Malam Minggu Jl Pemuda

Tugu Muda, kadang aku ngerasa kasihan sama kamu. Kamu kan monumen, kok mau-maunya dijadiin tempat pacaran sih? Kok mau-maunya dinodai sama minuman keras dari para pemabuk? Oke, sepertinya aku mulai gila karena aku berbicara pada benda mati. kalau malam minggu, Tugu Muda jadi semrawut.

Lebih kasian lagi museum Mandala Bhakti. Kalau turis ngeliat mungkin mereka bakal terpesona, mungkin. Karena apa? Yap, museum Mandala Bhakti selalu dipenuhi parkiran puluhan, atau bahkan ratusan kendaraan bermotor. Sayangnya, mereka yang parkir disana hanya numpang ndekemin motornya disana. Bukan untuk liat-liat apalagi sampai berwisata ke museumnya. Miris.

Duh, tapi ada yang lebih kasian ding. Perpustakaan Wilayah disebelah Lawang Sewu  mungkin sama sekali ngga tersentuh pas malam minggu. Padahal gedungnya gede, apalagi ada lampu-lampunya gitu sekarang. Kok masih aja sepi ya? Eh, sepi karena ngga ada pengunjung atau memang karena udah tutup ya? Haha, ketauan juga kalau yang nulis ginian jarang ke perpustakaan

Seenggaknya kan masih ada yang ngga kasian. Apaan emang? Itu tuh Lawang Sewu. Liat kan bangunannya sekarang jadi wow cetar badai membahana. Dulunya sih dibilang angker, medeni. Nah sekarang? Jadi tempat wisata nomor wahid di area Jl Pemuda. Apalagi sekarang udah ada kereta api yang mejeng disana. Jadi tambah wow deh. Ya entah apa yang dilakukan para pengunjung disana. Paling ngga foto-foto di depan kereta juga keliatan kece. Iyalah, gratis juga!

Perpustakaan Wilayah-Museum Mandala Bhakti. Kalian saling berhadapan satu sama lain. Aku yakin, pasti setiap malam minggu kaya kemarin kalian lagi pada curhat-curhatan. Saling mengeluh satu sama lain. “aku udah ngga kuat lagi Wil” kata Museum Mandala Bhakti. “sama nih Man, kita ngga dianggep disini” balas Perpustakaan Wilayah. Well, masih banyak percakapan yang mereka lakukan di malam minggu. Tapi aku ngga mau nulis disini, takut ilmu bahasa asingku ketauan (bahasa asing: bahasa dari para benda-benda mati).

Tugu Muda-Lawang Sewu. Kalian sama-sama monumen nasional. Sama-sama bikinan dari para penjajah. Sama-sama tua tapi berjiwa muda. Kalian punya kharisma. Kalian lebih kelihatan gentle ketimbang duo bangunan lainnya. Tapi sayang, nasib kalian juga sama di malam minggu. Jadi tempat maksiat. Jadi tempat dari para pembohong, pembual cinta. “hiks, miris amat nasib kita Wang” kata Tugu Muda. “iya nih Gu, mataku bisa merah liat ginian” balas Lawang Sewu. Ohiya, mereka berbicara dengan aksen Belandanya yang masih kental.

Kalau gitu, lebih milih yang mana? Selalu ramai tapi banyak mudhorot (keburukan). Atau yang sepi menyakitkan tapi disucikan?

Well, jadi jomblo ngga selamanya kasihan. Mungkin itu inti tulisanku sekarang.

4 pemikiran pada “Malam Minggu Jl Pemuda

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s