Dukanya Menjadi Jurnalis (Magang)

Yeay malam minggu, akhirnya! Setelah kemarin saya menulis soal ‘Sukanya Menjadi Jurnalis’, sekarang saya mau menulis soal dukanya menjadi jurnalis. Jujur, awalnya saya bingung mau nulis apa, karena selama ini saya enjoy-enjoy saja menikmati kegiatan liput-meliput. Tapi setelah merefresh otak, akhirnya saya menemukan duka-dukanya menjadi jurnalis. Tenang, tetap lebih banyak sukanya kok!

Oke dimulai saja.

Dukanya!

Dikejar tayang

Halooo, mana ada sih jurnalis yang nggak kejar tayang? Meskipun hitungannya saya ini jurnalis magang dan berita kami ditayangkan hanya seminggu sekali, bukan berarti kami bebas dari deadline. Saya dan teman-teman statusnya masih mahasiswa, yang punya kesibukan kuliah dan bersenang-senang, tentunya kami juga merasakan yang namanya dikejar tayang. Rapat redaksi setiap Rabu malam, bertemu, berbagi ide liputan, pembagian tugas liputan, lalu batas editing atau deadline membuat berita jadi ditentukan. Tapi apalah daya, kami yang mahasiswa punya hobi menunda-nunda ini, pada akhirnya sering kelabakan karena deadline nggak kekejar. Saya sih memang nggak pernah ikut ngerasain ngelembur ngedit gelondongan (istilah untuk mengedit keseluruhan ketiga segmen berita, jadi Kompas TV Jateng memang meminta hasil yang benar-benar jadi yang siap ditampilkan di televisi) nyampe jam dua malam, maklum saya anak rumahan, yang tiap jam sembilan malam aja udah ditanya kapan mau pulang kalau nggak segera pulang, pagar rumah digembok lalu saya manjat pagar. Tapi saya pernah ngerasain kok nggak tidur semalaman cuma untuk mengedit video liputan atau pun tugas kuliah.

Pelajaran yang bisa dipetik dari dikejar deadline adalah: santai, semuanya pasti selesai. Nggak usah dikerjain juga nanti liputannya ngerjain dirinya sendiri.

Nggak digaji

“Yah namanya juga mahasiswa, yang penting kan pengalamannya dapet bro sist,”  atau jawaban bercanda seperti “Nggak digaji nggak masalah bro sist, yang penting bisa buat menuhin CV,” itu jawaban saya tiap kali ditanya soal, “Emang jadi jurnalis dapat gaji berapa sih?”

Sebenarnya kami digaji Kompas TV Jawa Tengah. Tapi tapi tapi, semua gaji nggak pernah masuk ke kantong kami para jurnalis. Kenapa? Gaji kami masuknya ke bendahara, dipakai untuk memperbaiki sarana-prasarana liputan yang seringkali rusak atau butuh beli baru. Kaya clip on, kamera, baterai, CPU rusak, hard disk rusak, dan blablabla. Jadi ya kami memang nggak digaji secara personal.

Liputan tetap jalan di segala kondisi cuaca

Nah ini, ada beberapa kali liputan saya terhambat gara-gara cuaca. Tapi semuanya masih aman terkendali kok. Jadi, setiap kami kedapatan liputan outdoor, yang bisa kami lakukan hanya pasrah dan berusaha semampunya. Pernah saat itu saya sedang liputan di Waduk Undip, ketika saya sedang asyik mengambil video para dosen dan mahasiswa yang sedang senam, tiba-tiba hujan deras turun. Lalu? Acaranya dipending dong. Dari yang tadinya acara bisa selesai cuma dua jam, jadi lima jam. Padahal siangnya saya kebagian jatah liputan lagi. Nasib, nasib, nasib. Mau nggak mau ya saya nunggu, sambil berdiri, soalnya kalau jongkok kesemutan, kalau duduk nggak ada tempatnya wkwkwk.

Teman saya ada yang lebih ngenes lagi. Pernah waktu itu kebagian jatah ngeliput konser. Sebelum acara dimulai hujan emang udah turun dan dipending sementara. Eh ndelalah, tiba-tiba ada angin kencang yang teramat kencang disertai hujan deras. Terus? Panggungnya roboh dong, stand-stand bertebaran dengan begitu indahnya, penonton juga tidak ada, ditambah, gensetnya nggak kuat. Lalu panitia memutuskan menghentikan konser sebelum dimulai. Dan bisa dibayangkan dong ekspresi teman saya yang sudah standby sejak acara belum dimulai sambil basah-basahan. Teman saya langsung misuh-misuh di grup dan kami semua menertawakannya. Ya begitulah indahnya pertemanan di antara jurnalis. Hahahaha.

Nggak pernah libur

Kadang suka kesel sih sama yang tanya “Kok kamu liputan terus sih? Nggak dikasih jatah libur ya?” Iya saya kesel karena emang sejatinya kami para jurnalis nggak pernah libur. Jadi tiap saya ditanya begitu, saya jawabnya “Pernah lihat ada TV berhenti atau libur nyiarin berita nggak? Nggak kan?”

