Tentang Kejutan

Malam itu, aku masih ingat betul, aku sudah mengunci semua pintu rumahku. Ayah dan Ibu sedang berlibur ke Bali, sedangkan adikku menginap di rumah temannya, mau mengerjakan tugas katanya. Baiklah, aku di rumah sendiri.

Jam 10 malam, aku mengantuk. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur setelah selesai mengecek kembali semua pintu di rumah. Sudah aman, pikirku. Sambil mencoba terlelap, aku mendengarkan musik. Tak lama, aku mendengar telepon rumah berbunyi.

“Ah males banget ngangkatnya, biarin aja ah, siapa juga yang larut malam begini nelpon?” pikirku, tak ambil pusing.

Kali ini gantian ringtone handphoneku yang berbunyi menggantikan nada lagu yang sedang kuputar. Ah, Ayah telepon.

“Halo Ayah, ada apa ya?”

“……..”

“Yah?”

“……..”

“Ayah? Kok diem?”

“……..”

“Kenapa Yah? Halo halo?”

Lalu terputus.

Kali ini aku mulai sedikit panik, kenapa Ayah hanya diam saja ditelepon? Aku terus bertanya-tanya sampai telepon rumah kembali berbunyi. Baiklah, kali ini akan kuangkat, siapa tahu Ayah yang menelepon. Aku beranjak ke ruang keluarga.

“Halo selamat malam, dengan kel…”

“Ardi, ini Ayah nak”

“Oh Ayah, ada apa Yah?”

“Ardi, kalau dapat telepon dari nomor Ayah jangan diangkat ya! Jangan diangkat pokoknya!” Kata Ayah dengan nada yang mencurigakan.

“Kenapa memangnya Yah?” Aku mulai panik karena tadi aku sudah mengangkatnya.

“Udah pokoknya jangan diangkat! Jamil mana? Udah tidur?”

“Jamil kan masih di rumah temannya Yah, masih ngerjain tugas, sekalian nginap katanya”

“……”

“Yah, kok diam?”

“……”

“Ayah?” Aku semakin cemas. Hanya terdengar embusan napas di seberang sana.

“Ardi… Satu jam yang lalu Jamil menelepon Ibu, katanya dia tidak jadi menginap di rumah temannya. Jamil nggak ngabarin kamu? Harusnya Jamil udah di rumah sekarang”

“HAH?” Aku histeris.

“Coba jangan panik dulu, tolong hubungin Jamil ya Nak, tanya posisi dia ada di mana sekarang” kata Ayah dengan nada tenang yang dipaksakan.

“Iya Yah aku coba, tapi kenapa aku nggak boleh angkat telepon dari nomor handphonenya Ayah, Yah? Terus sekarang Ayah dimana? Nelepon pakai handphonenya siapa?” Aku bertanya banyak karena semakin cemas.

“Ini Ayah masih di Bali, handphone Ayah hilang nggak tahu entah jatuh entah dicuri. Pokoknya jangan diangkat, bahaya!” Ayah bicara dengan tegas.

“Ta.. Tapi… Tadi Ardi udah angkat Yah. Tadi ada telepon masuk dari Ayah di handphone, masak iya Ardi nggak angkat” jelasku.

“Kkk ka kamu tadi angkat?” kudengar suara Ayah ketakutan.

“CEPAT KELUAR DARI RUMAH SEKARANG, ARDI!”

Aku terlonjak, kaget bukan main, Ayah tidak pernah berbicara sekeras ini sebelumnya.

“Kenapa Ardi harus keluar dari rumah Yah?”

“JANGAN TANYA-TANYA, CEPAT KELUAR, BAHAYA!” Nada Ayah semakin tinggi.

“ARDI HARUS KELUAR KEMANA YAH?” Aku bertanya sambil teriak, takut.

“SEJAUH-JAUHNYA! BAWA MOTOR ATAU MOBIL! AYO ARDI JANGAN KEBANYAKAN MIKIR, INI SOAL NYAWA KAMU!” Ayah sepertinya sudah teramat takut dengan keselamatan diriku.

“Oke Yah, Ardi pergi sekarang”

“Hati-hati Nak” sepertinya Ayahku sedikit lega.

Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil jaket di kursi dan bergegas ke ruang tamu mengambil kunci. Eh tunggu, Jamil bagaimana? Aku sampai lupa soal Jamil. Segera aku menelepon Jamil.

Tidak diangkat.

Masih juga tidak diangkat.

Duh Jamil, kamu kemana sih? Angkat dong!

Sambil masih menelepon Jamil, aku membuka pintu rumah,

“SURPRISE!!!! SELAMAT ULANG TAHUN ABANG ARDI!!!”

Aku melompat saking kagetnya. Terlihat ada Ayah, Ibu, Jamil, Pakdhe, Budhe, Om, Tante, dan para sepupu yang sukses mengagetiku.

“Ini apaaa?” masih terkejut, aku mencoba menelaah apa yang baru saja terjadi.

Aku dikerjai.

Aku, Ardi yang hari ini berumur 20 tahun dikerjai.

Ucapan selamat seketika berjejer mengantri padaku, aku yang dari tadi takut setengah mampus sampai lupa sedang menahan pipis.

“Bentar ya Yah, Bu, Pakdhe, Budhe, Om, Tante, Ardi ke toilet dulu, kebelet nih.”

Aku pipis. Lalu basah. Eh kok basah? Tunggu tunggu. Kenapa basah?

Aku membuka mata dengan earphone masih menempel di telingaku. Sial! Lagi-lagi mimpi bikin aku mengompol lagi!

Aku keluar kamar masih dengan celanaku yang basah. Ayah sepagi ini sudah berdebat saja dengan Ibu. Oh tumben, piring pagi ini yang pecah hanya dua, biasanya bisa sampai lima. Lalu kulihat Jamil, ia sedang menonton pertengkaran Ayah dan Ibu sambil meracau, “Udah Bu, udah Yah, cerai aja kalian! Hahahahaha!”

Kulihat ada lebam di bawah mata Jamil, dan beberapa luka bekas pecahan piring di lengan dan tangannya.

Sial.

-N- 


Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan #10DaysKF dari akun twitter @KampusFiksi

42 pemikiran pada “Tentang Kejutan

  1. Bagus za ceritanya. Cuma karena judulnya udah ngasih tahu kejutan, jadi udah mikir kejadiannya cuma dijahili. Coba judulnya lain dan tidak menggambarkan isi, tentu bagus sekali cerita di atas.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s