Menjadi Kakak

Saya anak kedua dari enam bersaudara. Memang bukan kakak sulung, tapi setidaknya saya kakak sulung perempuan bagi keempat saudara lainnya. Menjadi kakak… menceritakannya selalu saja bisa melibatkan emosi.

Oke mari dimulai sesi curhat seorang kakak perempuan.

Menjadi kakak adalah karunia juga beban terberat. Karunia karena saya bersyukur bisa dilahirkan di masa-masa kehidupan rumah tangga orangtua saya dimulai. Saya tidak kurang kasih sayang. Mereka sangat menyayangi saya juga kakak saya (yang hanya terpaut setahun). Kami hidup sangat bahagia meski hanya berempat. Dua tahun setelahnya, lahirlah seorang adik yang begitu saya nanti-nantikan kehadirannya. Tapi kelahirannya juga yang membuat saya membencinya. Karena kasih sayang yang orangtua limpahkan dua tahun terakhir perlahan memudar. Ya, menjadi kakak berarti siap untuk merasakan bahagia juga kecewa dalam waktu yang bersamaan.

Karunia lainnya adalah, karena saya turut merasakan bagaimana kedua orangtua saya banting tulang untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Saya selalu terharu setiap mengingat perjuangan abah yang begitu luar biasa. Berawal dari menjadi peternak ayam, tukang fotokopi, supir di sekolah, bergabung di sebuah perusahaan meubel, sampai pada akhirnya abah nekad untuk membangun sebuah cv sendiri. Saya masih ingat betul bagaimana dulu saya, kakak saya, umi, dan abah yang berboncengan dengan motor tua. Sesak, tapi saya bahagia sekali. Setiap kali abah melewati jalan yang turun, abah selalu memegangi perut saya, agar saya tidak menangis. Dan tiap mengingatnya, membuat saya ingin merasakannya lagi.

Selain itu, kakak adalah yang selalu dibanggakan oleh kedua orangtuanya. Pernahkah teman-teman orangtua kita luput untuk melupakan nama anak pertama dari orangtua kita? Tidak kan? Kakak saya beruntung karena nama dan rupanya yang selalu diingat oleh teman-teman orangtua saya. Juga, saya masih ingat ketika saya lulus UN SMP dengan nilai yang menurut saya itu impossible sekali saya raih. Abah saya, dengan bangganya menceritakan nilai saya di pertemuan keluarga besar. Abah bercerita dengan senyum mengembang dan mata yang berbinar. Tahukah, saat itu juga saya merasa menjadi anak yang paling bahagia di dunia. Juga sama ketika saya beruntung bisa diterima di sekolah favorit, dan menerima undangan di perguruan tinggi negeri. Abah adalah orang pertama yang dengan bangga menceritakannya pada siapa saja.

Menjadi kakak juga membuat saya dapat memahami apa saja yang saya lakukan di masa kecil saya. Karena mempunyai adik sama seperti berkaca pada diri sendiri. Sifatnya, tingkah lakunya, semua yang mereka lakukan sebenarnya adalah apa yang saya lakukan ketika saya berada pada usia mereka. Melihat adik-adik berbuat salah bukannya marah, tetapi tertawa karena mengingat dulu saya juga pernah melakukan hal itu. Lucu memang.

Lalu, beban menjadi kakak adalah ketika saya harus mengalah. Mengalah bahkan untuk masa depan. “Mbak kan kakak, mbak harus ngalah” itu yang selalu saya dengar tiap saya menginginkan sesuatu dan adik saya juga menginginkannya.

Selain itu, menjadi kakak juga selalu disalahkan. Bahkan ketika nggak salah sekalipun, orangtua saya akan bilang, “udah, biar adikmu seneng aja, umi tau kamu nggak salah.” Di situ kadang saya sedih.

Beban menjadi kakak yang lain adalah, selalu dituntut untuk bisa melakukan segala sesuatu. “Kamu kan kakak, kamu pasti bisa.” Itu yang biasanya orangtua ucapkan ketika saya bilang “nggak bisa” atau “nggak mau”.

Apa lagi, ya. Ohiya, menjadi kakak berarti harus mau berbagi. Apa pun yang dipunya, adalah kepunyaan bersama adik-adik. Tidak ada barang yang benar-benar pribadi selain buku harian dan pakaian dalam.

Penutup

Menjadi kakak berarti siap untuk selalu kuat. Kakak adalah pundak untuk bersandar dan teman untuk tertawa bagi para adik-adiknya.

Surat untuk keempat adikku

Hai dek, masihkah kau ingat? Dulu aku menggendongmu begitu hati-hati karena umi selalu khawatir aku akan menjatuhkanmu.
Hai dek, masihkah kau ingat? Saat kamu berlatih sepeda lalu terjatuh, ada aku yang selalu bilang kalau kamu bisa, jatuh berkali-kali pertanda kamu sudah semakin jago.
Hai dek, masihkah kau ingat? Aku pernah memanjat pohon jambu air tetangga sebelah karena kamu memintaku melakukannya. Lalu akhirnya umi malu karena aku ramai diperbincangkan saat arisan.
Hai dek, masihkah kau ingat? Saat aku menangis ketika umi memarahiku karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Sungguh memalukan sekali menjadi kakak yang seringkali tidak ada gunanya.
Hai dek, masihkah kau ingat? Aku pernah menggantikan popokmu, membuatkan susu untukmu, menyisir rambutmu, memandikanmu, bahkan menyebokimu selesai pup.
Hai dek, masihkah kau ingat? Saat kamu dinakali tetangga, aku dan kakak nekad untuk melawan ia yang mengganggumu. Meskipun pada akhirnya malah simbah putri yang menyelamatkanmu.
Hai dek, masihkah kau ingat? Ketika kamu perlahan tumbuh dan mulai menolak untuk kucium, kurangkul, dan kupeluk.

Teman-teman terbaik seumur hidup :)
Teman-teman terbaik seumur hidup πŸ™‚

Β 

18 pemikiran pada “Menjadi Kakak

  1. Mungkin ini suara hati kakak perempuan sebagaimana yang kakak saya rasakan kali ya, Mbak :)). Dengan ini saya sedikit lebih paham. Sedikit, sih, tapi adalah :haha. Semoga ada membekas dan jadi bahan untuk mengubah perilaku :amin.

    • Ahahaha tapi kan namanya anak kecil dulu belum tau malu kak, sekarang kalo nginget sih malu banget, apalagi kalo udah papasan sama ibu-ibu arisannya ._.

      • hihihi, tp hal-hal semacem itu yang kadang bikin kangen sama masa kecil. Kadang juga sering berfikir kalo moment itu terlalu singkat. #ataucumanperasaansayaaja πŸ˜€ wkwkw

      • Saya juga ngerasa gitu kok kak, mungkin berasa singkat karena memori yang masih diingat di masa kecil juga nggak banyak-banyak amat muehehe :3

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s