Tentang Pasangan Hidup

Saya tidak benar-benar tahu bagaimana rasanya memiliki kekasih. Lalu, kekasih yang seperti apa sih yang sebenarnya saya dambakan? Jawabannya jelas beragam. Di samping agama dan keturunan yang baik, saya berandai…

Pertama, dia adalah seseorang yang bisa menghargai pendapat saya minimal dengan menjadi pendengar yang baik.

Kenapa? Sederhana saja, saya ingin didengar, saya ingin diakui.

Kedua, dia adalah seseorang yang tidak malu untuk menunjukkan kasih sayang.

Kenapa? Karena saya cenderung jaim dan gengsi untuk mengungkapkan atau mengekspresikan rasa cinta saya.

Ketiga, dia adalah seseorang yang gemar tersenyum.

Kenapa? Rahasia!

Keempat, dia adalah seseorang yang tidak kolot.

Oke, kenapa saya sampai harus menulis kata kolot di sini? Karena dari beberapa cerita teman saya yang punya teman yang sudah menikah, ada pasangan mereka yang melarang teman saya untuk keluar dari rumah, melarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, melarang bertemu teman lama, melarang bekerja, dan sebagainya. Bagi saya itu jadi masalah ya. Karena bagaimana pun, seorang istri punya hak untuk terus mengembangkan diri meski statusnya sudah bersuami.

Kelima, dia adalah seseorang yang memiliki setidaknya satu hobi yang sama dengan saya.

Kenapa? Ya kenapa nggak? Kan asyik, kalau misal sama-sama suka baca buku, nanti bisa saling bertukar isi ceritanya, saling bertukar gagasan atau pro kontra dari isi bukunya. Seru kan? Selain itu, kalau dari hobi yang sama bisa mendatangkan rejeki, kenapa nggak?

Keenam, dia adalah seseorang yang bisa menerima saya apa adanya.

Oke klasik dan biasa banget, tapi itu yang paling dibutuhkan lho, duhai lelaki.

Ketujuh, dia adalah seseorang yang to the point.

Kenapa? Iya, karena saya nggak paham kode-kodean. Kalau mau dimarahin ya langsung dimarahin aja, it’s ok. Ketimbang misuh-misuh sendiri nggak jelas, nanti malah saya kira lagi kesurupan.

Kedelapan, dia adalah seseorang yang kalau tidur lampunya harus dimatikan.

Ini mutlak dan harus, pokoknya! Hahahahaha.

Kesembilan dan kesepuluh, mungkin ada yang mau kasih saran? Saya bingung mau nulis apa lagi wkwkwk.

Duh, kelihatan banget ya tulisan ini ditulis sama bocah, hehehe.

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan #10DaysKF dari akun twitter @KampusFiksi

Tolong jangan dianggap serius, tapi kalau memang ada yang serius, bisa datang ke rumah. Kalau mau serius jangan setengah-setengah. #eeeehhh #candadoang

50 pemikiran pada “Tentang Pasangan Hidup

  1. Aduh deh, sini aku lamar udahan kamu, dewasa deh dan satu pemikiran :* ((eeeh))

    hmm aku sih, yaa kayak 2 the point itu komunikasi, pokoknya apa2 diskusikan dgn baik. Komunikasi, percaya, dewasa, udah! haha

      • mgkn sudah trbiasa dinyalakan Aziza…kl dimatikan malah takut, serem ah, apalagi kl habis nonton film horor, wuah ga bs tdur smlman gegara ngecek setiap sudut ruangan 😆

      • Oh gitu kak, dulu waktu SD aku juga gitu, tapi setelah masuk pesantren jadi bisa dan malah seneng kalo dimatikan lampunya 😄
        Kak Cinta mungkin nggak takut gelap, tapi takut sama sesuatu yang ada di dalam gelap 😳

  2. ah.. itu kebanyakan…
    mending satu aja.. Pengertian…
    orang yang mengerti pendapat kamu, yang mengerti dengan mendengarkan kamu, mengerti cara menyayangimu, mengerti walau perbedaan hobi tak membuat hubungan menjadi renggang, mengerti dengan ikut tidur walau tidak suka lampu padam.
    Dan kebanyakan cowok itu sulit mengerti cewek. itulah masalahnya

    • Maklum kak Nur, pengalaman cinta-cintaan masih nol, masih nggak tau apa-apa 😂
      Hmm benarkah kebanyakan cowok sulit mengerti cewek? Kirain cuma kakak sama adikku aja yang begitu kak 😂
      Eh tapi nggak sedikit juga lho kak cewek yang nggak mau mengerti cowok 😢

  3. yg kita mau hampir sama zah, aku tambahin ya..
    9/Humoris 10.pinter masak 11.gak alay dan gak hoby selfie (yg ini wajib) 😛
    oh ya bertanggung jawab itu harus diletakkan setelah “baik agamanya” 🙂

  4. Amin amin, semoga yang datang melamar dan menjadi pasangan hidupnya nanti adalah orang yang terbaik ya Mbak, hehe. Siapa tahu saja ada seseorang di luar sana yang selama ini memandang dirimu dari jauh, dan setelah membaca ini mulai sedikit berusaha mengubah diri supaya paling tidak sesuai dengan apa yang dipinta, hihi. Bagaimanapun kan ini bagaikan doa supaya mendapatkan pasangan yang tepat, iya kan?

    • Duh, komentarnya kak Gara bikin senyum-senyum sendiri wkwkwk :’)
      Aamiin kak aamiin, kalau pun tidak sesuai ya sudah tidak mengapa, toh namanya jodoh sudah digariskan sejak kita belum lahir 🙂
      Iya kak Gara benar sekali 😀

  5. Ea…. Udah punya gambaran nih ehem. Tapi nurut saya ya aziza, terkadang cinta itu aneh. Kadang meskipun kita tidak menyukai orang karena tidak sesuai dgn kriteria kita, kita bakalan ttap cinta. Ntar gitu malu sendiri loh sama pasangan klo dia baca postingan kamu.

    • Iya ya kak, cinta memang aneh. Tapi nggak ada salahnya juga berandai kan kak? Tenang kok kak, aku realistis, dan perandaianku sepertinya masih dalam taraf yang wajar, nggak muluk-muluk. Aih aku emang suka malu-maluin kak, udah biasa wkwkwk 😂

  6. Waah kriteria yang kedelapan bener2 anti mainstream 😂😂😂 semoga nanti bertemu pasangan hidup yang memenuhi kriteria2 diatas terutama yg kedelapan ya mba Azizatoen.. 😊 salam kenal 😉

  7. Wkwkwk.. Kamu nulis apa lagi ini 😂😂😂 Entah apa yang terjadi waktu itu. Puber kedua?? Haha, jelas udah gede sih ya. Btw ini namanya udah ngasih lampu ijo. Pengemudi2 di luar sana tinggal menyesuaikan kecepatan supaya bisa lolos… Atau nggak keduluan dari yang lain 😂😂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s