Sebut Saja Dia Rekan

Ini tentang seorang teman. Teman tiga tahunku di sekolah menengah. Awal masa orientasi memang kami tidak dekat. Bisa dibilang malah saling tidak mengenal. Aku benar-benar lupa bagaimana pada akhirnya kami bisa dekat. Ya, mungkin karena duduk bersebelahan dengannya selama hampir setahun. Kesan pertama yang kulihat darinya adalah, pendiam, lemah lembut, pemalu, dan alim. Kesan pertama memang kadang berbeda, pada akhirnya aku tahu kalau ternyata dia periang, banyak cerita, perhatian, pendengar yang baik, dan tentu saja alim.

Aku jadi teringat suatu waktu. Pernah saat sedang berkemah aku menjauhinya. Aku jenuh, aku hanya ingin pergi jauh darinya. Aku hanya ingin sendiri. Tapi kalian tahu? Dia terus saja mengajakku berbicara, tersenyum, dan bersikap seperti biasa. Aku yang kadung jenuh menanggapinya dengan cuek. Namun pada akhirnya aku merasa kasihan, lalu aku kembali bersikap seperti biasa. Aku menyesal, sungguh menyesal pernah melakukan hal tersebut kepadanya. Bahkan mungkin dia tidak menyadarinya sampai sekarang kalau aku pernah menjauhinya sekali waktu. Maaf.

Setahun berlalu, pada akhirnya kenaikan kelas kami beda kelas. Tujuan kami berbeda, aku memilih kelas sosial, sedangkan dia alam. Meskipun intensitas bertemu kami berkurang, kami masih dekat. Malah semakin dekat. Karena kami sengaja ikut organisasi yang sama. Pramuka dan rohis. Sehingga hampir setiap hari kami pasti bertemu walau untuk sekedar melambaikan tangan.

Dia berbeda. Dia tahu benar aku seperti apa. Dia, satu-satunya makhluk hidup yang pernah aku jadikan penampung segala keluh-kesahku. Aku bukan tipikal orang yang suka curhat. Aku selalu senang menjadi pendengar yang baik. Tapi berbeda jika aku sedang bersamanya. Aku merasa bebas. Aku merasa aman. Rahasia terbesar dalam hidupku akhirnya bukan hanya aku dan buku harianku yang tahu, tetapi juga dia.

Dia berbeda. Untuk ukuran seorang yang lebih muda kurang lebih setahun dariku, dia dewasa. Pemikirannya sering buatku merasa, sebegitu kekanak-kanakannyakah aku? Itu sebabnya dia sering mengejekku childish. Entah mengapa aku hanya suka diejek childish olehnya. Ya memang karena dia tahu, bukan sok tahu seperti yang lain.

Dia berbeda. Dia tahu bagaimana menempatkan diri menjadi pencerita yang baik dan pendengar yang baik. Dia selalu menghargai ocehan-ocehan sampahku. Dia mendengarkan dengan seksama, bola matanya seolah berkata, aku mendengarkanmu dengan serius. Dia bercerita dengan mimik muka yang jujur, sehingga ketika ada kata yang kurasa tidak sinkron dengan mimiknya, aku memintanya untuk, udah jujur aja.

Dia berbeda. Dia bijaksana. Sedikit menyebalkan memang kalau sudah menggurui. Tapi apa yang dia katakan memang benar adanya. Dan itu untuk kebaikanku juga.

Dia berbeda. Nasihat-nasihatnya memang selalu apa adanya. Memang seringkali menyakitkan, tapi yang menyakitkan itulah yang membuatku sadar kalau aku memang salah.

Dia berbeda. Dia tahu memposisikan dirinya. Dia tahu kapan harus bersenang-senang, kapan harus serius, kapan harus bersikap tegas, dan sebagainya.

Dia berbeda. Dan mungkin dia satu-satunya. Sungguh beruntungnya aku. Seumur hidupku, belum ada teman yang aku kenal seperti dia.

Hei kamu, aku tahu kamu pasti akan membaca segala pujian-pujianku disini. Aku tahu kamu pasti akan tertawa juga terpana. Aku tahu itu.

Hei kamu, tetap menjadi seorang yang aku kenal ya! Jaga kesehatan, jangan suka tidur malam-malam. Jangan kelayapan karena mentang-mentang ngekos dan jauh dari orang tua. Jangan mandi diatas jam 7 malam, nanti rematik. Makan yang banyak biar aku nggak dengar lagi kamu bilang aku kurusan, aku turun 4 kg, dan sebagainya. Jadi seperti yang sekarang aja, karena kamu peluakable banget.

Hei kamu, kalau lagi sedih, jangan sungkan untuk cerita padaku. Aku memang bukan pendengar yang sebaik kamu, tapi setidaknya, kamu butuh teman tertawa untuk menertawakan masalah kamu kan? Aku suka tertawa bersamamu.

Hei kamu, aku kangen.

Dari, rekanmu.

2 pemikiran pada “Sebut Saja Dia Rekan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s