Tentang Rasa dan Hati

Bukan soal sikap. Ini soal hati. Bukan masalah harga diri. Ini tentang rasa. Rasa itu ada, rasa itu nyata. Ketiadaannya terkadang membuatnya menjadi ada. Lagi-lagi, ini soal rasa. Menggebu-gebu. Membuat hiperbola. Merasa galau.

Lalu, apakah sungguh rasa itu ada? Tidak, dia tidak ada. Namun ketiadaannya yang menjadikan ia tetap hidup. Perlahan dan mekar. Rasa itu abadi. Ia tak akan pernah mati. Hanya redup karena perintah hati.

Ia datang, malu-malu. Saling bertegur sapa dengan hati. Berdua mereka berbincang, kemudian akrab. Kalau sudah akrab, terang saja rasa bahagia. setelah itu mereka menjalin sebuah ikatan. Ikatan yang hangat, bersahabat, dan membingungkan. Hati sadar, ia yang biasanya bersikap anti-sosial seketika berubah. Rasa mampu membuatnya berdegup, penasaran, dan salah tingkah. Hati bahagia dengan perasaan menyenangkan itu. Rasa dan hati, jemari mereka bertaut. Saling mengikrarkan janji, memulai hidup. Hidup yang tak lagi sendiri.

Hingga suatu saat. Janji yang selalu rasa dan hati bangga-banggakan pudar. Perlahan dan mematikan. Hati menangis, rasa tak acuh. Jemari mereka sudah tak lagi bertaut. Rupanya rasa sudah bosan, ia bosan dan pergi. Rasa. Pergi dengan sejuta kenangan dan harapan. Sekali lagi, hati terluka. Ia tak dapat terima. Ia mengelak, marah pada rasa. Tapi, apa daya? Rasa sudah terlanjur pergi. Pergi jauh dan tak akan kembali.

Hati menghujat rasa. Hati benci rasa. Hati perlahan mati.

Rasa. Tak selamanya berbunga. Tak selamanya suci menyucikan.

The end.

 

-Hajar, 16 thn, pelajar sma-

2 pemikiran pada “Tentang Rasa dan Hati

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s