Nusa

Kemarin jum’at aku mendengarkan dari tokohnya langsung, sebuah kisah yang mungkin akan membuatmu merasa bersalah. Atas apa? simak dulu pengalamanku.

Jumat, 1 November 2013 pukul 14.35 WIB dipertigaan Supriyadi. Aku yang sendirian waktu itu berniat ke Virgin untuk beli kue pelangi buat adikku yang paling kecil, Sarah. Setelah naik angkot oren dari gang SMA Negeri 2 Semarang yang menuju Simpang Lima, di pertigaan itu aku turun, menyebrang dan menunggu angkot yang menuju Tlogosari. Ketika menunggu inilah kisah dimulai. Mungkin karena terlihat suwung menunggu sendirian, seorang anak laki-laki menghampiriku, sambil membawa koran di tangan kirinya. Tangan kanannya kecil, terlihat menggantung begitu saja
dilengannya. Cacat, jelas. Anak itu menawarkan Koran padaku, aku menggeleng sambil tersenyum. Lalu melanjutkan
kesibukanku menunggu angkot. Sibuk? Jelas tidak. Sedangkan anak itu terus berdiri di sebelahku, menunggu lampu merah menyala. Karena tidak ada kerjaan aku iseng bertanya padanya. Dari sinilah aku betah berlama-lama mendengarkan kisahnya.

Namanya Nusa. Dia bersekolah di SMPN 2 Semarang. Jika kau orang Semarang sepertiku, mungkin kau akan bingung bagaimana anak seperti dia bisa sekolah di sekolah favorit di kota besar ini. Hal itulah yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan dari mulutku. Dia menunjuk sepeda merah dibelakangku. Kendaraan pribadinya, sebuah hadiah dari seseorang katanya. Aku salah mengira rumahnya dekat dari sini. Bahkan Nusa menyabut nama tempat yang asing di telingaku, Tegojlogo. Ternyata, tempat itu terletak di pelosok Mranggen, berada di luar kota Semarang. Saat itu aku hanya membayangkan tempat itu begitu jauh dari situ, dan dugaanku yang ini benar ternyata. Jika kau mengenalku dengan baik, kau pasti tahu bagaimana reaksiku ketika mendengar sebuah tempat asing. Jujur, ribuan pertanyaan bertubi-tubi mengalir di darahku, lebay. Aku takut otakku nggonduk lagi, karena itu ak. bertanya langsung padanya bagaimana Tegojlogo itu. Rumahnya jauh dari kebisingan kota. Saat dia tidur pun musik pengiringnya adalah suara jangkrik, meski sesekali tikus sawah mencicit. Dia mengaku rumahnya sangat mewah. Jelas aku tidak percaya, tapi aku memilih diam. Ternyata memang mewah; mepet sawah. Dari sawah di dekat rumahnya itulah ayahnya
menggantungkan diri pada hasil tanam. Padi yang ayahnya rawat bahkan tidak tumbuh di tanahnya sendiri, tapi di tanah orang. Karena rumahnya yang mewah, ayahnya diberi kepercayaan pemilik sawah untukk menggarapnya. Omong-omong tentang ayah, aku juga penasaran tentang ibunya. Jujur, aku merasa bersalah bertanya tentang itu ketika melihat matanya yang seketika sayu. Nusa tidak pernah mengenal sosok ibunya. Beliau menutup mata persis ketika Nusa pertama kali membuka mata. Setelah menghembuskan nafas, Nusa menegarkan diri bercerita padaku.

Saat itu daerah tempatnya lahir terkena gempa. Ayahnya tidak sedang bersama Nusa yang masih berada dalam kandungan ibunya. Saat gemp. berhenti, ayahnya terbangun dalam keadaan tangan yang remuk tertindih. Setelah melewati satu malam penuh, karena tak kuasa menahan sakit, ayah Nusa mengamputasi tangannya sendiri, langsung berlari menuju posko terdekat. Di tempat itulah tangannya diobati dan Nusa pertama kali bertemu ayahnya. Saat itu dokter
berkata bahwa Nusa amat beruntung, dokter berhasil mengeluarkannya dari bangkai ibunya.

Speechless wajahku berkata. Nusa malah tertawa, berkata bahwa ekspresiku terlampau aneh. Mungkin lebih aneh dibanding kisahnya menjadi siswa Spero. Cerdas? Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Hanya rajin, katanya. ‘Hanya’? aku pikir dia hanya merendah. Bisa ka. buktikan dengan kisah lanjutnya berikut ini.

