Belajar Berumah Tangga dari Hello Counselor

Anyeong! Balik lagi di postingan kekoreaan. Eits tunggu dulu, sebelum di skip, biar saya kasih tahu, tulisan ini nggak ada hubungannya sama drama korea atau k-pop ya! Seriusan!

Kalau kalian mengira sesuatu yang menarik di Korea Selatan cuma drama sama k-popnya aja, kalian salah besar! Masih banyak kok hal-hal menarik di sana, salah satunya program acara berupa talkshow yang berjudul Hello Counselor. Kalau yang penasaran bisa baca deskripsi lengkapnya langsung dari wikipediaΒ ya. Ringkasnya, program acara Hello Counselor ini isinya berupa dua subyek yang menjadi tamu (satu subyek sebagai korban, satunya lagi sebagai pelaku) yang saling berbicara dengan mediasi dari para pembawa acara. Jadi si korban ini awalnya menceritakan permasalahannya, kemudian si pelaku diberikan kesempatan untuk membela diri, mengakui kesalahannya, dan sebagainya. Yang menjadikan program acara ini menarik bagi saya adalah karena permasalahannya yang nggak jauh beda sama permasalahan di Indonesia. Salah satunya adalah permasalahan dalam berumah tangga!

Ada beberapa permasalahan yang membuat saya jengkel setengah mati, terharu, ingin berkata kasar sewaktu menontonnya,

1. Tentang seorang anak yang merasa tidak dicintai oleh Ayahnya karena Ayahnya hobi menggoda atau mengejeknya.

Jadi di dalam video di atas diceritakan ada seorang anak yang merasa tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya. Ayahnya sering mengejek dan pilih kasih. Pernah suatu waktu, si anak mewakili sekolahnya untuk lomba origami tetapi sang Ayah malah mengejek dan berkata apa yang dilakukan anaknya itu bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Pernah juga si anak ini menjadi wakil presiden, dan respon Ayahnya cuma, “semua orang bisa jadi wakil presiden”. Saya langsung marah, ini Ayahnya kenapa sih sama si anak sulung kok jahat banget. Yang bikin saya ketawa itu waktu Ayahnya ditanya sama pembawa acara, “Ayah, apa kamu pernah menjadi wakil presiden? Semua orang kan bisa jadi presiden!” Hahaha Ayahnya cuma ketawa sambil nundukin muka, kemakan omongannya sendiri pada akhirnya.

“Lihatlah, dia anak yang hebat, dia bahkan bisa melakukan apa yang tidak bisa kamu lakukan, Ayah!”

2. Tentang istri yang mengeluhkan suaminya karena tidak menjalankan tugasnya sebagai suami dengan baik.

 

Pada intinya dari kedua video di atas menceritakan tentang suami yang belum cukup dewasa untuk menjadi seorang suami. Mereka masih suka hangout sampai malam, pulang-pulang kerjaannya mabuk, pengangguran, dan nggak mau ngurusin anaknya. Komentar saya setelah menontonnya kurang lebih seperti ini,

“Hah! Apa kamu bilang? Anak itu urusan Ibunya doang? Heh sadar plis tulung, kamu Ayahnya si bayi lho, A-Y-A-H!”

“Yasalam kebablasan banget ini mabuk-mabukan nyampe nggak sadar anaknya ditindihi!”

“Ya Allah ngehabisin duit semalam nyampe 2000 dollar cuma buat di club doang. Insyaf Bapak…”

“Liat itu istrimu nangis, istrimu nangis gara-gara kamu nggak becus jadi suami, Pak!”

Intinya ditonton aja, karena mungkin kalian juga akan merasakan kemarahan yang sama seperti saya ketika menontonnya.

3. Tentang seorang anak kelas enam SD yang merasa lelah karena harus mengurusi adik kembarnya sendirian.

Singkat cerita dari video di atas adalah ada seorang anak sulung yang mengurusi adik kembarnya sendirian. Kenapa sendirian? Karena Ibunya sakit-sakitan dan Ayahnya yang nggak mau peduli alias bodo amatlah. Saya nangis waktu nontonnya, seorang anak yang masih kelas enam SD harus mengurusi dua anak kecil sendirian? Bapak mana Bapak? Di mana? Ternyata kata si anaknya ini Bapaknya cuma ongkang-ongkang kaki doang di rumah, nggak mau ikutan ngurusin anaknya. Si Ibu sebenarnya juga salah sih, karena kurang bisa melakukan pendakatan sama anaknya, Ibunya jadi nggak pengertian sama adik kecil menyedihkan itu. :’)

Ada satu kalimat dari si anak ini yang masih saya ingat sampai sekarang, waktu itu pembawa acara tanya, “Apakah kamu tidak pernah meminta sesuatu dari orangtuamu?”

