Berbicara Sendiri

“Semalam aku mimpi cowok lho,” curhatku pada salah seorang temanku.
“Ya terus? Sebelumnya lo nggak pernah mimpi cowok?” Ahahaha,” respon temanku yang memang suka nggak pernah mikir kalau lagi ngomong.
“Ya nggak gitu juga. Tau ah gelap,” aku memalingkan muka, sebal.
“Serah lo dah.” Ketus temanku lalu pergi.

Sepi dan kemudian aku memutuskan untuk berimajinasi. Tentang mimpi semalam. Teman, tidakkah kamu tahu bahwa seorang lelaki yang kutemui dalam mimpiku semalam dapat membuatku berbunga-bunga seharian ini? Sebegitu istimewanyakah lelaki yang hadir dalam mimpiku? Jawabannya, tidak. Sama sekali tidak ada istimewa-istimewanya. Lalu, mengapa kamu bisa begitu berbunga-bunga? Mengapa?

Sederhana saja, karena di mimpi sebelum-sebelumnya aku hanya memimpikan seorang lelaki. Selama lebih dari dua puluh kali, dua tahun terakhir. Bodoh bukan? Mimpi dengan alur yang sama, latar yang sama, dan tokohnya yang hanya ada aku dan dia. Lebih bodoh lagi bukan?

Aku menengadahkan muka, kemudian berpaling sambil tertawa.

Bodoh karena, aku masih menyempatkan diri untuk menceritakan tiap detil kejadian dalam mimpiku di buku harianku, hingga aku memutuskan untuk berhenti menulis di mimpi ke dua puluh. Lebih bodoh lagi karena, seorang lelaki yang merasuki mimpiku bahkan mengingatku sedetikpun tidak pernah. Kutegaskan lagi, sedetikpun tidak pernah!

Aku melengos lalu menarik napas panjang.

Kata psikolog kejiwaanku terganggu, karena memimpikanmu yang seperti sudah menjadi candu. Dia menyarankanku untuk bertemu denganmu, berbicara baik-baik padamu, yang itu berarti aku harus mengungkapkan seluruh rasa yang selama ini selalu aku tutupi.
“Hah, berbicara dengannya? Itu tidak akan pernah terjadi,” kutolak mentah-mentah saran dari psikolog tak tahu diri itu.
“Memang apa salahnya berbicara? Saya hanya ingin membuat kondisi kejiwaan anda membaik, Mbak,” pertanyaan dan alasan psikolog itu malah membuat telingaku semakin panas.
“Apakah membuat rumah tangga sepasang manusia menjadi hancur lebur dapat membuat kondisi kejiwaan saya membaik?” Aku sudah tidak tahan lagi untuk marah.

Pipiku basah, aku mengusapnya sambil tertawa.

“Orang hanya melihat apa yang terlihat, biarlah yang disebut tidak diketahui tetap menjadi tidak diketahui.”

Aku masih tertawa bahagia, mengingat mimpi semalam yang bahkan sebenarnya aku sudah lupa detil ceritanya.

 

10 pemikiran pada “Berbicara Sendiri

  1. di ungkapin juga ga menjamin lega. biasanya malah galau krn udah ngungkapin tp reaksinya gituuu…. *apasih *abaikan :3

      • Apalagi klu kasusnya yg cewe ngungkapin ke cowo. Ngungkapin trus reaksi cowonya datar…dijamin isc ewe bakalan baper lamaaa bangetttt brtanya2 kenapa reaksi so cowo gituuu

      • Too much typo kak wkwkwk :p
        Nah itu, mengingat cewek adalah makhluk hidup yang memiliki rasa gengsi yang warbiyasak, jadi ya, kalo nekad ngomong duluan dan tanggepannya menyedihkan, mau ditaruh mana nih muka? Ahahaha

      • Oh my..aku emang d juluki typo girl..queen of typo dan smcamnya~

        Klu ga ngomong, dbilangnya jahat ga ngasih sinyal. Ngasih sinyal malah agresive :'”
        *dimulailah.sesi.curhat~

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s