Nusa bersekolah di SD dekat rumahnya, 15 menit berjalan kaki setiap hari. Sejak berusia 5 tahun, Nusa sudah biasa dibawa ayahnya turut bertani. Sementara masa balitanya, dia habiskan bersama bibinya. Di tempat bibinya itu pula, dia terbiasa membantu memasak porsi besar untuk korban gempa lainnya.

“Apa yang ayahmu lakukan setelah melihatmu?” tanyaku kepo.
“Ayah bilang Ayah terkejut melihat tanganku yang cacat”
“Eh, maksudku, bagaimana ceritanya kamu dipindahtangankan dari bibimu lalu ke ayahmu?”
“Ooh, hhe,” dia tersenyum nggonduk .
“Aku dibesarkan di posko bersama bayi-bayi yatim lainnya. Ketika berbilang lima tahun lamanya, ayah membawaku pergi ke sebuah tempat yang kemudian aku sebut rumah, rumah yang kutempati sampai sekarang. Oya, dia tidak benar-benar bibiku, hanya wanita dewasa yang kami panggil bibi.” Aku ber-O mengerti. Nusa tersenyum, aku menyuruhnya melanjutkan ceritanya.

Setiap pulang sekolah, Nusa memasak, lalu membawa masakannya ke sawah. Di saung reyot di tengah sawah, setiap siang Nusa makan bersama ayahnya, baru kemudian ayahnya melanjutkan bertani dan Nusa membuka buku. Entah mengulang pelajaran, mengerjakan PR darigurunya atau membaca buku pinjaman. Sore menjelang, keduanya berjalan pulang. Kebiasaan kecil lainnya, seusai sholat Magrib di surau, dia belajar mengaji bersama teman-teman seusianya sampai tiba waktu Isya.

“Kau rajin sekali belajar,” komentarku.
“Tidak juga, aku sering membolos ketika musim panen tiba, karena aku harus membantu Ayah
menuai padi.”

Masa kecil yang menakjubkan menurutku, bagaimana denganmu? Apa yang sudah kamu lakukan ketika kamu kecil? Ini yang aku maksud dengan merasa bersalah itu. Sudahlah, itu memang sudah lewat mungkin. Niatkan saja kau akan mengajari anak-anak kecil lainnya untuk meniru kebiasaan Nusa ini. Sampai dia bisa meraih mimpinya melanjutkan sekolah di kota. Yang tak lain tidak hanya bersekolah di kota, tapi di sekolah terbaik di kota itu.

“Bagaimana kau bisa tahu spero? Bukankah kau bilang rumahmu ada di desa yang jauh dari sini?”

Saat itu Nusa duduk di bangku kelas 6 SD. Saat itu pula pertama kali desanya didatangi kakak-kakak mahasiswa KKN. Mereka memberi penyuluhan macam-macam di balai desa, membuka posko kesehatan gratis, bahkan sesekali membantu ayah menanam padi. Tangan mulus nan lentik milik kak Ucil, begitu lelah mencangkul. Hingga dia mengistirahatkan tubuhnya dan duduk menemani Nusa belajar. Terlalu asik menemaninya, menjawab pertanyaan-pertanyaan dan membuatkan soal untuk Nusa, kak Ucil tidak lagi membantu ayah bertani. Sementara teman-teman satu timnya mencangkul, kak Ucil malah menemani Nusa belajar. “Aku tidak benar-benar tahu namanya. Hanya meniru panggilan teman-temannya, lalu aku tambahi kata kak di depannya,” imbuh Nusa.

Kak Ucil sangat sering memuji kecerdasan Nusa. Dari kak Ucil-lah dia tahu tentang sekolah-sekolah favorit di kota ini. Sampai Nusa benar-benar diterima di SMP favorit itu, semuanya yang mengurus adalah kak Ucil. Tidak sampai sebulan dia bersekolah di kota, kak Ucil pamit padanya karena tidak lagi akan tinggal di Semarang. Kak Ucil harus bekerja di Jakarta sana, di kantor Pertamina.

Hari itu delapan belas bulan yang lalu. Di rumah kayunya yang mewah, kak Ucil datang bersama seorang laki-laki dewasa, tampan. Diperkenalkan pria itu teman kak Ucil. Teman? Nusa yang saat itu berumur 12 tahun bahkan paham mereka tidak benar-benar hanya teman. Mereka berdua datang membawa sepeda phoenix merah. Sambil menangis kak Ucil memeluknya, berbisik padanya.

