Celoteh

Dahulu, ada telinga yang siap mendengar celotehmu. Ada senyum yang menyambut gundahmu. Ada mata yang tak henti memperhatikan gerakmu. Ada yang selalu, selalu mengisi kekosonganmu.

Aku.

Kerabat dan penampung keluh kesahmu.

Aku.

Yang jarang bercerita tentang aku, hanya kamu.

Aku.

Yang pada akhirnya mundur karena bahagiamu.

Ini semua soal waktu. Berkarib lalu pergi. Mengisi kemudian permisi. Tapi, tidakkah kamu terlampau keji?

Mungkin memang hanya aku saja yang merasa ditinggal pergi.

Karena sedekat apapun aku denganmu, semengerti apapun aku padamu, kamu tetaplah kamu. Terlalu tidak peduli.

26 pemikiran pada “Celoteh

  1. I know that feeling exactly! Pernah gitu juga :”) sedih pasti, tapi namanya life must go on. Semangat \^^/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s