Sebelas kali.

Kenapa harus jadi yang kesebelas kalinya sih? Aku juga heran kenapa mimpiku masih saja sama seperti mimpi-mimpi yang sebelumnya. Lagi-lagi kamu, lagi-lagi di tempat itu, lagi-lagi alurnya seperti itu. Aneh. Sungguh aneh. Aku merasa mimpiku jadi kurang kreatif akhir-akhir ini  kalau hanya kamu saja yang terus ada. Padahal jelas-jelas aku tak lagi memikirkanmu. Kenapa selalu kamu yang ada di setiap mimpiku? Bodoh! kalau begini terus kapan aku bisa dapet inspirasi coba?

Aku ngga perlu cerita lagi mimpiku yang kesebelas. Karena isinya sama seperti mimpiku yang kesembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu. Semua sama, kita masih jadi tokoh utama. Aku masih jadi pihak yang seakan-akan gagal move on. Dan kamu? Kamu jadi pihak yang membuatku gagal move on. Padahal aku sudah melupakanmu sejak hari-hari yang lalu. Sudah lamaaaa sekali.

Aku pikir, aku sudah tak lagi memimpikanmu setelah aku bermimpi yang kesepuluh. Tapi ternyata aku salah besar. Kamu lagi-lagi hadir. Menganggu, membuatku marah ketika aku sadar semalam aku memimpikanmu (lagi). Cukup, cukup yang kesebelas yang menjadi akhir. Bagiku angka sebelas sudah cukup membawa kabar buruk. Plis, jangan sebelas (lagi). Tapi aku jamin, kalau aku tidak memimpikanmu lagi setelah yang kesebelas ini. Aku akan mencoba untuk meyukai angka sebelas. Walaupun itu sulit. Walaupun itu sakit.

Kamu, tiga huruf. Aku, lima huruf. Totalnya jadi delapan huruf. Hey, angka delapan itu angka kesukaanku, bodoh! Iya aku bodoh, mau-maunya aku suka angka delapan. Bukankah masih ada samudera angka di dunia ini? Kenapa harus delapan yang aku suka sih, bodoh!

Mau bagaimana lagi, aku suka angka delapan sejak aku masih ingusan. Sejak aku belum kenal kamu. Sejak aku belum mimpi kamu. Sejak aku masih mengompol di celana. Sejak aku masih merengek minta dibelikan balon berwarna biru.

Lalu, siapa yang salah? Jangan cari siapa yang salah. Tapi apa yang salah. Periksa hatimu dulu, Jar!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s