“Tuliskan keinginanmu yang paling tulus, Nusa. Jadikan itu cita-cita untuk bangsa kita. Untuk
agamamu, juga sebagai hadiah untuk ibumu di surga. Berjanjilah pada dirimu sendiri.”

Nusa mengatakan kalimat itu dengan sempurna menatap mataku. Aku seakan bisa mendengar isakan kak Ucil yang membisiki Nusa saat itu. Mataku berair, terharu. Nusa tertawa lagi, meledekku berjiwa hello kitty, menye-menye. Aku menyeka air mataku. Meminta maaf padanya sudah menghabiskan waktunya untuk berjualan. Nusa menggeleng pelan, justru berterima kasih padaku, seperti melihat sosok kak Ucil di diriku katanya.

“Lalu, selama satu tahun ini, apa yang kamu lakukan?” Keterlaluan ya? Aku terlalu menginterogasinya. Bahkan aku menutup mulutku ketika aku menyadari kesalahan pada kalimatku. Memangnya siapa aku? Begitu berani bertanya tentang hidupnya. Tak dinyana, dengan senang hati Nusa mendongeng lagi untukku.

Sejak kak Ucil pergi, Nusa harus berangkat sekolah sendiri. Jalan satu-satunya dengan sepeda itu. Tapi tidak dari rumah hingga sekolah Nusa bersepeda. Nusa menuntun sepedanya memotong jalan melalui pematang sawah. Lalu menggenjot hingga di terminal Penggaron. Kemudian naik angkot oren bersama phoenix merah sampai di sekolahnya. Sepulang sekolah, Nusa mengayuh lagi ke bandar koran, lalu menuju tempatnya berjualan di lampu merah. Tidak tentu tempatnya berdagang, beruntung saja hari ini dia menjual di pertigaan ini lalu bertemu denganku.

Hapeku bergetar. Telfon masuk dari ibuku, memintaku segera pulang. Aku baru sadar sudah satu jam lebih kami berbincang. 16.05. Aku pamit padanya hendak pulang, membatalkan niatku membeli rainbow cake untuk si kecil Sarah. Aku meminta maaf telah menyita waktunya yang mungkin juga menyita rejekinya. Namun Nusa menampik, dikatakannya tidak tentu penghasilannya setiap hari. Dia juga berniat pulang karena langit senja beranjak menyelimuti langit. Begitu angkot jurusan penggaron berhenti di depan kami, kami duduk bersebelahan di dalamnya, bersama phoenix merah. Seluruh uangku untuk kubelikan rainbow cake, kuberikan padanya untuk memborong korannya. Nusa tidak menolak. Berterimakasih, lalu bercerita lagi. Esok-esok dia tidak lagi di Semarang. Dia dan ayahnya akan segera pindah ke Bandung, ke tempat istri baru ayahnya menunggu, calon ibu tirinya.

Jujur, aku masih ingin bertanya banyak hal padanya. Termasuk bagaimana ayahnya bisa mendapat calon istri orang Bandung. Berdo’a saja besok besok dipertemukan lagi. Menurutku, kisahnya menarik, seperti tokoh rekaan di novel-
novel fiksi. Kau tahu apa yang aku sesali ketika aku turun dari angkot di depan TKIT Harapan Bunda? Kenapa saat itu tidak kepikiran untuk mengambil gambarnya? Mungkin agar kalian lebih percaya dengan ceritaku. Tidak masalah kau percaya atau tidak. Yang masalah itu jika kau tidak memetik apapun dari kisah di atas. Jangan diam saja, lakukan sesuatu! Bahkan tangannya tidak sempurna tapi semangat belajarnya, Subhanallaah.

Pikirkan lagi kau gunakan untuk apa tanganmu yang utuh itu.

:’)

-Atikah Iffah Syakira, pelajar SMAN 2 Semarang kelas xii (teman akrab semasa TK).
Cerita ini diambil dari catatan di facebook si pemilik, Atikah. Saya sudah mendapat izin untuk membaginya di blog. 😀

9 pemikiran pada “Nusa

    • Ternyata itu memang fiksi, ternyata itu memang bukan aku yang nulis, ternyata memang bukan juga aku yang ngalamin. Maaf ya sudah bikin kamu kecewa, heuheu ._.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s