Campursari

“Mampus kau dikoyak-koyak sepi!” -Chairil Anwar

“Mampus kau malam minggu dikoyak-koyak UAS dan tugas!” -Mahasiswa desperate semester 3 yang ngebet nikah

Malam minggu, let’s talk about anything daripada sutrisno mikirin tugas.

Jadi tadi saya habis kumpul bareng guru ngaji sama temen-temen. Kumpul rutin seminggu sekali, memperdalam ilmu agama, saling menasehati dan mengingatkan, sesi curhat, dan sejenisnya. Nah, biasanya tiap kumpul ada satu materi yang dibahas. Kebetulan materi sore tadi adalah… pernikahan alias munakahat alias materi yang paling bisa bikin saya baper.

Kata guru ngaji saya, yang harus dipelajari cewek dalam pernikahan jauh lebih banyak ketimbang cowok. Cowok mah cuma ditanya udah siap nikah apa belum, udah punya pekerjaan belum, udah bisa menghidupi calon istri belum, udah bisa jadi imam yang baik belum, udah itu doang. Kalau cewek… banyak! Banget! Mulai dari bagaimana menjadi istri yang baik, ibu yang baik, menghasilkan keturunan yang baik, dengan lingkungan sekitarnya harus baik, dan saya lupa lain-lain. Kenapa tugas cewek banyak banget? Karena syarat cewek untuk bisa masuk surga cuma 3 doang, beda sama cowok yang syarat untuk masuk surganya buanyaaak pake banget! **sujud syukur**

Syarat pertama, melaksanakan sholat wajib. Gampang kan? Iya, melaksanakan sholat memang gampang, tapi untuk tau kualitas sholat itu… yang sangat sulit. Syarat kedua, berpuasa di bulan ramadhan. Nah ini juga gampang kalau udah kebiasaan puasa dari kecil. Syarat ketiga ini yang sulit, berbakti sama suami. Kenapa sulit? Ya karena saya belum punya suami, hahaha.

Kata guru ngaji saya, berbakti sama suami itu beneran sulit. Karena cewek yang biasanya diwajibkan untuk berbakti sama kedua orangtuanya ujug-ujug disuruh berbakti sama orang yang punya hubungan darah aja nggak. Selepas punya suami, lepaslah kewajiban cewek terhadap kedua orangtuanya, sedih ya.

Kata guru ngaji saya lagi, cewek itu bertanggung jawab untuk memilihkan ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak. Ya, karena anak kan emang tumbuh sesuai dengan didikan orangtuanya. Nah di sini nih, saya bingung. Gimana mau milih ayah yang baik untuk anak-anak saya nanti kalau sayanya aja nggak baik? Oke, ayo introspeksi. Ibu akan jadi ibu yang baik dan cari ayah yang baik, demi kamu nak! **kemudian besok kiamat** **belom sempet nikah**

Karena keempat temen ngaji saya punya nasib yang sama kaya saya, nasib menjomlo dan selalu merasakan pahitnya cinta, kami ngerasa excited sama materinya! Jadi… lebih banyak pertanyaan yang kelar dari mulut-mulut kami yang fakir asmara ini ketimbang materi yang disampaikan guru ngaji saya. Mulai dari pertanyaan kalau misal dijodohin sama orangtua gimana, kalau sampai tua belum nikah-nikah juga gimana, kalau salah pilih suami gimana, kalau mertuanya galak gimana. Well, untuk masalah kalau sampai tua belum nikah-nikah juga I think it’s not a big problem. Kenapa? Karena saya sanggup menjomlo 18 tahun jadi nggak masalah kalau mau ditambah 18 tahun lagi hahaha. Eh bukan itu, karena saya tau yang namanya jodoh nggak cuma ada di dunia, tapi bisa juga dapetnya nanti di akhirat. 🙂

Jadi kesimpulannya, materi tentang nikah yang disampaikan hari ini belum selesai dan akan dilanjutkan minggu depan, yeay! Kalau materinya nikah terus semangat deh ini berangkat ngajinya, ehehehe.

Nikah itu indah, tapi jodoh masih jaoh.

“Dimana jodoh mengalir sampai jauuuhh.” -Iklan pipa air Wavin edisi revisi

Untuk postingan pertama di tahun 2016, ini memang nggak berbobot hahaha.

23 pemikiran pada “Campursari

  1. Entah satu yang terlewat tapi ini juga layak untuk dibahas, yaitu nikah muda menjadi gaya hidup.
    karena siklus manusia kini setelah masuk kuliah (yang sering di share baru baru ini) adalah :

    1. sidang-lulus-s2
    2. sidang-lulus-nikah langsung / sidang-nikah langsung-lulus- s2 boyong istri 🙂

    keknya kita perlu ketemu karena fahmi mau ngajak kamu ngobrol di podcastku soal nikah *eak

    • Karena memang udah jadi budaya kali ya kak kalau setelah sekolah ya kuliah, setelah kuliah ya kerja, setelah kerja ya nikah, ahahaha xD
      Eaaak, tapi aku nggak punya podcast kak ._.

  2. “Syarat ketiga ini yang sulit, berbakti sama suami. Kenapa sulit? Ya karena saya belum punya suami, hahaha.”

    Zaaa aku ketawa gede gara2 tulisanmu ini.

    Berbobot banget kok za. Tulisanmu ngngetin aku yg perempuan juga. Sering2 ya nulis ini :p

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s