Puasa Pertama

Berawal dari malam tarawih yang membahagiakan karena melihat shaf-shaf di masjid belakang rumah penuh banget sampai mbludak keluar teras. Sampai akhirnya saya kecewa karena  banyak muda-mudi yang ternyata lebih memilih duduk-duduk asyik sambil bergosip, selfie, bahkan saya sempat melihat ada yang sempat-sempatnya bikin private massage di bbm, “lagi tarawih di masjid nih” saat imam sudah takbiratul ihram, dan itu semua dilakukan ketika banyak orang-orang yang sudah lanjut usianya sedang khusyuk menjalankan ibadah yang hanya dilakukan di bulan ramadhan.

Kemudian ketika sahur, ketiga adik terakhir saya mempunyai euforia yang luar biasa. Mereka sudah bangun bahkan sebelum umi bangun. Kemudian mereka menghampiri kamar ketiga kakaknya, menggedor-gedor pintu, menyalakan lampu, meneriaki kami, “Sahuuuur mbak! Sahuuuur kak!” Dan ya, mereka bertiga berisik sekali Umi bahkan berkali-kali mengingatkan mereka, “Kasian tetangga keganggu.” Memang sih setelah diingatkan mereka diam, tapi tidak sampai dua menit, mereka kembali berteriak, berkejaran, bermain hulahop, pokoknya mereka semangat sekali. Sebenarnya saya sangat senang melihat mereka, tiga anak kecil yang bahkan belum dihitung dosanya saja bisa begitu bersemangat, saya tentu nggak boleh kalah dong. Mereka bahkan sudah dilatih untuk pusa penuh sejak Taman Kanak-kanak, tidak seperti saya yang baru full puasa sewaktu SD.

Kemudian selepas sahur kami sekeluarga sholat subuh di masjid. Udara yang dingin dan jaan raya di depan rumah yang sepi membuat ketiga adik saya kembali beraksi. Mereka melompat, berlari, bahkan sampai tiduran di tengah jalan raya, baru setelah melihat ada setitik cahaya dari arah utara yang merupakan pertanda akan ada kendaraan yang lewat, kemudian mereka menepi. Lalu mengulanginya kembali sampai umi mengingatkan akan segera komat. Selepas sholat subuh, biasanya kami –keenam anak abah – akan berlari secepat mungkin, kami seperti saling mengerti satu sama lain kalau kami sedang berkompetisi untuk cepat-cepatan sampai ke rumah. Yang pertama kali menyentuh pintu rumah, dia menang. Yang terakhir, mendapatkan hukuman menutup gerbang dan menutup pintu rumah. Lucu dan menyenangkan.

Paginya, sayang sekali saya ada kuliah jam tujuh. Saya sudah bersiap-siap sejak pukul enam karena jarak rumah-kampus memakan waktu sekitar 30 menit. Jam setengah tujuh saya berangkat, di jalan, saya memikirkan kalau perkuliahan  nanti pasti akan membosankan. bayangkan saja, akan ada lima kelompok yang maju untuk presentasi –salah satunya kelompok saya– yang berarti akan ada lima bab yang dibahas secara terus-menerus dan tuntas. Saking begitu kepikirannya, saya sampai ngelamun dan hampir ditabrak mobil di persimpangan jalan. Rasanya waktu itu saya hampir mati, benar-benar kaget dan bersyukur karena belum ditabrak. Kalau seandainya saya ditabrak, saya yakin sekali akan ada yang terpental karena mobilnya melaju begitu kencang.

Sorenya, ketika saya sedang membaca ulang novel Ayat-ayat Cinta, kakak saya masuk ke kamar saya dan bilang kalau kami sekeluarga diajak abah untuk berbuka dan sholat di Masjid Agung. Aih, abah memang romantis. Setelah bersiap-siap, kami meluncur ke lokasi, dan ternyata Masjid Agung ramai sekali. Rupanya ada seleksi penerimaan polisi atau apa ya, saya hanya mendengar sedikit saat abah berbincang-bincang dengan salah satu anak berkemeja putih dan bercelana hitam. Kemudian saat adzan kami berbuka dengan jajanan di pinggir jalan dekat masjid, makan siomay, gorengan, dan minum es gempol.

Sebelum dan selepas sholat maghrib, saya menyempatkan foto-foto.

Menara Masjid Agung
Menara Masjid Agung
Lillah, Billah, Fillah :)
Lillah, Billah, Fillah 🙂
Suasana di teras Masjid Agung
Suasana di teras Masjid Agung
Megah...
Megah…

Lokasi selanjutnya adalah, Masjid Baiturrahman! Di sana kami  sholat tarawih. Dikarenakan sholat di Masjid Agung memakan durasi yang lama –karena kabarnya dalam waktu semalam imamnya bisa membaca ayat sampai satu juz – Masjid Baiturrahman ini dulunya jadi masjid termegah di Semarang, namun sekarang sudah digantikan dengan Masjid Agung yang jauh lebih megah, indah, luas.

Selepas sholat, kami makan! Makan di angkringan bakmi jawa kesukaan abah dong, Bakmi Jawa Pak Doel Noemani. Endeus. Lalu setelahnya kami pulang karena abah juga ada urusan. What a day! Puasa pertama begitu menyenangkan.

Tambahan:

Ohiya, Kota Semarang itu menarik lho. Nggak percaya? Silakan nonton ini nih, video yang kebetulan teman dekat saya yang jadi modelnya. Video berdurasi singkat ini berisi destinasi-destinasi menarik yang ada di Kota Semanarang. Jadi, rasanya masih kurang lengkap kalau ke Semarang dan belum mencicipi semua destinasi-destinasi yang ada di videonya. Ayok visit Kota Semarang! Ayo nonton, like, dan share videoya. Gomawo. 😀

6 pemikiran pada “Puasa Pertama

  1. Saya kira kotanya di mana, ternyata Semarang! Bagus banget Masjid Agungnya di sana, ya, jadi agak menyesal dulu jalan ke Semarang tapi belum sempat singgah ke landmark satu itu :hehe. Oh ya, selamat puasa hari pertama! Mudah-mudahan semangatnya terus terbawa sampai hari terakhir nanti sebelum Lebaran, dan bila perlu sampai Ramadhan tahun-tahun berikutnya :hehe.

    • Iya kak memang bagus, saya datang kesana sudah berkali-kali saja masih betah 😀
      Ayo kak Gara, kalau ke Semarang lagi sempatkanlah datang ke Masjid Agung 🙂
      Iya kak, pasti semangat terus kok, satu bulan dari dua belas bulan yang nggak boleh di sia-siakan setiap tahunnya 😀

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s