Si Sendu

Alkisah, hiduplah seorang kurcaci yang selalu sendiri. Tidak seperti teman-temannya yang lain, mereka semua berkoloni. Namanya Sendu.

Sendu selalu bermuka masam. Mungkin itu yang membuat teman-teman Sendu menjauhi Sendu. Lebih tepatnya benci, karena Sendu tak pernah mau diajak bicara. Sepatah kata-pun belum pernah terucap dari mulut mungilnya. Entah apa yang membuatnya begitu, yang jelas, tak ada satupun dari teman Sendu yang mengetahuinya. Boro-boro, melihat Sendu berbicara saja tidak pernah. Alhasil, si Sendu sempurna menjadi anti-sosial.

Keseharian Sendu? Tak jauh-jauh dari arti namanya. Setiap pagi, Sendu selalu melamun. Mengasingkan diri dari keramaian. Kadang sampai siang, tak jarang juga sampai petang. Duduk, dengan tatapan mata yang menyedihkan.  Pulangnya, Sendu berjalan dengan gontai di jalan setapak. Dengan mata yang sayu dan sembab. Lihatlah, kantung matanya semakin hari semakin melebar dan menghitam. Bola matanya sempurna merah. Hidungnya tak pernah berhenti berair. Sehingga tak ada satupun kurcaci yang mau menatap wajah Sendu, menoleh saja belum tentu ada yang mau.

Suatu hari, datanglah seorang putri jelita nan baik hati. Tak sengaja datang lebih tepatnya. Rupanya ia tersesat saat ingin kembali ke istana. Namanya putri Ceria. Walaupun tersesat, putri Ceria tak pernah berhenti untuk selalu menyunggingkan senyumnya. Seperti namanya, putri Ceria memang selalu ceria. Hingga siang itu, putri Ceria menemukan sebuah rumah pohon sederhana juga unik di dekat sungai. Putri Ceria memutuskan untuk rehat sejenak. Namun, karena terlalu kelelahan, tak sengaja putri Ceria tertidur di bawah rumah pohon tersebut.

Petang pun datang. Saat Sendu sedang berjalan gontai menuju rumahnya. Saat putri Ceria sedang merubah posisi tidurnya dan sedikit membuka matanya sambil menguap panjang. Saat itulah, keajaiban itu muncul.

Putri Ceria yang merasa bahwa si pemilik rumah hampir tiba segera menyadarkan dirinya. Mengucek matanya. Membetulkan gaunnya. Merapikan rambutnya. Drap, drap, drap. Bunyi langkah terhenti. Sepersekian detik kemudian, Sendu dan putri Ceria saling berhadapan. Mata mereka bertemu. Dan benar saja, seketika keajaiban itu hadir di tengah-tengah mereka.

Berawal dari keajaiban itu, si Sendu tak pernah lagi terlihat sendu.

 

Smile, you, dont cry 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s