Kehilangan

Kemarin sore mungkin adalah pertemuan terakhir kita. Ditemani es coklat dan kudapan sederhana lain, kita tertawa untuk banyak hal yang selalu bisa ditertawakan. Tapi tawa kemarin terasa lain, seperti ada yang disembunyikan. Seperti masing-masing dari kita tahu, tertawa adalah hal terakhir yang bisa kita lakukan.

Karena setelah tawa berganti dengan kalimat perpisahan, aku merasa kehilangan.

Untuk Amah, yang selalu membuat nyaman layaknya ibu dalam dekapan.
Terima kasih untuk semuanya.
Untuk telinga yang sampai lelah mendengar keluh kesah kami.
Untuk mulut yang tak hentinya menyampaikan nasehat-nasehat sederhana nan bijak.
Untuk peluh dan tenaga yang mungkin terbuang sia-sia karena kami.
Untuk senyum yang selalu disunggingkan meski ada luka yang Amah sembunyikan.
Untuk doa-doa yang tak pernah berhenti mengalir.
Untuk semuanya mah, semuanya.

Ada banyak hal yang ingin disampaikan, tapi aku terlampau malu. Benar kata Amah, gengsiku ini tinggi sekali. Jadi, aku tulis di sini saja ya mah…

Ada banyak perubahan setelah aku bertemu Amah. Aku jadi lebih dewasa dalam menghadapi masalah, aku lebih semangat untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil, aku jadi manusia yang pada akhirnya mempunyai harapan. Yang paling penting mah, amah sudah menjadi penghubung yang sangat baik untuk aku dan kedua orang tuaku.
Ada banyak hal yang baru aku tahu tentang orang tuaku setelah mendengar cerita dari Amah. Umi, yang ternyata menyimpan begitu besar rasa bangganya padaku. Aku sampai tidak menyangka mah, saat amah bercerita kalau Umi sampai menangis bangga hanya karena melihatku ada di youtube. Lalu cerita Amah tentang Abah yang selalu menceritakanku ketika Abah bertemu dengan teman-temannya. Abah bercerita dengan bangga soal aku, benarkah itu mah? Sampai sekarang pun aku masih tidak percaya. Bahkan Abah tak pernah bilang padaku kalau beliau merasa bangga padaku. Mungkin karena gengsi Abah yang tinggi, sama sepertiku mah.

Karena cerita-cerita Amah tentang orang tuaku, aku jadi punya harapan yang dulu sama sekali nggak pernah aku pikirkan. Ternyata aku begitu berharga. Ternyata aku tidak melulu membuat repot kedua orang tuaku saja. Karena selama ini yang kupikirkan hanyalah betapa aku beban bagi keluarga.

Maaf karena dari enam orang, hanya aku yang selalu curhat sedikit mah, aku memang tidak pandai mengungkapkan isi hati dengan bahasa verbal maupun nonverbal. Aku kaku banget mah. Tapi sepertinya Amah mengenalku dengan cukup baik.

Maaf untuk semua perkataan juga perbuatan yang aku lakukan dan menyakiti hati Amah. Juga rasa terima kasih yang begitu besar untuk lebih kurang satu tahunnya melingkar bersama Amah. Amah yang terbaik, sungguh.

Selamat tinggal Amah, jangan lupakan kami ya! 😭

image

24 pemikiran pada “Kehilangan

    • Ya bisa dibilang begitu kak, karena Amah di Semarang cuma untuk menemani suaminya aja yang sedang S2, begitu wisuda, balik lagi ke kampung halaman nan jauh di sana :’)

  1. Ow.. sayang ya. Padahal kliatannya udah deket banget. Kayaknya kamu punya kekuatan super gitu deh za. Kalau lagi galau dan terjatuh, langsung aktif tuh kekuatannya lewat tulisan dahsyat nan menggetarkan wkwk

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s