Membersamai dalam Sendiri

Aku sedang bersama denganmu, tapi tidak juga. Aku sedang menggenggam tanganmu, tapi tidak juga. Aku sedang tertawa bersamamu, tapi tidak juga. Pada intinya, aku selalu menemanimu, tapi tidak.

Memang terdengar aneh, bagaimana aku yang sedang bersamamu, juga tidak bersamamu di waktu yang sama. Tapi, izinkanlah aku membersamaimu dalam kesendirianmu. Izinkan aku menjadi bayangmu, yang kelak akan mewujud, menjadi nyata.

Ya, aku sudah mencintaimu bahkan sebelum aku tahu siapa kamu. Aku sudah menerimamu, tulus, bahkan sebelum kamu bisa menerimaku. Lagi-lagi aneh, bukan? Aku bahkan sudah gila karena terlanjur menyayangimu yang aku tahu sejengkal tubuhmu saja tidak. Cintaku memang tak berwujud dan mewujud. Cintaku masih kabur tetapi bayangnya terasa jelas.

Aku merasakan hadirmu dalam ketidakhadiranmu. Sesederhana itu komitmenku.

Kalau ditanya pernahkah aku jatuh cinta? Jawabannya adalah setiap hari. Setiap hari aku selalu jatuh cinta.  Padamu. Pada yang wajahnya masih samar terlihat, yang senyumnya samar merekah, yang ronanya masih tak kasat mata.

Kumohon, jagalah cintamu seperti aku yang sedang menjaga cintaku.

 

6 pemikiran pada “Membersamai dalam Sendiri

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s