Jawaban si anak ini bikin saya makin sendu,

“Semakin aku bertambah besar, semakin sedikit hal-hal yang kuharapkan dari orangtuaku”

Lalu saya nangis sekebun. :’)

~~~~~

Sebenarnya ada banyak lagi video-video yang bisa saya tunjukkan, tapi biarlah rasa penasaran kalian yang menuntaskannya. Pada intinya, ada banyak hal, hal-hal diluar ekspektasi kita mengenai pernikahan (yang katanya indah dan menggelora).

Pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah mungkin akan membuat kita berpikir dua kali soal pernikahan;

“Kamu bisa bertahan hidup dengan dirinya sampai kamu tua nanti? Sebaik atau seburuk apapun tabiatnya?”

“Apakah hanya dengan memiliki anak, aku dan kamu bisa berbahagia selamanya?”

“Bisakah kita saling menghargai satu sama lain untuk Β selama-lamanya?”

“Jika kita menginginkan buah hati, sudah siapkah kita menjadi orangtua yang pantas untuknya?”

“Kita akan berada di kasur yang sama setiap malam, sampai ajal memisahkan kita. Apakah kamu akan betah mendengar dengkuranku yang mungkin akan mengganggu tidurmu?”

“Apakah kamu masih bisa melihat wajahku dengan perasaan yang sama seperti pertama kali kamu menyatakan cinta kepadaku?”

“Aku sedang sakit, bisakah kamu membantuku membersihkan pekerjaan rumahku/pekerjaan kantorku?”

“Apakah kita akan saling mengakui kesalahan jika memang kita melakukannya?”

“Apa yang akan kita lakukan kalau suatu saat nanti anak kita menuntut haknya untuk diperlakukan sama dengan saudaranya yang lain? Bukankah kita sudah menjadi orangtua yang tidak adil?”

“Bisa tidak kita untuk saling tidak menyakiti satu sama lain, mendukung satu sama lain, dan mengingatkan satu sama lain, untuk selama-lamanya?”

Hayo gimana, masih pada mau nikah?

EH SALAH!

Hayo gimana, masih pengin keburu-buru nikah?

Hehehe, salam damai. Kkeut.

 

22 pemikiran pada “Belajar Berumah Tangga dari Hello Counselor

  1. Dalam rumah tangga selalu muncul masalah yang harus disikapi dengan bermusyawarah utk mencari jalan keluar… Klo dilihat buruk nya mungkin pada takut nikah, tapi kalo dilihat sisi baiknya, maka banyak yang pada pengen cepet nikah… Hehe

    • Padahal seringkali orang melihat sisi baiknya tanpa memperdulikan sisi buruknya. Kayanya pernikahan itu ibarat gunung es. Sisi baiknya keliatan besar di atas permukaan laut. Padahal di bawah laut, jauh lebih besaaar lagi hehehe πŸ˜…

    • Nggak suka sama orang korea kok kak, suka sama dramanya aja #ehh
      Iya kak, kalau ngeliat acara ini jadi tersadar orang-orang korea nggak jauh beda sama orang-orang di sini, tapi tentu orang-orang di sini ramahnya nggak ada yang bisa nandingi wkwkwk

      • oya bahas penain anak2 nya dong hehe atau pemain pendamping yg sering kali lebih menarik dri pada pemeran utama haha kayak yg d goblin itu anak kecil lucu bener, terus yg d legen of blue sea itu anak kecil juga keren trus gembel itu juga keren haha..

      • Aku malah kadang nggak peka sama pemain figuran lho kak, juga aku belum menonton legend of blue sih, itu episodenya banyak soalnya hehehe πŸ˜…

  2. Omo… belum pernah liat Nduk. Kebanyakan nonton kdramanya.

    Buru-buru nikah???
    Nikah kan bukan balapan lari… πŸ˜„πŸ˜„

    • Coba nonton deh kak Momo, kalau udah nonton bawaannya pengin lanjutin terus πŸ˜‚
      Yak bener kak, ini yang harusnya termindset di otak-otak kaum hawa ya kak! πŸ˜‚

  3. Hadeh ini kok berat bahasannya. Cuma klo sering2 liat beginian kita bisa koreksi diri biar jadi manusia yg lebih baik lagi. Biar gak melakukan hal-hal buruk di masa depan.

  4. Tapi agak beda ya dengan acara sejenis yang ada di Indonesia. Saya belum menonton videonya sih, tapi menurut saya tujuan acara ini lebih tulus, lebih ke bagaimana menarik pembelajaran dan menemukan solusi terbaik dari problema manusia yang jadi peserta. Beda dengan acara sejenis di Indonesia (saya tak usah menyebut judulnya ya), yang ditonjolkan lebih ke perkelahian dan kata-kata kasarnya. Padahal dari sejarah kehidupan orang lain kita mesti belajar. Bukan berarti kita akan mendapat masalah yang sama, tapi kita sudah punya modal menghadapi hidup.

    • Setuju kak Gara, acara sejenis Hello Counselor mungkin memang nggak akan pernah dibikin di Indonesia, nggak laku kalo dibandingin sama Rumah Uya dsb, yang identik sama skenario dan pertengkaran palsu. Sebagian orang di Indonesia masih belum kuat dikasih tayangan yang mendidik kak πŸ˜…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s