Blame Others

Menutupi kesalahan diri dengan membuat malu orang lain itu menjengkelkan. Orang-orang seperti itu, bukan tipikal orang yang suka diberi saran, apalagi kritik yang membangun. Baginya semua yang dilakukannya adalah benar. Yang dilakukan orang lain meskipun benar, ia akan mencari kesalahan dari sisi mana pun meski bukan suatu kesalahan yang berarti.

Mencari-cari kesalahan orang lain, kemudian mengumbarnya, menebar kebencian, tapi setelah itu merengek meminta tolong. Kesal? Tentu, tapi mengapa saya tidak bisa marah? Diingatkan pun percuma, ia tidak pernah mau dengar dan peduli.

Kalau tidak mau dibegitukan, ya jangan begitu. Seharusnya ia tahu. Sesimpel itu kok. Karena menutupi kesalahan dengan mempermalukan orang lain nggak akan membuat kesalahanmu terlupakan kok, justru malah akan semakin membekas. Dan lagi, sikapmu yang suka mengungkit-ungkit kebaikanmu yang tidak seberapa itu membuat saya muak. Kalau memang ingin berbuat baik, kenapa musti dibahas-bahas lagi? Pamrih dong? Kalau mau hitung-hitungan, ayo sini, siapa yang lebih sering menolong? Kamu atau saya? Tapi saya nggak akan mau melakukannya, saya nggak sejahat itu kok.

Jadi cukuplah, cukup hanya saya saja yang diperlakukan seperti itu. Jangan buat teman-teman saya yang lain, merasakan apa yang saya rasakan.

Saya ini nggak pernah marah. Jadi jangan buat saya kesal setiap hari. Karena orang yang nggak pernah marah, sekali dia meluapkan kemarahannya, hancurlah dunia.

6 pemikiran pada “Blame Others

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s