Kisah Dua Puluh Dua Tahun

Hari ini, dua puluh dua tahun yang lalu. Dari yang kulihat di album foto, kamu manis sekali. Kerudung lebar dan kacamata besar yang bertengger, serta lesung pipit di pipimu membuatku jatuh hati. Awal bertemu, aku malu. Masih kuingat saat kamu datang ke rumahku, menemui ibuku, sekadar memberi titipan dari seseorang yang sama-sama kita kenal. Tapi anehnya, aku masih belum begitu mengenalmu saat itu. Kamu duduk di ruang tamu, aku sembunyi. Kamu berbincang sopan dengan ibuku, aku mencoba menguping. Kamu Β pamit, aku diam-diam mengamati punggungmu. Itu pertemuan pertama kita kan, sayang?

Hmm, iya, aku masih mengingatnya dengan jelas. Hari itu aku datang ke rumahmu (emm maksudku rumah ibumu). Aku grogi, jelas. Tapi titipan dari seseorang yang sama-sama kita kenal ini membuatku pada akhirnya membuang jauh-jauh rasa maluku. Terlebih, rasa ingin tahuku padamu juga besar, sih. Sayangnya, aku tak sempat melihatmu barang sekejap saja. Yang aku tahu, saat aku menutup gerbang rumah ibumu, aku melihat lampu di ruang tamu menyala. Dan entah kenapa, saat aku mencoba melihatnya, lampunya mati kembali. Kenapa ya, sayang?

Kamu mau tahu, sayang? Aku yang menyalakan lampunya. Aku juga yang mematikannya. Aku ingin mengamatimu, melihat parasmu meski dari jauh, memperhatikan punggungmu yang rapuh, dan melihatmu perlahan menjauh.

Begitu ya sayang… aku tak menyangka pertemuan yang sebenarnya kita tidak benar-benar bertemu malah membuatmu yakin. Yakin untuk memilihku lalu menjadikanku istrimu. Terima kasih, sayang.

Aih sayang, seharusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih sudah memanjakanku dengan masakan-masakan lezatmu. Terima kasih sudah menghadirkan keenam buah hati yang melengkapi hidupku. Terima kasih karena selalu menemani susah senang takdirku.

~~~

Cerita di atas adalah awal mula Abah dan Umi saya bertemu (meski sebenarnya tidak benar-benar bertemu sih). Cerita yang entah kapan Umi cerita tapi sampai sekarang saya masih mengingatnya karena lucu aja hahaha. Ternyata Abah dari dulu udah jaim. xD

Alhamdulillah, hari ini Abah sama Umi anniversary yang ke-22. Semakin ke sini, Abah dan Umi semakin romantis, kadang iri ngelihatnya muehehe. Semoga Abah dan Umi sehat nan bahagia selalu ya! ❀

21 pemikiran pada “Kisah Dua Puluh Dua Tahun

  1. emang kisah cinta tuh selalu menarik yah, i looooove to hear every love story, langsung baper kalo baca beginian.
    Ibunya keren mau cerita ke kamu deh, kebayang 10 tahun lagi sanggup gak yaa gue cerita ke anak-anak gimana bisa kawin sama bapak mereka πŸ˜€

    • Iya kak bikin baper apalagi untuk jomlo akut kaya saya hahahaha *bercanda
      Iya kebetulan ibu suka cerita macem-macem, jadi ya ngalir aja deh itu cerita cinta masa lalunya heuheu. Diceritain aja kak, aku sebagai anak seneng lho denger cerita cinta orang tua :3

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s