Tertawa Hahahaha

Di semester enam yang baru berjalan tiga minggu ini sepertinya saya terlalu banyak tertawa. Terlalu banyak energi yang saya habiskan hanya untuk tertawa. Hari ini saja perut saya sudah sakit tiga kali karena terlalu sering tertawa. Aih, padahal menurut hadist, sering tertawa membuat hati menjadi keras kan ya? :’)

Entahlah sudah berapa kali teman saya bertanya mengapa akhir-akhir ini saya sering tertawa. Bertanya untuk memastikan apakah benar saya masih normal atau tidak. Bertanya apakah ada seseorang yang membuat saya bisa tertawa selepas ini. Padahal sebenarnya, saya juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini saya jadi mudah tertawa. Sampai suatu hari, beberapa hari yang lalu, teman saya dari dimensi lain (sebut saja bukan teman karib) berkata,

“Emang yo nek kakehan masalah ki dadi seneng ngguyu-ngguyu wae. Aku yo akhir-akhir iki seneng ngguyu mboh opo sebabe” (Emang ya kalau kebanyakan masalah tuh jadi suka ketawa-ketawa terus. Aku ya akhir-akhir ini jadi suka ketawa padahal nggak tau penyebabnya apa).

Saat teman saya berkata seperti itu, dia mengakhirinya sambil tertawa. Saya pun juga akhirnya merespon ucapannya dengan ber he’eh medok dan tertawa. Sesampainya di rumah, saya jadi terus memikirkan perkataan teman saya. Dia benar.

Tidak selamanya kita tertawa karena sebab-sebab lucu terjadi. Tidak selamanya kita tertawa pada sesuatu yang lumrah untuk ditertawakan. Karena kadang, kita tertawa untuk hal-hal yang sebenarnya kita sudah lelah mengatasinya. Karena kadang, kita tertawa untuk memaksakan beban-beban di dalam diri kita terangkat. Lucu juga ya, menertawakan masalah padahal sebetulnya masalah tidak akan hilang hanya dengan ngguyu saja. Semua orang tahu itu.

Tetapi, kenapa saya masih memilih untuk terus tertawa?

~~~

Hari ini saya banyak tertawa bersama kawan bloger dan juga kawan sebangku di kampus:Β Reye. Kami punya selera humor yang sama, sama-sama receh. Jadi tadi di kantin, di kelas, dan di depot kami banyak tertawa untuk hal-hal yang sebenarnya nggak terlalu lucu. Pernah lihat video bayi disuapin tapi nggak jadi? Tadi kami ketawa ngakak cuma karena lihat video itu. Juga videoΒ ini, Reye ngakak sampai keluar air mata dan minta diulang terus videonya. Bahasan soal Raja Salman yang khusus bawa eskalator dari Arab juga bikin kita ngakak nggak tau malu di depot.

“Mungkin keringatnya Raja Salman itu dosa kali ya”

“Bayangin dia duduk terus bangun udah sampai aja ke tempat yang dia tuju”

Sebetulnya kami sudah lama berjanji untuk membuat tulisan bertema ‘Dingin’, namun nyatanya tema itu terlalu sulit untuk direalisasikan. Jadi, biarlah kali ini temanya direvisi menjadi tulisan bebas, dan saya memutuskan untuk menulis tulisan gaje seperti di atas hahaha. Yang penting menulis ya, Rey? Sudah lama kita absen di sini… **membungkuk sopan lalu meminta maaf**

Selamat datang semester enam! KKN, magang, dan judul skripsi, kami dataaang!

43 pemikiran pada “Tertawa Hahahaha

      • It hurts maksudnya apa za wkwk. Sense of humor ku juga tajam, nggak bisa ngeliat hal yang lucu dikit. Aku sebisa mungkin coba ingat hadist ‘mematikan hati’ itu lagi kalau dirasa udah kelewatan. Seandainya tahu itu lebih cepat…

      • Sakit di perut kak kalau kebanyakan ketawa wkwkwk πŸ˜‚
        Aih, rasanya juga bersalah tiap malam mikirin udah berapa banyak aku ketawa hari ini, tapi besoknya masih aja ketawa terus. Mungkin memang lagi fasenya aja ya kak πŸ˜‚
        At least kak Fadel udah mencoba mengingat hadistnya, udah diitung kebaikan juga insyaAllah πŸ˜‡
        Btw, gravatarnya kaya kenal, lagi di China ya kak? Oleh-oleh dong πŸ˜‚

      • Fase wkwkwk…
        Entah apa yang bisa kubawa dari China situ za πŸ˜‚. Tetapi ya karena udah ketauan, nanti deh kalau aku ke China lagi, pulangnya aku mampir ke rumahmu. Eh atau sebelum ke China aku mampir ke rumah dulu karena searah. Yang mana aja nggak masalah, toh sama-sama deket πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      • Wkwkwk bener ya kak kalau seandainya nanti ke China lagi πŸ˜‚
        Duh, ndak tau kok aku ngakak baca komennya, Chinanya ini China yang lain, China versi irit duit πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

  1. Bahagia itu sederhana..
    mungkin tertawa adalah simbol yang melambangkan bahagia..
    kalau senyum bisa di palsukan, tapi kalau tertawa terbahak2, bukankah itu susah kalau dibuat-buat
    tertawalah sebelum tertawa itu di bandrol 10000 per detiknya. wkwkwk

    • Hmm ada benarnya juga kak Nur, tapi nggak sedikit juga lho ada orang yang menutupi kepedihan hidupnya dengan tertawa, contohnya orang gila πŸ˜‚
      Waduh bisa bangkrut aku kak kalau ketawa kudu bayar wkwkwk

  2. Tubuh kita merespon dengan baik. Saat dia butuh ketawa dalam porsi besar, maka terjadilah. Hal-hal kecil pun akan jadi sangat lucu.
    Maaf kalo teorinya ngawur. Hahaha.
    Nganu, mulutnya ditutup aja kalo pas ketawa Mbak ya. Biar lalat gak bisa masuk.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s