Cincin

Aku punya cincin yang selalu menghiasi jari manis di tangan kananku. Cincin pemberian simbah sejak SMP dulu. Satu-satunya perhiasan pemberian simbah yang tidak hilang. Mengapa simbah memberiku cincin? Dulunya kupikir karena simbah memang suka mengoleksi perhiasan dan menyuruh anak-cucunya untuk memakai. Tapi sejak kuliah ini aku mengerti ada alasan lain. Alasan yang baru aku tahu karena akhir-akhir ini aku mulai akrab dengan simbah.

Sederhana saja sih, tapi cukup membuatku terharu. Simbah ingin melindungi cucu-cucu perempuannya, termasuk aku. Karena dengan cincin yang menghiasi jemari akan membuat lelaki berpikir dua kali. Cincin seperti punya kekuatan tersendiri di mata lelaki, apalagi cincin yang udah nangkring di jari manis, tangan kanan pula. Seperti mengisyaratkan mereka (lelaki) untuk membuat jarak pada empunya cincin itu.

Dan ya, aku memang pernah mengalaminya. Ada lelaki yang mendekat namun setelah melihat cincin yang kupakai, ia langsung memberi jarak. Ada pula yang iseng-iseng bertanya namun aku hanya tersenyum membalasnya. Aku tidak pernah mengatakan bahwa cincin yang kupakai adalah pemberian simbahku pada setiap lelaki yang menanyakannya.

Simbah selalu memberiku nasehat, “Nduk, jangan pacaran, jangan pacaran, jangan pacaran. Simbah dulu juga nggak pacaran, langsung nikah. Pacaran nggak ada gunanya.” Atau “Nduk, kalau mau nikah, bilang sama simbah. Nanti simbah carikan, jangan cari sendiri, apalagi sampai pacaran. Jangan ya nduk.” Atau “Simbah nggak seneng kalau cucunya simbah ada yang pacaran.”

Ya begitulah simbah, nasihat-nasihat beliau adalah hukum buat aku. Dan berkat cincin pemberian simbah, semua jadi terasa lebih mudah. Tidak perlu ada penolakan, karena lelaki lebih dahulu menghindar. Tidak perlu disebut sebagai pemberi harapan palsu, karena bukankah cincin yang melekat di jari sudah menunjukkan tidak ada lagi harapan?

Aku masih belum tahu kapan aku akan melepas cincin ini. Mungkin tidak akan pernah kulepas, mungkin. Eh tunggu, akan kulepas kalau sudah tidak muat, ding. πŸ™‚

6 pemikiran pada “Cincin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s