My Childhood (Part II)

“Abah jangan ngebut-ngebut!”
Kalimat itulah yang sering aku keluhkan ke abah kalau abah sedang mengendarai motornya sambil ngebut. Memang, sejak kecil aku nggak suka sama orang yang suka ngebut kalau naik motor, terutama abah. Dulu, waktu lagi tren-trennya motor laki (itu lho, yang baki isi bensinnya di depan, iya semacam punuk), abah juga punya, kalau nggak salah mereknya beijing. Nah, semenjak abah punya beijing, aku jadi tergila-gila duduk di punuknya, pokoknya semacam daerah kekuasaanku ya di punuknya kalau lagi naik motor. Kak Musa, yang juga suka naik di punuknya akhirnya mengalah, iyalah, kan abang.

Nah, karena kegemaranku ini yang suka naik di punuk tidak sebanding dengan kesukaanku pada kecepatan, timbullah sedikit konflik. Aku mulai suka teriak-teriak kalau abah mulai ngebut, nggak hanya teriak, nangis juga ding. Di sisi lain, abah juga nggak mau kalau nggak ngebut (katanya abah sih, menurutnya yang aku bilang ngebut itu nggak ngebut). Akhirnya, abah punya ide. Abah memutuskan untuk selalu memegang perutku kalau abah lagi ngebut. Dipeluk dari belakang, gitu. Aku nggak tau kenapa, semenjak abah punya cara itu, tiap kali aku mau teriak karena abah ngebut, aku nggak bisa teriak. Rasa takut dan gelipun perlahan memudar. Lama-lama nyaman juga kalau abah ngebut sambil meluk aku, dan pada akhirnya aku nggak takut lagi kalau abah ngebut.

Ya, karena Umar nggak mungkin jadi bayi terus, semenjak Umar jadi balita posisiku tergantikan olehnya. Turun pangkat deh, dari yang tadinya dipeluk, jadi memeluk. Eh tapi enak juga sih duduk sambil bersandar di punggungnya abah, aku jadi bisa ndengerin detak jantungnya, memeluk perutnya abah yang super hangat dan masih kurus.

Begitulah. Masa-masa masih bertiga, Kak Musa, aku, Umar yang masih bayi. Masa-masa masih unyu. Masa-masa masih nggak peduli artinya mengalah. Masa-masa cengma (bonceng lima) naik motor beijing. Masa-masa, yang kurindukan tentunya.

image

2 pemikiran pada “My Childhood (Part II)

  1. PART II BEGINS!
    Udah kayak film ya. Buat bagian selanjutnya mesti nunggu setaon dulu -,-

    Momen2 begini mau nggak mau pasti diinget. Kita bisa lupa kapan pertama kali bisa manjat pohon. Tetapi sulit bisa lupa saat2 manis bersama ayah dan ibu. Untuk sekarang susahlah ya kamu naik ke punuk motor Variomu itu (ya iyalah). Jadi menulis ini adalah pilihan yang bagus untuk bernostalgia. Moga kelak kamu mengendarai motor Beijing juga. Amin.

    • Maklum, berasa penulis handal gitu ada yang menanti-nanti tulisanku #halaahh
      Yak betul, apakah kak fadel pernah mengalami juga masa-masa itu? Naik motor sekeluarga? Kalau pernah, sepertinya memang kita saudaraan 😂😂😂
      Kenapa malah mengendarai, dibonceng dong kak harusnya 😂😂😂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s