Yang Tiba-tiba Terpikirkan (2)

Yeay akhirnya bisa mikir lagi, hahahahahahaha.

Pertanyaan-pertanyaan di bawah adalah pertanyaan yang sering ditanyakan oleh keluarga besar, teman orangtua, bahkan orang asing saat kamu SMA.

1. Kalau barusan masuk SMA,
“NEMnya berapa UN kemarin?”
Lalu kamu jawab,
“Nggak bagus banget pakdhe, budhe, tante, om, mbah, mas, mbak, dek, dst.. rata-ratanya 8”
Lalu respon mereka,
“Wah lumayan”
“Pantes nggak bisa masuk SMA favorit”
“Nggak nyontek kan waktu UN?”

2. Kalau habis rapotan di semester awal,
“Gimana rapornya? Dapet ranking berapa?”
Lalu kamu jawab,
“Sekolah di negeri susah ya pakdhe, budhe, tante, om, mbah, mas, mbak, dst… rapornya jelek, masih belum bisa adaptasi sih, gurunya beda sama guru SMP,..” (lalu lanjut ngeles nyampe mules)

3. Kalau baru aja naik kelas dan penjurusan,
“Kamu mau masuk jurusan apa?”
Lalu kamu jawab,
“IPA pakdhe, budhe, tante, om, mbah, mbak, mas, dek, dst..”
Lalu respon mereka,
“Wah bagus kalo gitu”
Percakapan selesai.
Beda kalau jawabannya,
“IPS pakdhe, budhe, tante, om, mbah, mbak, mas, dek, dst..”
Kemudian inilah respon mereka,
“Oh”
“Lha kok nggak IPA aja?”
“Emangnya nilaimu nggak nyampe di IPA to?”
“Kenapa di IPS? Kamu kan pinter. Sayang dong”
Percakapan dilanjutkan dengan nasehat-nasehat ditambah wajah-wajah kecewa dari mereka.

4. Kalau udah pengumuman kelulusan,
“Mau lanjut kuliah dimana?”
Lalu kamu jawab,
“Mau nikah aja”
“Mau ke Undip aja yang deket sama rumah pakdhe, budhe, tante, om, mbah, mas, mbak, dek, dst..”
Lalu mereka bertanya lagi,
“Oh, ambil jurusan apa?”
Lalu kamu jawab,
“Ilmu komunikasi pakde, budhe, om, tante, mbah, mas, mbak, dek, dst..”
Lalu respon mereka,
“Lho kenapa kok nggak ambil STAN, kan enak nanti lulus langsung kerja”
“Lho kok nggak akuntansi atau manajemen atau hukum?”
“Di ilmu komunikasi kamu mau jadi apa nanti?”
“Kok nggak ambil kedokteran?” (Hellaw nyong lulusan IPS keles, masuk kedokteran itu seperti nyong punya pacar, alias nggak mungkin)

Ya, begitulah. Kalau tidak pernah mengalaminya, maka beruntunglah.

Yang mau saya tekankan di sini adalah, seringkali pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita adalah pertanyaan-pertanyaan yang lebih sulit dijawab dibandingkan pertanyaan dosen paling killer sekalipun. Yes, karena pada hakikatnya pertanyaan mereka bukan untuk dijawab, tapi dilakukan. Kalau jawaban kita nggak menyenangkan mereka, simpel, mereka nggak ingin kita ngelakuin itu. (Kalau saya sih bodo amatlah, yang penting orangtua kasih restu dan kebebasan yang benar-benar bebas buat saya. Yha, saya lahir di keluarga yang demokratis, hamdalah)

Jadi, apa hidup harus serta merta membahagiakan mereka lalu melupakan kebahagiaan diri? Nggak kan? Manusia adalah makhluk individualis, masing-masingnya memiliki ego. Jarang ada manusia yang mau menempatkan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan diri sendiri.

Selain itu, kita semua tahu kan kalau setiap diri kita memiliki kekurangan? Nobody perfect coi! Lantas, kenapa masih banyak orang yang menganggap kalau kekurangan kita itu adalah sebuah kebodohan? Kenapa pintar hanya soal matematika, IPA, kedokteran?

Biar endingnya rada asik,

Karena Tuhan menciptakan kita yang beragam bukan untuk diseragamkan.

4 pemikiran pada “Yang Tiba-tiba Terpikirkan (2)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s