Satu Jam Saja

“Kamu akan berhenti menjadi pencinta yang tidak dicinta saat kamu sudah benar-benar tidak bisa menjadi takdirnya,” kata seorang temanku setelah kutanya kapan aku bisa mengakhiri jatuh cinta diam-diam dan sendirian. “Lagian kamu sih, harus gitu ya suka sama om-om? Ya emang sih single, tapi kan perbedaan usia kalian 15 tahun haloo!” tambahnya.

“Memang cinta mengenal usia?” belaku.

“Haduh, realistis ajalah Dar.” jawab temanku, kesal.

Tamat SMA, aku nekad untuk meminjam sebentar waktunya. “Satu jam saja, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Sekarang aku baru sadar kalau kata-kata Dara adalah benar. Satu jam di masa lalu dan satu jam setelah ini aku resmi berhenti menjadi pencinta.

“Wah, istrimu cantik sekali, semoga menjadi keluarga yang sakinah.” aku memberi selamat sambil menyalamimu. Senyumku mengembang tipis, getir.

Mengikuti tantangan menulis 123 kata #FiksiLaguku dari @KampusFiksi

Terinspirasi dari lagu Lala Karmela – Satu Jam Saja

Tapi kini tak mungkin lagi, katamu semua sudah tak berarti
Satu jam saja
Itupun tak mungkin, tak mungkin lagi

9 pemikiran pada “Satu Jam Saja

  1. “Kamu akan berhenti menjadi pencinta yang tidak dicinta saat kamu sudah benar-benar tidak bisa menjadi takdirnya..”

    Kata-kata ini sesuatu banget.. :’)

  2. Sempat saya kira ini kisah nyata :hehe :peace. Tapi tak apalah, tak ada cinta yang sia-sia, karena bagaimanapun ia dianggap sia-sia, sebenarnya itu adalah bentukan cinta yang membuat dewasa.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s