Tokek.

Tokek, tokek, tokek.

Dulu hampir tiap malam aku pasti mendengar suara seperti itu. Suara tokek yang sudah lama suka bersembunyi di kolam ikan belakang rumah. Suaranya menggema sampai ke dalam rumah, bahkan masih terdengar jelas di kamarku. Dulu, si tokek pernah menampakkan dirinya sekali dua kali. Warnanya hijau kecoklatan, tubuhnya besar. Kata Umi kalau dijual harganya pasti mahal. Tapi tentu saja, dirumah tak akan ada yang mau menangkapnya. Melihat dia muncul saja adik-adikku geger seketika. Jujur saja, aku juga geli melihat warna tubuh tokek itu.

Eh, tapi semenjak ada suara tokek seperti itu tiap malam, aku jadi punya hiburan baru. Seperti biasa, untuk ngerjain adik-adikku, hehe. Simpel sih hiburannya. Jadi, setiap ada suara tokek pertama aku bilang, “Kholid, Nisa, Sarah jelek”. Kalau udah muncul suara tokek yang kedua, “Kholid, Nisa, Sarah bagus”. Sampai suara tokek yang terakhir. Nah biasanya kalau si tokek berhenti bertokek -duh apa ya bahasa yang cocok- di bagian yang, “Kholid, Nisa, Sarah jelek” adik-adikku langsung pada mutung. Beda lagi kalau si tokek berhenti bertokek di bagian yang, “Kholid, Nisa, Sarah bagus” adik-adikku sontak ketawa sambil mengejek. Puas karena kakaknya kalah. Senjata makan tuan deh -_-

Oh iya, kadang aku juga iseng jadiin suara tokek untuk hiburanku sendiri. Jadi kalau semisal tokeknya lagi bertokek di jam jam aku mau tidur, aku suka ngelakuin hal ini.

“Tokek” hidup!
“Tokek” mati!
“Tokek” hidup!
“Tokek” mati!
“Tokek” hidup!
“Tokek”

Aku diam. Tak berani melanjutkan. Aku jadi tak bisa tidur

Padahal kan cuma suara tokek!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s