Perihal Jomlo dan Kesepian

Menjelang usia 20, predikat single atau jomlo terselubung yang melekat dalam diri saya sudah tidak dipusingkan lagi dengan adanya komentar-komentar sarkas bin nelangsa. Di usia yang menjelang dewasa ini, teman akan paham bahwa perihal memiliki status dan hubungan bukanlah suatu kebutuhan. Masih banyak hal lain yang perlu dipusingkan.

Tapi terkadang, jomlo seperti saya ini rentan sekali kesepian. Akan ada masa di mana seorang jomlo yang punya waktu senggang, membutuhkan kehadiran seseorang. Seseorang untuk berbagi cerita, tawa, tangis, atau kegilaan. Seseorang yang mampu membuatnya nyaman. Kalau tidak ada? Mungkin kutipan di bawah cukup jelas menggambarkan

image

Iya, begitu seseorang merasa kesepian, ia akan ketagihan. Buruknya, setelah merasa kesepian adalah hal yang menyenangkan, ia akan sulit untuk berinteraksi dengan sesamanya. Karena baginya, kesepian adalah teman paling setia yang selalu menemaninya.

Kadang saya merasa seperti itu. Kesepian yang kepalang mengasyikkan membuat saya jengah dengan hingar bingar. Membuat saya malas berbicara dengan banyak orang. Membuat saya lelah. Perkataan Kunto Aji memang ada benarnya,

Sudah terlalu asyik sendiri, sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri.

Tapi…

Jauh di lubuk hati, aku tak ingin sendiri.

Pada intinya, seorang jomlo harus pintar-pintar memanage rasa sepi dengan baik.

Meskipun menyepi atau menyendiri itu menyenangkan, punya seseorang yang bisa dijadikan sandaran akan lebih menenangkan, bukan?

10 pemikiran pada “Perihal Jomlo dan Kesepian

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s