Hitam Pekat

Hitam. Semua suci sempurna hilang. Awalnya memang tak nampak, tapi tak ada bau yang tak tercium kan? Perlahan aku kelam. Dirundung kesedihan. Berkelanjutan. Semua asa, harapan yang menebar kebaikan malah sekarang jadi absurd. Tidak terdefinisi. Kemanakah putihku yang dulu? Kalau kau tidak kembali, setidaknya jangan biarkan abu-abuku menjadi hitam. Apalagi sampai pekat. Oh aku lupa, kini aku sempurna menghitam. Sempurna pekat.

Ibarat sebuah lukisan indah nan sempurna, namun penuh dengan aroma kebusukan. Tentu saja baunya lebih menyengat daripada terasi. Apalagi kentut. Menjijikkan bukan? Aku tau itu. Keindahan lukisanpun memudar, malah sempurna hilang. Hanya karena bau. Tiga huruf absurd yang memang sejatinya memiliki berbagai keterikatan makna. Keambiguan bau.

Hey, tapi ini kan aku. Jangan urus si bau lagi. Urus saja dirimu dulu. Tak terurus. Tak becus.

2 pemikiran pada “Hitam Pekat

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s