Akhir yang Bahagia

Alkisah, hiduplah seorang gadis berparas cantik bernama Elisa. Elisa memiliki dua mata yang sempurna indahnya, hidung yang sedemikian mancungnya, serta bibir yang merah merona. Kecantikan parasnya sungguh tiada duanya. Sayangnya, tidak pernah sekalipun aku melihat Elisa tersenyum. Kenapa? Bukan karena Elisa sebatang kara, tetapi karena tubuh Elisa yang amat sangat gendut. Elisa membenci bentuk tubuhnya. Lihatlah! Ketika Elisa berlari, gelambir lemaknya saling beradu membentuk irama. Berlari? tidak, maksudku berjalan cepat. Elisa yang super gendut mana bisa berlari?

Elisa hampir putus asa karena tidak ada lelaki yang menyukainya. Kalau yang mendekati Elisa sih banyak, karena Elisa hanya menampakkan paras cantiknya di celah jendela sesekali ketika para lelaki pulang sehabis bekerja. Lelaki yang tertarik akan paras cantik Elisa pada akhirnya lari terbirit-birit begitu menyambangi rumah Elisa. Lupakan soal paras kalau bentuk tubuh Elisa seperti angka nol. Alhasil, Elisa belum juga mendapatkan tambatan hatinya. Berlabuh saja belum ada yang mau. Silih hari berganti, Elisa semakin frustasi.

Hingga suatu hari, datanglah seorang ahli sihir. Sengaja didatangkan Elisa karena Elisa punya maksud tertentu. Kesaktian ahli sihir itu sudah tersebar seantero desa, begitu saktinya sampai tidak pernah ada satupun pelanggan yang komplain padanya. Elisa menyuruhnya untuk menciptakan sesuatu yang dapat membuat Elisa tersenyum. Dengan tangkas, ahli sihir mulai mengerjakan permintaan Elisa.

Ahli sihir itu membuat sebuah cermin dengan ukiran-ukiran kayu yang indah di setiap sisinya.

Elisa yang penasaran akhirnya dengan tak sabar melangkahkan kakinya mendekati cermin. Dan ajaib! Seketika Elisa merekahkan senyumnya. Tiap detik bertambah semili. Sekarang, Elisa sempurna memamerkan seluruh giginya saking senangnya.

Coba tebak, mengapa Elisa bisa tersenyum? Mudah saja, karena saat Elisa bercermin, maka tampaklah berubah tubuhnya. Menyusut tiga kali lipat. Membuatnya terlihat amat sangat mempesona. Membuat Elisa betah berlama-lama bercermin. Lupa makan, lupa mandi, lupa semuanya. Lebih tepatnya, lupakan saja semuanya.

Tak sampai dua hari, Elisa mati. Ia mati dalam bahagia fiksinya.

“Kalau aku menawarkan dua gadis padamu, gadis yang pertama memiliki wajah yang bersih, kulit yang putih, bentuk tubuh yang ideal, dan rambut yang lurus bergelombang, sedang gadis yang kedua memiliki wajah yang penuh dengan jerawat, kulit yang sawo matang bahkan hitam legam, memiliki kelebihan berat badan, sertaย rambut yang keriting dan bercabang. Mana yang akan kamu sebut cantik? Apakah kecantikan itu sungguh-sungguh relatif? Apakah tinggi, berkulit putih, kurus, itu relatif?”

15 pemikiran pada “Akhir yang Bahagia

  1. Dalam kenyataannya istilah cantik itu relatif cuma sekedar teori saja. Jika ditanya yang demikian, tentu saja saya memilih yang cantik, putih, tinggi dll he he he

    • Dan teori tidak pernah salah ataupun benar, hanya bermanfaat atau tidak. Jadi, saya anggap teori cantik itu relatif tidak bermanfaat kak Shiq4 ehehe
      Saya juga akan menjawab sama seperti kak Shiq4 ๐Ÿ˜€

  2. Cantik itu putih, tinggi, langsing, wajah sempurna, menurut saya karena stereotipe saja. Saking mendasarnya stereotipe itu dan saking intensnya pemaparannya sampai-sampai semua orang pun menganggap itu keberanan sahih.
    Namun, manusia itu dilahirkan tabula rasa. Dari nol. Ter-reset, tanpa tahu apa yang baik dan buruk. Kalau seorang pria sejak bayi diberikan pemaparan cantik yang hakiki, cantik yang sejati, pasti yang akan ia pilih sebagai pasangan itu yang memang sejati cantiknya.
    Buat saya, sayang saya agak terkontaminasi stereotipe itu jadi kesejatian cantik seorang wanita itu sampai sekarang masih agak kabur.

  3. Hmm, saya jadi keinget tulisannya Tere Liye tentang cantik. “Kalau semua terlihat cantik, jadi di mana lagi ukuran cantik itu? Kalau semua terlihat menarik, apa lagi ukuran hakiki menarik tersebut?”
    Juga, “Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi. Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.”
    Ohiya kak saya mau tanya, tapi bukankah ada cerita nabi Yusuf yang ketampanannya adalah setengah dari seluruh manusia yang hidup di bumi? Jadi bukankah sudah jelas definisi cantik dan tampan itu? Aduh saya jadi bingung sendiri kak ehehehe.
    Terima kasih kak Gara sudah mau komen panjang lebar dan sangat ngena ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s