Yang Tiba-tiba Terpikirkan

Mumpung masih bisa mikir, saya hanya akan menulis apa yang sedang saya pikirkan.

Pertama, mengenai buruknya cara pikir kebanyakan orang-orang di sekitar kita mengenai kita. Tidak perlu mencari contoh jauh-jauh, akan saya ceritakan bagaimana perlakuan orang lain kepada kakak saya. Kejadian ini sudah sangat lama, mungkin di awal masa SMA. Tepatnya di sebuah toko buku ternama, ketika kakak saya sedang menemani saya membeli buku. Kakak saya laki-laki, memiliki wajah juga warna kulit yang paling beda diantara kelima saudaranya yang lain. Saya yakin sudah ratusan atau bahkan ribuan orang -oke ini hiperbola- yang bertanya pada kakak saya, “kamu anak kandung bukan sih?”, “kok item sendiri?”, “kok gendut sendiri?” Aaak saya yang bukan dia aja sering ditanyain pertanyaan model begini, parah. Oke kembali ke topik, waktu ke toko buku, kakak saya memakai jaket hitam, celana jeans, dan sandal jepit swallow. Style dia memang begitu, sama seperti saya yang cuek dengan penampilan, cuma emang lebih parahan dia. Nah waktu saya lagi asyik-asyik pilih novel, saya kok sekilas ngelihat kakak saya diajak ngomong sama karyawan toko bukunya. Karena penasaran, saya deketin kakak saya,

“kenapa to kak?”

“disuruh lepas risleting jaket sama orang tadi, katanya mau di cek. Lha dikira maling, padahal aku pake risleting juga karena dalemnya cuma pake kaos oblong.” Jelasnya sambil tertawa.

Saya cuma bisa mengutuk penjaga buku tadi dalam hati. Mas, biarpun tampang kakak saya kelihatan kayak preman, dia nggak bakal nyuri kali, lha wong baca buku aja dia nggak suka.

Kejadian serupa juga pernah dialami abah saya. Ini sih kejadian sekitar setahun yang lalu. Lima tahun sebelumnya abah sudah janji mau ngajakin liburan sekeluarga naik pesawat. Akhirnya tahun lalu kesampaian, abah ngajakin tuh ke Malang, mau ngelihatin ke anak-anaknya kalo di Malang ada hotel di dalam pohon -sebenarnya bukan itu sih ahahaha-. Nah waktu lagi di Djuanda abah kan dikejar deadline karena saya harus nyampe ke Semarang karena ada wisuda SMA sebelum jam sepuluh, sedangkan antrian pesawatnya itu panjaaaaang banget. Eh ndelalah kakak saya ngingetin kalau abah punya kartu istimewa. Entahlah apa itu namanya saya lupa, yang jelas kalau punya kartu itu (maskapai garuda) bisa antri tanpa harus antri -eh ini gimana ceritanya antri tanpa antri- karena antriannya ada di baris yang berbeda, khususon gitu. Abah saya punya kartu itu juga karena pekerjaan bukan karena hobi travelling lhoiya. Nah waktu abah ngedeketin baris yang khususon itu, eh mas-mas yang di belakang meja malah bilang, “maaf pak, yang reguler ada di sebelah kiri.” Sambil nunjukkin barisan antrian yang sebelumnya ditempati abah.

Lalu abah saya dengan pandangan terpengarah tak percaya mengeluarkan kartu istimewanya, dengan slow motion ia berkata “saya. punya. kartu. ini. mas.” sambil memonyongkan kedua bibirnya dan dengan tatapan mata yang tajam terarah ke mas-mas di belakang meja sambil berkacak pinggang.

Bohong, itu cuma imajinasi saya aja yang berlebihan. Abah saya akhirnya cuma nyengir sama masnya dan bilang, “lha kartu ini nggak bisa dipake di sini to mas?” sambil nunjukkin kartunya. Masnya langsung tegang. Nah lho!

Emang sih waktu itu abah saya lagi pakai kaos, tapi abah saya kan hensem dan tidak punya tampang yang nelangsa, jadi kenapa masnya bisa underestimate? Entahlah, mungkin gara-gara kakak saya yang lagi nemenin abah -lha apa hubungannya-.

Lalu, saya juga pernah mengalaminya. Kejadiannya ada di toko kerudung ternama, sebut saja Rabbani. Waktu itu saya lagi asyik banget cari kerudung buat lebaran. Eh tiba-tiba ada yang nyolek punggung saya dan bilang,

“mbak, tolong carikan ukuran L, kerudung yang ini.” Sambil ngasih kerudung.

Saya melongo dan langsung kehabisan kata-kata, saya diam mematung di depan ibunya. Eh sepersekian detik kemudian ibunya baru ngeh kalau saya itu pelanggan bukan karyawan.

Setelah ibunya meminta maaf dan melarikan diri, saya jadi merenung. Seharusnya saya nggak pakai kerudung dan baju yang warnanya mirip sama karyawan-karyawan di sini. Oke, jadi memang saya sih yang salah **kemudian duduk di pojokan sambil mengais rasa iba pada siapa saja**

Kedua, kapan-kapan saja deh saya tulis. Sekarang lagi hujan nih. Hujan dan segala kenangannya yang ingin dilupakan malah muncul perlahan dan melenakan. Ahzek.

15 pemikiran pada “Yang Tiba-tiba Terpikirkan

  1. Don’t judge a book by its cover yak. Sumpah orang-orang sini memang kadang underestimate sekali dengan orang lain, padahal orang lain itu tidak seperti yang mereka pikir. Tapi tetap semangat kan ya :hehe.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s