Delapan kali.

Sakit.

Terluka. Merana

11 September 2012. Untuk yang kedua kalinya, aku menangis karena cinta. Cinta yang tak berbalas. Cinta yang tumbuh diam-diam menghanyutkan. Cinta yang selalu membuatku terjebak ilusi hatiku sendiri.

Dulu, aku belum paham benar apa arti dari perasaan yang menyenangkan tiap aku bersamanya. Melihat senyumnya yang meneduhkan. Mendengar tutur katanya yang menghipnotis. Ah, semua tentangnya akan tak ada akhirnya jika aku bercerita.

Setelah aku pergi. Aku sadar, ternyata perasaan menyenangkan itu bernama cinta. Aku menyesal, aku kecewa. Aku benar-benar merasa kehilangan.

Tiga tahun aku bersamanya, tiga tahun aku bahagia

Dua tahun tanpa dirinya, dua tahun aku merasa sepi. Mencemaskanmu…

Apakah kamu baik-baik saja? Bagaimana kabar senyummu pagi ini? Hari ini aku rindu denganmu. Bisakah kita bertemu? Aku ingin cerita banyak hal.

Angan-angan kosong. Semua pengandaianku itu semu!.

Aku tau, cinta kita berbeda. Aku paham, cinta ini hanya aku sendiri yang merasakannya.

Aku ingat, aku patah hati. Patah hati karenamu.

Kini kau mulai pergi menjauh dariku. Tidak! Memang pada dasarnya kita tak pernah dekat! Tak pernah! Lagi-lagi terjebak ilusi yang kurangkai sendiri. Hebat benar benda bernama ilusi itu.

Dan, inilah yang aku cemaskan. Akhirnya kamu benar-benar pergi dengan segala kebahagiaanmu. Kamu pergi tanpa pamit, pergi dengan sejuta senyum mengembang. Kamu bahagia, aku terluka. Kamu terharu, aku menangis. Kamu tau? Rasanya sungguh tak elok lagi jika aku masih menangisimu sampai detik ini juga. Akhirnya kini aku paham. Senyummu, ceriamu, hatimu, tak pernah untukku.

Hari ini, ditemani gigitan dari beberapa nyamuk dikamar. Aku hanya ingin berkata, “aku merindukanmu, aku menyayangimu, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu bersamanya”

Selamat tinggal. Aku sudah tak lagi menangisimu. Aku akan bahagia jika kamu bahagia. Sesederhana itu.

Tahukah kamu? Sudah delapan kali aku memimpikanmu sejak kejadian 11 September 2012. Aku bermimpi, kamu tersenyum padaku. Mohon pamit, mohon untuk menanggalkan semua perasaanku padamu. Lalu kamu melambaikan tangan, lambaian tangan khasmu tak akan pernah kulupakan sampai detik ini juga. Dan lagi-lagi, kamu tersenyum padaku.

Aku menyerah. Perasaanku menyerah. Semua musnah. Lupakanlah

“orang yang jatuh cinta diam-diam, selalu saja, jatuh cinta sendirian” –Raditya Dika-

2 pemikiran pada “Delapan kali.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s