My Childhood (Part III)

IMG_20150213_065202 Membacanya mengingatkan banyak hal tentang masa lalu saya. Saya yang nggak pernah belajar dan selalu senang dapat ranking 12 padahal dari 20 orang sekelas, bagi saya (tapi bukan bagi Abah) itu prestasi. Pernah sekali waktu kalau tidak salah kelas 4 saya mendapat ranking 6 (karena sebelumnya Abah mengiming-imingi akan membelikan sepeda jika saya bisa masuk 5 besar, tapi apa daya akhirnya saya senang-senang saja hanya dibelikan siomay sepulang mengambil rapor).

Saya ingat dulu saya suka bermain sepak bola, posisi saya sebagai kiper. Teman-teman dan kakak saya bilang perempuan memang tugasnya menjaga gawang, bukan untuk menendang bola. Saya juga ingat dulu saya hampir tidak punya teman perempuan karena saya suka memanjat pohon bersama Ayyas dan Furqon, entah sekadar memanjat atau sambil makan siang, tapi di akhir masa SD saya mulai insyaf dan akhirnya punya teman perempuan.

Saya ini usil banget, dulu pernah ngumpetin sepatu teman sampai teman menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Saya juga pernah ngejahilin teman yang akan duduk tapi saya seret kursinya akhirnya teman saya jatuh dan menangis, dan semua teman-teman serta guru-guru sontak memelototi saya (karena kebetulan saya ngusilin teman saya saat gladi bersih wisuda berlangsung ehehe). Saya juga ingat waktu ditanya cita-cita, teman-teman saya banyak yang ingin menjadi dokter, guru, insinyur, dan sebagainya, hanya saya yang menjawab “mau jadi ibu rumah tangga” dan saya nggak tahu kenapa guru saya tertawa saat mendengar jawaban saya, bagi saya ibu rumah tangga adalah pekerjaan. Karena pernah saya tanyakan apa pekerjaan Umi, Umi menjawab demikian.

Saya juga dulu yang terpendek ketiga diantara teman-teman seangkatan, jadi saya sudah biasa diejek kuntetlah, pendeklah, cacinganlah, dan sebagainya. Tapi sekarang? Saya yang paling tinggi lho diantara teman-teman saya yang perempuan.

Banyak lagi yang saya ingat, seperti main banjir di sekolah,  sembunyi ke kamar mandi ketika ada agenda penyuntikan, minum air keran karena haus setelah main dan malas kembali ke kelas untuk ambil air, menemukan uang 2 rupiah di tanah sekolah dan saya gembor-gembor bilang saya sudah menemukan harta karun, marahin teman-teman saya yang nggak suka makan sayur dan memaksa mereka untuk makan, memanjat tembok pembatas sekolah untuk melihat penampakan di gedung tua sebelah sekolah (tapi saya nggak pernah ketemu hantu, tuh), ngumpetin sepatu teman lagi sampai saya dipanggil guru lalu dinasehati dan saya cuma bisa menangis, bertanya serius sekali pada guru tentang keberadaan pensil saya yang tiba-tiba saja menghilang dan sang guru malah tertawa kemudian mengajak yang lain untuk tertawa padahal tidak ada yang lucu. Ternyata guru dan teman-teman saya tertawa karena pensil yang saya cari sedang menempel di telinga saya, kemudian pernah juga dimarahin guru karena saya melempar kertas ke depan ruang kelas dan hampir mengenai kepala sang guru yang sedang mengajar (entah karena motivasi apa, mungkin saya caper) sampai pada akhirnya saya nggak dibolehin ikut pelajaran lalu saya lari ke kamar mandi sambil coret-coret tembok, dan saya dimarahin lagi dan disuruh menghapus coretan-coretannya.

Sebenarnya masih banyak lagi yang saya ingat tapi… huft, kok kayaknya dulu saya nakal banget ya… nggak perlu ditambahin lagi ya catatan-catatan kelam saya dulu di masa Sekolah Dasar. 😀

8 pemikiran pada “My Childhood (Part III)

  1. Kayaknya dibilang catatan-catatan kelam aja nggak cukup deh za kalau rincian kejahatannya sepanjang ini. Aku sakit perut hebat. Kok bisa ada anak perempuan seperti ini 😂😂😂

    Aspek perempuan bandel apa lagi coba yang kurang? Main bola, cek. Bikin nangis dengan 1001 tips dan trik jitu, cek. Manjat pohon, pagar, tembok, dan diyakini banyak lainnya, cek. Diusir keluar kelas gara2 lempar kertas ke guru plus setelah itu masih berani coret-coret tembok, cek. Jujur bahkan aku nggak tau banyak anak laki2 yang bisa menyaingi tingkat kejahilan nomor wahid semacam ini wkwk. Kalau dulu ketemu, nggak cuma ogah ngobrol, begitu ngeliat pucuk kepalamu dari jauh aja aku langsung kabur. Nggak bakal beres diladenin. Difoto dibilang,”sebuah kebiasaan yang ingin dihilangkannya di sekolah menengah nanti.” Pasti si guru mengetik ini sambil ketawa karena tak percaya 😂

    Trilogi ini menyenangkan. Sayang nggak dilanjutin lagi di 2016. Hmm.. 2017 mungkin?

    • Di list semua sama kak fadel membuatku terpaksa mengingat kembali masa kejahiliyahanku dulu 😔
      Ini sepertinya karena terlalu banyak bergaul sama laki-laki deh makanya bandel nggak ketulungan (pokoknya laki-laki selalu salah titik)
      (((NGGAK BAKAL BERES DILADENIN)))
      Apakah dengan begitu aku bisa dikategorikan sebagai golongan anak didik STIS mengajar yang NAUDZUBILLAH MIN DZALIK kak? 😣
      Wkwkwk, udah hilang kok kak beneran jahilnya…..
      Hmmm 2017? Aku mau nulis kalau kak fadel nulis duluan biar adil, oke? 😂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s