Mati.

Senin.

Mereka tertawa. Berbagi senyuman. Bergandengan tangan layaknya pasangan. Janji mereka sederhana. Bahagia sampai mati, bersama sampai nafas berhenti.

Selasa.

Masih tetap tertawa. Masih tetap bahagia. Masih tetap  bersama. Mereka, bersama merenda asa. Mulai menata hidup yang bahagia. Selingan canda yang selalu membuat mereka tertawa. Lepaslah semua beban, pedih peri, duka hati.

Rabu-Kamis-Jumat.

Masih sama seperti hari yang lalu. Masih tertawa. Masih bahagia. Masih bersama. Bedanya, kali ini mulai ada helaan nafas tertahan.

Sabtu.

Lama-lama, helaan nafas berubah menjadi kecamuk. Kecamuk yang membingungkan. Kecamuk yang meresahkan. Mereka masih bersama. Masih bahagia. Namun tak lagi tertawa.

Minggu.

Kecamuk itu lagi-lagi datang. Lebih meresahkan dan membingungkan. Kecamuk dapat menumbangkan perasaan. Mereka, seketika terdiam. Lalu menjauh perlahan. Aku sampai lupa, mereka sudah tak lagi bahagia sejak kecamuk itu datang. Sekarang, mereka sempurna berpisah.

Tawa, bahagia, dan kebersamaan mereka perlahan hilang. Kemudian mati.

Kecamuk senang bukan kepalang. Kecamuk tertawa. “hahahaha” katanya. “hahahaha” lanjutnya. Kemudian sepi.

Perlahan, kecamuk mati. Semua mati.

Mati.

Ti.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s