bahkan ingatan saya tentang almarhum di masa TK dulu saya juga ingat, dengan seragam dan gigi ompongnya. Duh :’)

Kejadian siang tadi benar-benar jadi penampar keras untuk saya. Saya terlalu kurang ajar karena beberapa kali sempat memikirkan skenario kecelakaan selama di perjalanan entah kemana pun itu tujuannya. “Gimana ya rasanya kecelakaan?” “Gimana ya sakitnya jatuh dari motor?”, “Kalau aku jatuh atau kecelakaan, gimana ya reaksi orang-orang terdekatku?”

Sedih, saya sedih pernah membayangkan skenario seperti itu. Karena berita kematian almarhum, saya juga merenung. Merenungi bahwa kematian bisa terjadi kapan dan di mana saja. Merenung, bahwa ucapan hati-hati di jalan dari orang-orang terdekat kita bukan sekadar ucapan pemanis di mulut saja.

Seringkali kita lupa bersyukur, padahal bentuk syukur yang paling sederhana bisa dengan selamat selama di perjalanan, atau dikelilingi orang yang selalu peduli untuk mengucapkan “hati-hati”.

Selamat jalan, adik kelas yang teramat baik! Senang bisa mengenal dan belajar banyak dari kebaikan hatimu. πŸ™‚

Berkah

Kalau diingat-ingat lagi, rasanya sudah cukup lama aku mengenalmu. Saat itu kita masih sama-sama menyandang status sebagai mahasiswa kan? Aku dengan santainya meminta kontak linemu karena, ah kupikir kamu mengenal salah satu temanku yang kuliah di tempat yang sama denganmu. Dan ternyata benar, kamu mengenalnya, kalian malah satu organisasi. Sejujurnya aku agak kaget, tapi biarlah, berkat seorang teman yang sama-sama kami kenal ini, aku merasa ada topik yang bisa diperbincangkan.

Awal mengenalmu, aku sudah tahu kamu lelaki yang pemalu. Yang mudah grogi tiap berkomunikasi dengan lawan jenis, apalagi yang secantik aku. Tapi aku suka sifat malu-malumu itu, ditambah bonus selera humormu yang ternyata sama denganku. Lengkaplah sudah. Aku seperti melihat diriku versi laki-laki.

Lalu pada akhirnya kami bertemu untuk yang pertama kalinya. Deg-degan? Tentu saja. Pengalamanku dengan lawan jenis sangat minim, bisa dibilang nggak ada malah. Biasalah, tipe-tipe perempuan yang sukanya jadi pengagum rahasia doang, berani ngungkapin juga enggak ehehe. Tapi pada akhirnya aku nekad. Udah, ini kan cuma pertemuan biasa. Pikirku saat itu. Aku melihatmu dari kejauhan, dan ternyata bayanganku tentangmu banyak yang meleset ya, hahaha. Tapi aku merasa beruntung banget karena bisa langsung nyaman dan cocok waktu ngobrol denganmu.

Kupikir obrolanku denganmu akan berakhir setelah pertemuan itu. Nyatanya tidak, aku tahu kamu berusaha mencari topik untuk mencuri-curi chatting denganku. Kamu banyak membagikan postingan lucu. Aku senang? Jangan ditanya, entah sudah berapa kali aku bergumam “manis sekali orang ini” tiap membaca pesan darimu. Dan sadar nggak sadar, aku selalu menunggu chat darimu. Seminggu sekali bisa dichat sama kamu udah syukur. Kepikiran ngechat duluan? Seringlah, tapi sayangnya rasa gengsiku lebih besar dulu. Aih, dasar perempuan.

Dari yang tadinya cuma berbagi kelucuan, berkembang jadi saling menanyakan kabar. Bertanya soal kesibukan, kesukaan, masa lalu, keluarga, dan entah mengapa makin hari topik yang dibahas rasanya semakin menyenangkan. Aku jadi ingat, dulu kita semakin dekat waktu kamu lagi sibuk-sibuknya berkutat dengan skripsi kan? Kupikir aku mengganggu, nyatanya setelah kutahu kamu malah senang bisa kuganggu. Pelepas stres katamu, lucu juga.

Lalu pada akhirnya kamu sidang. Aku sidang. Kamu bekerja. Aku juga bekerja.

Dan semua masih terasa sama seperti dulu. Sama-sama menyenangkan.


“Apa yang kulihat dari dirimu selama beberapa tahun ke belakang hingga kini adalah suatu berkah. Dan aku tak berkeberatan, bahkan ingin, untuk menghabiskan sisa waktu yang ada untuk melihat tahun-tahun berikutnya bersamamu.”

Menunggu

Mungkin kau perlu tahu, aku akan selalu menunggumu.

Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun atau bahkan satu dekade lagi. Aku akan tetap menunggumu.

Lalu jika setelah itu kau bertanya, apakah kau layak untuk kutunggu? Jawabannya akan selalu sama. Kau lebih dari sekadar layak untuk kutunggu.

Tugasku selain menunggu hanya tinggal bersabar. Bahwa seperti katamu dulu, akan selalu ada akhir yang manis bagi mereka yang bersabar.

Aku Ingin

Aku ingin jadi jam tanganmu, yang selalu kau pakai tiap kau pergi kemana pun itu.

Aku ingin jadi ranselmu, yang tak pernah absen menemani petualangan solomu.

Aku ingin jadi sandal jepit swallowmu, yang dengan bangga selalu kau kenakan di mana pun itu.

Aku ingin jadi magic jarmu, yang selalu bisa kau andalkan untuk mengatasi rasa laparmu.

Aku ingin jadi Mbok, kucing di kantormu yang bisa kau perhatikan dan jadi hiburan di sela kesibukanmu.

Aku ingin jadi apa pun itu.

Apa pun, asal selalu ada di dekatmu.

Bolehkah?