Sepuluh kali.

Beberapa malam lalu aku bermimpi. Ini mimpiku yang sama kesepuluh kalinya. Iya sama persis. Latar, alur, dan juga tokohnya. Tapi entah kenapa, aku yang jadi tokoh utama dalam mimpiku terkesan sedikit lebih cuek dengan tokoh lawanku. Anggap aja tokoh lawanku aku beri nama ‘dia’.

Kuingat dalam mimpi, pernah suatu saat kita berpandangan satu sama lain. Lalu dia tersenyum, maksud hati aku ingin membalas senyumannya. Namun tiba-tiba saja kepalaku refleks berpaling dan aku pergi. Kemudian aku ikut nimbrung bermain bersama tokoh-tokoh figuranku. Untuk yang pertama kalinya, aku dapat mengabaikankan senyumannya.

Hal kedua yang kuingat dalam mimpiku. Saat itu aku sedang duduk berdua bersama seorang tokoh figuran di balkon atas. Kami tertawa, saling melepas rindu. Tiba-tiba saja dia terlihat sedang memperhatikanku dari bawah. Saat aku menatapnya, dia melambaikan tangannya. Ya, lambaian tangan khasnya memang tak akan pernah kulupakan. Saat itu, aku hendak mengangkat tanganku untuk membalas lambaian tangannya. Tapi entah apa yang kupikirkan, tiba-tiba saja aku menggandeng tokoh figuranku dan pergi begitu saja dari tempat dudukku tadi. Untuk yang pertama kalinya, aku dapat menolak lambaian tangannya.

Hal lain? entahlah aku sudah tak ingat persis kejadiannya seperti apa. Memang faktanya aku mudah melupakan mimpi.

Masih ingat catatanku yang bertitle ‘Delapan Kali’? tepatnya dibagian ini yang perlu di garis bawahi “Aku bermimpi, kamu tersenyum padaku. Mohon pamit, mohon untuk menanggalkan semua perasaanku padamu. Lalu kamu melambaikan tangan, lambaian tangan khasmu tak akan pernah kulupakan sampai detik ini juga. Dan lagi-lagi, kamu tersenyum padaku.”

Oke, dimimpiku yang kesepuluh ternyata aku sanggup melakukannya. Mengabaikannmu, menolakmu. Kau lihat sendiri kan? Aku sanggup, aku sungguh-sungguh sanggup menanggalkan seluruh perasaanku. Dan ketahuilah, saat aku terbangun dari mimpiku. Kepalaku pusing, dan aku lupa semuanya. Hingga siangnya aku baru ingat kalau semalam aku mimpi aneh. Mimpi aneh tapi aku rasa itu sebuah jawaban dari mimpi-mimpiku sebelumnya.

Kamu pasti tau jikalau mimpi kadang berbeda dengan kenyataannya. Tapi yang kutau, mimpi itu benar-benar sugesti. Dan kini aku paham, aku kembali tersenyum. Suatu saat nanti jika kita berkesempatan bertemu. Semoga aku bisa menjadi aku seperti di mimpiku beberapa hari yang lalu. Mengabaikanmu. Menolakmu.

Tapi tetap saja lambaian tanganmu mungkin tak akan pernah kulupakan. Mungkin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s