Menangis bukan Manja

Melakukan dua kata kerja sekaligus memang ‘terlihat’ menyenangkan dan efisien. Iya, ‘terlihat’. Semisal, mendengar sambil menulis. Berbicara sambil menyambi mengerjakan pr. Efisien bukan? Tapi beda dengan salah satu kata kerja yang satu ini. Menangis.

Aku pernah, makan sambil nangis. tidur sambil nangis, ngetik sambil nangis, di kamar mandi sambil nangis. Entahlah sudah berapa kali aku melakukan hal bodoh seperti itu. Bodoh? Iya, tapi kalau emang bisa bikin hati kita yang tadinya bledos bludak ngga karuan jadi agak ademan kan ngga masalah. Terserah, kalau emang ini satu-satunya cara yang paling efisien sih harusnya ngga boleh ada yang ngelarang. Seharusnya. Kenyataannya sih lain, kamu bisa dibilang cengeng, manja, sok sedih, sok melo, cari perhatian, dan sebagainya. Bete.

Aneh. Mereka yang suka ngelarang kita untuk nangis itu aneh. Emang kamu ngga pernah nangis? Kamu robot ya? Atau hatimu sudah terlalu keras kali ya? Kasihan. Yang jelas, nangis itu bukan suatu kelemahan yang harus dihilangkan. Hey, nangis itu dibutuhkan! Kalau ngga ada tangisan, kita ngga bakal bisa hidup sehat.

Satu lagi, kamu menangis itu bukan karena kamu manja. Entah kenapa aku benci dibilang manja akhir-akhir ini. Pffft.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s