17:10

Seharusnya nggak sesedih ini. Iya, seharusnya.

Setahun yang lalu aku menangis, bukan sedih melainkan bahagia. Aku bahagia sekali. Orang tuaku sempurna mengejutkanku dengan hadiah yang sudah lama aku impikan. Saudara-saudaraku, mereka menyalamiku. Ikut bahagia melihat kakaknya bahagia. Teman-temanku apalagi, ada yang baru H-1 udah nemplokin tepung di wajahku, Novita. Kemudian di hari H, lagi-lagi Novita memberikanku kue shaun the seep. Lucu dan romantis sekali. Sayangnya, waktu itu Novita lagi puasa, jadi nggak bisa nyuapin, qiqiqik. Juga teman-temanku yang lain, mulai dari teman TK, SD, SMP, dan tentu saja SMA. Kalian luar biasa!

Ada satu lagi ucapan dari seseorang, yang sungguh benar-benar membuatku tercekat kemudian menangis. Ucapan yang benar-benar menggetarkan. Tidak, aku tidak sedang bersedih ketika itu. Aku bahagia. Sangat bahagia. Rasanya seperti sedang, bermimpi. Aku tak mengada-ada, tapi sungguh itu yang kurasakan.

Dan sekarang. Oke, tepat hari ini aku dilahirkan 17 tahun yang lalu. Secara umur, aku sudah bisa dibilang dewasa kan ya? Hahaha, tapi aku merasa belum pantas menyandang predikat dewasa. Memang nggak ada pantas-pantasnya kali, Jar!

Well, tahun ini berbeda. Kali ini tak ada ucapan dari kedua orang tua. Ah, bagiku tak masalah. Ini sudah yang keempat kalinya mereka lupa. Aku maklum, saudaraku ada lima, wajar kalau umi abah lupa. Lagian, aku juga tidak mengingatkan umi abah. Doa dari umi abah sudah jaaaauuuhhh lebih dari cukup sebagai kado terindah. Ditambah KTP dan SIM tentunya, hehehe. Kalau umi abah lupa ya otomatis saudara-saudaraku yang lain lupa. Ah kecuali Umar, dia nggak pernah lupa kalau ada saudaranya yang ulang tahun. Berhubung Umar lagi diasrama, jadi udah nggak ada yang ngingetin lagi, kekeke. Kalau teman-teman? Kali ini hanya teman-teman SMA saja yang mengucapkan. Aih wajar, akupun juga sudah jarang mengucapkan ke teman-teman lama, hehehe. Ditambah, sudah ku nonaktifkan peringatan di facebook. Sengaja sih, hahaha.

Lalu, kenapa aku sedih? Sederhana saja, aku sedang rindu. Rindu dengan seseorang yang mengucapkanku terakhir kalinya, tahun lalu. Aku nggak butuh ucapan darinya sekarang. Sama sekali. Aku hanya rindu. Ya, rindu yang tak merindu. Memang seharusnya nggak boleh sesedih ini, Jar!

Selamat 17 tahun, Hajar!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s