Berbilang Tak Berbilang

Nyatanya, sekarang, kamu lebih peka pada yang tak berbilang. Padahal doa dan harapan-harapan baik lebih banyak berasal dari yang berbilang. Aku heran, bukankah aksi yang baik akan mendapatkan reaksi yang baik? Aku nggak salah kan?

Bukannya aku tak suka, bukannya aku tak ikhlas. Hanya saja, aku rindu. Aku rindu masa-masa seribu delapan ratus dua puluh lima hari yang lalu, juga sebelum-sebelumnya. Aku rindu saat mengingat kamu memeluk erat tubuhku dengan kasih sayangmu. Aku rindu bermain petasan dan kelinci denganmu. Aku rindu digandeng olehmu.

Apakah aku salah jika aku merindu? Aku tak ingin ego, tapi aku merindu.

Sekarang, kamupun lebih sibuk mengurus yang tak berbilang ketimbang yang berbilang. Aku paham, yang tak berbilang jauh lebih membutuhkanmu. Tapi disini, selalu ada berbilang yang selalu merindukanmu. Juga setia, mendoakanmu.

Aku rindu dinginmu yang menghangatkanku. Dulu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s