Bedah Buku “Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin”

Jadi gini, kemarin minggu saya pergi ke Balaikota. Untuk apa? Ada acara bedah buku Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin bersama sang penulis, Bang Darwis. Rencana awalnya sih saya pergi bersama ketiga teman saya, tapi berhubung ketiga teman saya sedang galau jurusan, akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti psikotes dan meninggalkan saya seorang diri, tapi tak apa, toh pada akhirnya di acara tersebut saya dapat teman baru, dua adik kelas.

Acara baru benar-benar dimulai pukul 08.30. Saya sedikit kecewa dengan panitia karena acaranya bisa mundur selama itu (aslinya jam 7). Oke, untungnya saya masih sabar kekeke, pada akhirnya sekitar pukul 09.30 Bang Darwis benar-benar datang dan acara intipun dimulai.

Bang Darwis orangnya asyik, gaya ceritanya khas, suaranya juga sedikit unik. Satu faktanya, ternyata mata Bang Darwis jauh lebih sipit dari yang saya bayangkan selama ini. Bang Darwis pintar bercerita, itu yang bisa saya simpulkan dari cara beliau berbicara. Selama bedah buku berlangsung, novel Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin tidak banyak disinggung. Bang Darwis lebih banyak menyinggung persoalan remaja labil yang hobi galau dan selalu gagal move on. Ohiya, Bang Darwis juga mengadakan tes lucu-lucuan untuk mengetes kegalauan kita. Hasilnya? Saya divonis galau berat, hahaha. Ah, kan cuma lucu-lucuan, jadi nggak usah dipikirin.

Nah, ada yang menarik nih soal jatuh cinta yang benar menurut Bang Darwis. Ada 5 kaki, yakni sebagai berikut:

1. Kekuatan “tidak bilang”
Yap, kalau sedang jatuh cinta, diam saja. Jangan bilang-bilang ke orang yang kamu suka. Karena apa? Kalau sudah bilang, lalu ada skenario diterima atau ditolak, lalu? Cerita selesai. Udah gitu aja, nggak ada menarik-menariknya kan?

2. Hakikat menunggu
Ada 3 skenario disini. Skenario pertama, kamu menunggu sambil mengeluh namun pada akhirnya orang yang ditunggu kembali padamu. Skenario kedua, kamu hanya diam menunggu, tidak melakukan apapun sampai pada akhirnya orang yang ditunggu kembali padamu. Skenario terakhir, kamu menunggu sambil melakukan banyak kegiatan yang bermanfaat sampai akhirnya orang yang ditunggu kembali padamu. Menurut kalian, skenario mana yang dilakukan oleh orang-orang waras? Tentu saja skenario pertama. Karena Tania, tokoh utama di novel Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin hanyalah tokoh fiksi, jadi dia memilih skenario yang ketiga. Otomatis Tania tidak waras ya? Hahahaha. Kesimpulannya: seenggaknya kalau cinta kita bertepuk sebelah tangan, kita nggak bener-bener wasting time, karena banyak hal yang dilakukan dan hasil yang diperoleh ketika kita menunggu.

3. Hakikat berharap
Ada 3 point; pertama, kita tidak tau mana yang baik dan mana yang buruk. Kedua, bukan hasil melainkan proses. Karena mencintai itu selalu bermakna saat proses. Ketiga, selalu berharap pada yang Maha tempat semua pengharapan bermula. That is the best point.

4. Wisdom “pergi”
Karena kadangkala, dengan pergi kita bisa tahu itu cinta sejati atau bukan. Atau, tinggalkan saja jika tidak ada niat serius. Waktu dan jarak akan membuktikannya, saat orang yang ditunggu benar-benar kembali, maka itulah cinta sejati.

5. Hakikat memiliki
Pertama, kehilangan selalu mengajarkan hakikat memiliki. Kedua, hakikat memiliki pada akhirnya selalu mengajarkan bahwa pada akhirnya kita tidak pernah memiliki apapun. Jadi bagaimana akan disebut sebagai kehilangan?

Hm, simpel dan ngena menurut saya.

Setelah Bang Darwis selesai menyampaikan, dimulailah sesi tanya jawab. Karena banyaaaak sekali yang bertanya, saya jadi nggak kedapetan jatah. Tapi nggak papa, pertanyaan dari para peserta juga oke-oke kok.

Setelah sesi tanya jawab, Bang Darwis pamit karena masih ada banyak buku yang belum ditanda tangani. Yeay! Pada akhirnya kelima buku yang saya bawa ada tanda tangannya beliau. :3

Saya senang sekali, karena hari itu pertama kalinya saya bisa bertemu dengan seorang penulis yang bisa membuat mata saya berkaca-kaca untuk yang pertama kalinya saat membaca karyanya.

Sukses terus, bang Darwis “Tere Liye” ๐Ÿ˜€
image

image

*maaf kalau nggak kelihatan, heuheu. Bang Darwis nggak suka dipotret.*

2 pemikiran pada “Bedah Buku “Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s