Memahami Cinta

Cinta memang tidak pernah salah, aku mencintaimu juga bukanlah suatu yang salah. Hanya saja, mengapa semuanya berlalu begitu cepat?

Jakarta, akhir 2014

Cinta itu gila, dan aku menggilai cinta. Jarak Semarang – Jakarta terasa hanya sepelemparan tiap aku mengingat aku akan menjumpaimu di sana.

“Selamat datang, Jakarta!” bisikku.

Senyumku mengembang, pikiranku mengawang, hatiku terbang. Cinta, aku datang.


“Selamat sore, tante. Saya temannya Mulia, bisa saya bertemu dengannya?” sapaku sopan setelah pintu dibukakan oleh seorang perempuan yang aura keibuannya begitu terpancar.

“Sore. Oh, teman kuliahnya ya? Cuma teman-teman kuliahnya Uli aja yang punya panggilan Mulia untuk Uli. Mari silakan duduk,” perempuan itu tersenyum ramah. Aku mengangguk, mengiyakan.

Mataku memandang sekitar, ada sebingkai foto yang begitu menarik perhatianku. Mulia sedang merangkul kedua orangtuanya dengan wajah anehnya. Aneh tetapi selalu saja cantik.

“Kok sendiri?” pertanyaan yang mengejutkanku membuatku lebih terkejut begitu tahu siapa yang bertanya.

“Teman-teman yang lain langsung istirahat begitu sampai Jakarta, capek katanya,” aku berusaha menjawab sebiasa mungkin. Padahal hatiku sedang bergemuruh begitu melihat Mulia duduk berhadapan denganku.

“Oh gitu, kerja kelompoknya nggak jadi hari ini dong?” tanya Mulia.

“Teman-teman maunya besok, lagian kalau hari ini udah kesorean kan?” jawabku sambil mencuri pandang dan hatiku bergemuruh semakin kencang.

“Ooh, jadi kenapa sekarang kamu ke sini?” tanyanya lagi.

Hening. Aku bingung harus  memulainya dari mana.

“Sebenarnya, ada yang ingin aku bicarakan…” aku mencoba menjelaskan sebiasa mungkin, setenang mungkin. “Ini soal kita,” lanjutku.

Mulia terlihat salah tingkah, sudah tiga kali Mulia membenarkan posisi duduknya yang padahal sudah benar.

“Aku ingin terbuka soal perasaanku padamu,” kataku lirih, jantungku sempurna berdegup kencang. “kamu tau kan kalau aku… menyukaimu?” aku berkata dengan hati-hati.

“Iya aku tau, kamu juga tau kalau sukamu tidak bertepuk sebelah tangan,” respon Mulia dengan wajah yang datar. “Tapi yang harus kita masing-masing tau, saling suka ini tidak bisa diteruskan,” lanjut Mulia masih dengan wajah yang datar.

Eh tunggu, apa? Kamu… menyukaiku? Sungguh menyukaiku? Tidak, tidak, baru kali ini aku mendengarmu berkata kamu menyukaiku. Benarkah? Sesuka apa? Apa yang membuatmu menyukaiku? Keterkejutanku perihal keterbukaan perasaanmu membuatku memikirkan begitu banyak pertanyaan. Pertanyaan yang hanya aku simpan sendirian karena pernyataanmu setelahnya membingungkanku.

“Maksudnya tidak bisa diteruskan?” tanyaku heran sedikit diliputi kecemasan.

“Iya, tidak bisa diteruskan. Bukankah masing-masing dari kita memiliki komitmen?” Mulia balik bertanya, memastikan.

Oh, komitmen. Iya, aku selalu ingat dengan komitmenku. Aku berkomitmen untuk tidak lagi mempunyai suatu hubungan yang tidak dibenarkan dalam agamaku, lebih-lebih hanya untuk mempermainkan perasaanmu, Mulia. Tapi sungguh, keterbukaan perasaanmu tadi melemahkan semua benteng yang sudah kubangun sedemikian rupa agar tidak lagi roboh.

Aku terlena, cinta.


Semarang, awal 2015

Cinta memang tidak pernah salah, hanya saja, aku masih salah dalam memahami cinta. Cinta bukan soal menghabiskan waktu bersama berdua dan saling manja. Cinta adalah soal berdoa untuk memanjakan yang Maha Memberi Cinta.

