We are Social, Problem?

Iya, aku anak IPS bukan IPA. Tak percaya? Terserahlah. Hey, kenapa banyak sekali orang yang terkaget-kaget setelah mengetahui kalau aku masuk IPS. Temen, guru dari tk nyampe smp heran. Saudara-saudara juga. Emang apa yang salah sih? Ngga ada kan? Huh.

Mau IPA kek, mau IPS kek, kan ngga ada bedanya? Iya  to? Lha wong sama-sama jurusan kok. Kenapa heran? Oh aku tau. Anak IPS dicap sebagai anak cabutan, tukang onar, tukang telat. Iya kan? Ternyata gampang sekali kalian dipengaruhi gosip-gosip memuakkan yang sama sekali udah ngga mempan nembus gendang telinga kami lagi. Terus saja cap kami begitu. Anak sosial yang kuper, sok tau, ber-image jelek. Terus ejek kami, toh kami ngga peduli.

Kalau dipikir-pikir, jadi anak IPS itu anugerah terindah dalam hidupku. Why? Karena aku merasa aku jadi lebih hidup di kelas IPS. Beda dari kelas x dulu. Sesimpel itu. Yup.

For your information ajalah ya: Aku masuk IPS bukan karena nilaiku ngga sanggup untuk masuk IPA. Aku masuk IPS murni dari keinginanku sendiri. Awalnya sih sempet nge-down karena ternyata di sekolahku ngga ada jurusan bahasa. Iya, tadinya aku mau masuk bahasa. Dan akhirnya, setelah aku sholat istikhoroh Allah memberikanku jawaban. Itu jawaban terbaik. Orangtua juga sama sekali ngga keberatan waktu aku cerita. Oke, aku diberi kebebasan memilih yang benar-benar bebas. Dengan yakin, aku pilih jurusan IPS.

Alhamdulillah, hampir setahun jadi anak IPS rasanya bener-bener bahagia banget. Hajar yang dulu sedikit demi sedikit kembali bangkit. Memang sih awalnya sulit, tapi dinikmati aja deh lika-likunya. Peran dari ke-25 temen sekelasku juga ngga kalah penting. Mereka bener-bener temen yang luar biasa. Semoga keakraban kita longlast ya cemans 🙂

Ohiya, jadi terngiang sama salah satu cerita inspiratif dari kakak kelas rohis yang pinteeeer banget. Sebut saja mas fulan. Jadi gini, waktu kami -aku, temanku, mas fulan- sedang asyik mengoceh tiba-tiba mas fulan nyeletuk, “kalian tau ngga apa bedanya anak IPS sama anak IPA?” Aku yang sewaktu itu sedang malas berpikir menggeleng, namun temanku menjawab tapi aku tak begitu memperhatikannya. Selang beberapa saat temanku menyerah, akhirnya mas fulan memberi kami jawabannya. “semisal ada satu soal fisika yang rumiiiit banget dan mengharuskan kita untuk mengerjakannya secepat mungkin. Kira-kira siapa yang bakal menang? Anak IPA atau anak IPS?”. “Ya jelas anak IPA lah mas, lha wong soal fisika kok”, jawabku sambil manyun. Mas fulan tertawa, lalu berkata, “eits belum tentu lho. Sini biar kujelasin. Untuk anak IPA, ngerjain satu soal fisika rumit paling ngga butuh waktu 10-15 menit. Nah ini keunggulannya anak IPS, kamu punya otak yang cerdik. Mudah saja, kamu cukup bilang, “dalam waktu 5 menit saya akan mencari 3 orang yang bisa menyelesaikan soal ini”, beres kan?”.

Sejenak aku tercenung. Kemudian aku tersenyum. Benar-benar cerdas!

Well, mungkin kurang lebih percakapannya seperti itu. Kalau ngga salah waktu ramadhan. Mungkin. Makasih banyak mas fulan 🙂

Malamnya, aku langsung menulis di dinding kamarku. Aku memang suka mencoret-coret dinding kamarku sendiri, hehe.

“liat 10 tahun lagi, siapa yang lebih dulu sukses?”

-we are social, problem?-

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s