Kisah Sebentar

Kadang, suasana hujan yang bukan gerimis namun juga tak deras seperti malam ini, membuatku teringat akan suatu waktu.

Senja itu, ketika kecamuk rindu pada akhirnya berujung temu.

Kami menghabiskan waktu bersama. Dimulai dengan menonton film yang katamu menarik; Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Tapi kesanku setelah menontonnya malah bingung bukan main.  Untungnya kamu sabar menjelaskan, dan sekarang? Kini aku jadi suka kelima seri buku setelahnya. Bahkan pada akhirnya aku membaca kesemua karya penulisnya.

 

Frau – Mesin Penenun Hujan (so worth to hear)

 

Senja lalu berganti petang, ketika hujan dengan tiba mengguyur dan membuat kami kebingungan.

“Aku lapar, tapi hujan,” desahku dalam hati.

Ditemani kebekuan temu dan tetesan hujan, aku meratapi perut keronconganku.

“Makan, yuk!”

“Mau, tapi hujan,”

“Hmm, iya sih.”

Lagi-lagi sunyi. Tersisa beberapa orang saja yang seperti kami. Menikmati atau mungkin meratapi guyuran hujan.

“Nih, pakai jaketku. Yuk, makan!”

Aku merasakan sesuatu menyentuh kepalaku.

“Tungguin dong!”

Petang berganti malam, kami masih diam sambil menikmati semangkuk bakso, ditemani gerimis yang titik-titik airnya masih turun dengan konstan.

“Habis selesai makan, beli es krim yuk! Mau?”

“Mau banget!”

Aku tersenyum lebar. Ternyata kamu mengingatnya, perempuan sepertiku tidak pernah menolak dua jenis makanan ini, es krim dan coklat.

“Enak?”

“As always, es krim nggak pernah bikin aku kecewa.”

Gantian kamu yang tersenyum lebar sambil menatapku.

Yang kemudian aku tersadar tatapan itu bukan untukku.

Senyum lebarmu juga bukan untukku.

Apalagi hatimu.

68 pemikiran pada “Kisah Sebentar

    • Dari awal sebenarnya kata ‘kami’ nggak menunjukkan mereka sedang berdua lho kak xD
      Memang membingungkan, tapi intinya lelaki itu hanya melihat seseorang yang hadir di sebelahnya, teman si Aku. Jadi pertanyaan atau pun semua yang dilakukan lelaki tersebut hanya untuk seseorang yang berada di sebelahnya di aku. Si aku ini hanya menjawab dalam hati semua pertanyaan dari lelaki yang memang sebenarnya bukan ditujukan untuk dia, tapi menganggap seolah-olah lelaki itu sedang bertanya pada si aku
      Duh, panjang ya jelasinnya muehehe maaf kak kalau membingungkan ._.

  1. Dulu pernah punya pengalaman Kisah Sebentar juga, dan kalo diinget2 rasanya itu manis-manis getir. Semoga ke depannya gak ada lagi..

  2. “Yang kemudian aku tersadar tatapan itu bukan untukku.
    Senyum lebarmu juga bukan untukku.
    Apalagi hatimu.”

    Aaaa baper aku mbak 😂

    Btw, salam kenal mbak Aziza 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s