Cinta bukan soal, “Kalau dia memang jodohku, jodohkanlah,” tetapi cinta adalah, “Jodohkanlah aku dengan yang pantas, sebagaimana aku berusaha memantaskan diri.”

Cinta bukan soal memberikan segala yang diinginkannya. Cinta adalah soal menjaga hatimu baik-baik untuk hati yang terbaik juga kelak.

Cinta tidak pernah salah, yang ada hanya aku yang sedang dan akan terus belajar memahami cinta.

Dan ya, cinta tidak harus melulu diucapkan bukan? Cukup kau sebut namanya dalam doa, bukan berharap agar kelak kalian bersama, tapi agar dia yang kau cinta bahagia.


Jadi, apakah jatuh cinta salah?

Tidak, jatuh cinta tidak pernah salah. Jatuh cinta justru mengajarkanmu akan banyak hal. Salah satunya ini,

Aku menjauh bukan berarti untuk mendekati yang lain, bukan itu. Aku menjauh karena aku lebih ingin mendekatiNya, lebih menjaga sekaligus memperbaiki diri. Esok lusa nanti, bukankah indah jika kita dekat juga karenaNya? – Seseorang yang menjadi tokoh Aku dalam cerita di atas

Postingan kali ini disponsori oleh curhatan seorang teman yang sudah lama curhatnya tapi baru bisa dibikinin ceritanya sekarang, muehehe maafkan kekosongan inspirasiku. Seorang teman yang katanya mau bikin blog tapi belum bikin-bikin juga nyampe sekarang, huft. Ternyata sulit juga untuk membuat cerita dari sudut pandang seorang laki-laki, jadi maaf sekali lagi kalau hasilnya tidak memuaskan.

55 pemikiran pada “Memahami Cinta

  1. dalam kisah ini, komitmen untuk tidak menjalih hubungan “pacaran” kah yang dimaksud oleh mba Mulia yang tidak dibenarkan dalam agama, atau karena masing-masing memiliki keyakinan yang berbeda?

  2. Bentar, aku bener-bener pusing plus aneh baca postingan ini. Pokoknya aneh lah. Itu ceritanya cewek suka sama cewek ya? Yaoi? Buseeet, merinding aku bacanya. Udah ah.

  3. Hah? Jadi yang datang ke rumah Mulia cowok juga? Cowok sama cowok, ya? Wow, kukira keyakinannya beda, ternyata perasaan suka sesama jenis. Pantas ibunya Mulia tidak ada kecurigaan apa-apa, secara kalau cewek yang datang kan pertanyaannya lebih intens :haha. Baiklah, dunia semakin lama semakin kebalik… :hadeh.

      • Aku kalau belum makan gampang galau Za..wkwkwk

        “Si Udin”
        Ih kamu Za, gemes deh akunya… XD

      • Eh iya, aku baru sadar namanya sama tapi eh itu kan karena kamu Za! Wkwkkw

        Aku biasanya manggil dia ‘kakak’ , tapi aku berencana move on, dan udah. Yey…

        Kan kamu sama Udin, tembenan kamu :p

      • Kenapa harus karena aku kak? :”
        Yaah, sepertinya hubungannya kak Ris berasal dari kakak-adik zone nih xD
        Tapi pipiku bukan untuk dicubitin bwek :p

      • Iya kamu, kamu lah, bertanggung jawablah kamu…. :>

        Dia sepupu ku, kayaknya kamu pengalaman pada jenis hubungan ini :p

      • Kok malah disuruh tanggung jawab :”
        Apaaa? Suka sama sepupu sendiri? Maaf ya aku nggak pernah suka sama sepupu sendiri kak, bwek :p

      • Tanggung jawablah sebelum bunganya naik beberapa persen :>

        *tambahin BGM biar lebih mendramatisir

        Sapa tahu dua minggu kemudian gitu :p

      • Aku kan nggak ngehamilin kak Ris, aku nggak perlu tanggung jawab *eeeh
        Yeee nggak mungkin, sepupuku masih bayi-bayi semua bwek :p

  4. eh kirain si ‘aku’ ini ceweeek. 😀 terus ada Mulia. Mulia ini nama cewek kan, terus karena aku kira si ‘aku’ ini cewek, Mulia-nya aku anggep cowok :3
    terus pas baca paragraf terakhir, oalah .. >< hohohohoho.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s