Fiksi.

“Alkisah, pada suatu masa, hiduplah seorang gadis remaja berwajah jelita nan cantik. Sayangnya, tak pernah sekalipun ia tersenyum. Satu hal yang membuatnya begitu, karena ia sangat gendut. Lihatlah! Ketika ia berlari, gelambir lemaknya saling beradu membentuk irama. Membuatnya terlihat semakin ‘cantik’. Sampai-sampai membuat lelaki manapun yang datang menghampirinya bergidik ngeri. Mereka -para lelaki- merasa dibodohi dengan foto 3×4 gadis berparas menawan dengan gelambir yang juga tak kalah ‘menawannya’. Ya, mungkin karena hanya wajah si gadis saja yang diperlihatkan. Bukan keseluruhan tubuhnya. Tak akan ada yang mau menolak berkenalan dengan gadis berparas menawan. Hey! Ini abad 20, bung! Lupakan soal paras kalau postur tubuh saja seperti angka nol. Pantas saja. Alhasil, si gadis belum juga mendapatkan tambatan hatinya. Berlabuh saja belum ada yang mau. Silih hari berganti, si gadis semakin frustasi.

Hingga suatu hari. Datanglah seorang pandai besi. Sengaja didatangkan maksudnya. Tentu saja si gadis yang mengundangnya. Konon kabarnya, si pandai besi itu hebat bukan main. Tak pernah ada pelanggan yang komplain padanya. Sungguh, ia sangatlah mahir. Si pandai besi diperintahkan untuk membuat sesuatu yang dapat membuatnya tersenyum. Dengan tangkasnya, si pandai besi membuat sebuah cermin. “satu hari langsung jadi”, itulah prinsip kerjanya. Selesai sudah tanggungan si pandai besi. Kemudian ia pergi.

Si gadis yang sudah amat sangat penasaran akhirnya dengan tak sabar ia membuka kain penutupnya. Dan lihatlah! Sebuah cermin berukuran sedang dengan ukiran khas jepara di tiap sisinya. Tak banyak membuang waktu, si gadis langsung bercermin di depan cermin ukiran itu. Dan ajaib! Seketika si gadis merekahkan senyumnya. Tiap detik bertambah semili. Sekarang, ia sempurna memamerkan seluruh giginya saking senangnya.

Coba tebak, apa yang membuatnya bisa tersenyum? Mudah saja, karena saat ia bercermin di cermin ukiran itu, maka tampaklah berubah tubuhnya. Menyusut tiga kali lipat. Membuatnya terlihat amat sangat mempesona. Membuat ia betah berlama-lama bercermin. Lupa makan, lupa mandi, lupa semuanya. Lebih tepatnya, lupakan saja semuanya.

Tak sampai dua hari, si gadis mati. Ia mati dalam bahagia fiksinya.”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s