Kemarin dan Semalam

Kemarin tanggal merah. Aku bersama abah, kakak-adikku, saudara sepupu punya agenda untuk berenang. Sekitar habis dhuhur kami berangkat. Ber-tiga belas, dua mobil. Awalnya aku kira bakal mengasyikkan, tapi ternyata tak seperti yang ku bayangkan. Memang sih disana asyik, banyak wahana-wahana yang seru. Tapi, ada suatu kejadian yang bikin aku unmood. Iya, aku unmood setelah aku tersesat. Awalnya kami memang berenang bersama-sama, tapi mungkin karena saudara-saudaraku yang lain terlalu asyik akhirnya kami terpisah. Tinggallah aku, adikku yang paling kecil, dan adik sepupuku yang paling kecil. Kami ber-tiga, terpisah dengan mereka yang ber-sepuluh. Seketika aku bingung, juga takut. Pada akhirnya aku tak berani untuk melepaskan gandengan tanganku dari kedua adikku. Mereka -kedua adikku- tetap asyik dengan dunianya. Tetap ceria, tetap bermain. Aku yang cemas, aku yang khawatir. Duh.

Tak sampai tiga puluh menit, untunglah kakakku sadar kalau jumlah pasukannya ngga lengkap. Buru-buru kakakku mencariku. Untungnya saja aku belum berpindah tempat. Akhirnya, kami dipertemukan kembali. Padahal hampir saja aku menangis, hehe. Ku tunjukkan saja wajah kecewaku ke kakakku, kakakku cuma cengengesan. “Udah gede kok ya masih bisa aja tersesat”, mungkin itu pikir kakakku waktu lagi cengengesan. Dasar.

Malamnya, karena terlalu lelah, aku ketiduran setelah sampai rumah. Kira-kira sebelum adzan isya. Iya, aku tidur sebelum aku sholat isya, hehe. Luckily, aku bangun jam setengah dua belas. Buru-buru aku menyadarkan diri. Ke kamar mandi, buang air kecil, wudhu. Setelah itu aku sholat, matikan lampu kamar, kembali ke kasur. Dan, tiba-tiba kedua tanganku dingin. Dingin sekali. Jantungku seketika berdegup lebih kencang. Benar-benar bukan perasaan yang mengenakkan. Seketika ada yang terlintas dalam pikirku, ke-ma-ti-an. Bayangkan saja, kamu sedang di dalam kamar sendirian, gelap gulita, dan badanmu seketika menjadi dingin, jantungmu berdegup lebih kencang, dan ke-ma-ti-an tiba-tiba terlintas dalam pikirmu. Mengerikan bukan? Akhirnya aku coba untuk menenangkan diri dengan membaca doa sebelum tidur, membaca surat-surat pendek, dan mengatur napasku. Well, ternyata masih belum membaik. Akhirnya aku putuskan untuk membaca al-ma’tsurat. Masih belum baik juga. Kubaca ulang lagi al-ma’tsuratnya. Barulah aku bisa tenang, lalu kembali tidur.

Paginya, aku beruntung aku masih diberi kesempatan untuk hidup. Tapi mengingat kejadian semalam, aku kembali takut dan terngiang-ngiang. Mungkin ini salah satu cara Allah untuk menyadarkanku yang akhir-akhir ini mulai jauh dariNya. Apakah kalian pernah menglaminya juga? Kalau iya, berarti aku tidak sendirian.

Yang kuingat semalam tadi, “seenggaknya kalau aku memang mau meninggal sekarang, aku meninggal di hari yang baik. Hari jumat. Tapi aku sama sekali belum siap dengan ke-ma-ti-an. Walau memang harinya baik, tapi amalanku kan masih jauh dari kata baik. Aku takut. Teramat takut.”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s