Bukan nggak pernah libur sih ya lebih tepatnya. Kami diberi waktu libur tiap semesternya paling lama sebulan. Itu pun karena dibentuk tim per tim jadi kami bisa tetap merasakan liburan selepas UAS. Ya tapi liburnya kami tetap nggak libur sih, karena kadang ada tim yang sedang bertugas liputan kebingungan, kehabisan ide, atau tiba-tiba berhalangan liputan, mau nggak mau sesama jurnalis kami saling bantu. Entah itu kasih ide, atau pun gantiin liputan teman. Tragisnya, kalau lagi liburan, koordinator liputan (atau atasan) kami seringkali berpesan untuk membuat liputan feature (liputan yang tidak serius seperti jalan-jalan atau pun kulineran) di daerah asal masing-masing. Hamdalah karena saya di Semarang, saya nggak pernah bikin, paling hanya menggantikan teman yang berhalangan untuk liputan.

Dapat pengalaman buruk

Sebentar, ini saya curhat ya. Sebelum menjadi jurnalis magang, tentu sebelumnya ada open recruitment. Nah setelah lolos, saya diwajibkan mengikuti kegiatan peliputan selama dua bulan untuk mendapatkan kartu pers resmi. Setelah masa dua bulan percobaan, saya diinterview untuk ditentukan layak atau tidak mendapat kartu pers dan resmi menjadi kru. Nah saat interview inilah saya pernah merasa sakit hati yang teramat sakit hiks hiks. Waktu itu, saya diinterview oleh banyak orang, tapi ada satu pertanyaan yang membuat saya pengin nangis di tempat tapi saya tahan demi kartu pers. Pertanyaan itu seputar penampilan saya, sebelumnya biar saya jelaskan dulu, saya ini sudah dari SMA memakai rok, memakai celana hanya ketika olahraga atau di rumah saja. Jadi rok menjadi inti permasalahan interview. Kurang lebih pertanyaannya begini,

“Kamu emang sehari-hari pakai rok gitu?” (dengan nada merendahkan dan matanya senep banget dilihat suer)

“Iya kak, sudah dari SMA begini.”

“Gini ya, kalau kamu jadi reporter, rokmu itu nggak banget ditampilin di televisi. Belum pernah lihat ada reporter pakai rok kan?” (makin senep wajah kakaknya yasalam)

“Iya kak belum pernah,” Saya jawab lirih, antara kesel sama takut.

“Nah itu tau, terus?” (lah dikasih pertanyaan begini)

“YA TERUS GIMANA KAK ENAKNYA SAYA DISURUH PAKAI CELANA AJA GITU?” Itu saya jawab dalam hati pakai misuh-misuh saking kesalnya, sakit hatiku hiks hiks)

“Yasudah kak, kan saya nggak harus muncul di layar, saya kan bisa jadi reporter off-cam, atau bisa jadi camera person. Kalau memang harus pakai celana sih nggak bisa kak. Saya juga nggak tertarik tampil di layar,” Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut saya.

Karena situasinya memanas, akhirnya ada salah satu kakak yang baik hati menyuruh kakak bermata senep diam dan tak berkomentar lagi. Saya lega. Bukan, bukan karena ekspresinya saya jadi sakit hati. Saya lebih sakit hati karena saya disinisin begitu sama seorang kakak yang sejatinya dia berhijab. Kita sama-sama muslimah dan berhijab lho. Salahkah saya untuk tetap mencoba syar’i? Come on. Tidakkah kakak tahu sulitnya usaha saya untuk konsisten tetap memakai rok? Dan tidakkah kakak tahu menjadi jurnalis nggak selamanya harus muncul di televisi?

Yah begitulah, sampai sekarang saya masih ingat tatapan mata dan wajah kakaknya, tapi tidak namanya. Takutnya nanti saya stalkingin terus saya santet malah jadi benci sama dia.

Yak itulah kelima duka yang saya rasakan selama menjadi jurnalis magang. Overall, saya bahagia meski turut merasakan duka-dukanya menjadi jurnalis. Karena kalau saya melakukan sesuatu dengan hati yang bahagia, saya percaya semua akan berjalan baik-baik saja.

Sudah malam, saya pamit dulu ya, takehome UTS sudah memanggil saya, meminta untuk segera dikerjakan.

 

37 pemikiran pada “Dukanya Menjadi Jurnalis (Magang)

  1. Cantikan klo pake rok aziza. Lebih kewanitaan. Ya nanti berjuang yg keras biar jadi reporter pertama yg pake rok. Sukses selalu za
    …..

    • Aaak makasih banyak kak Shiq untuk supportnya 😆
      Siap sedia kak Shiq, doakan ya kak, aamiin, sukses juga untuk kak Shiq dalam segala urusannya 😇

  2. Ugh. Sini sini peluk dulu

    Semangat ya Ziza, semua mua itu bakal jd pengalaman baik, guru paling baik, dan ntar berat rindunya.

    Anyway, kamu udh bikin keputusan yang tepat. Walau aku sendiri masih susah pake rok, aku ngerasa ‘aneh’ aj klu rok dipermasalahin, menurutku *menurutku loh ya* pengambilan gambar bisa sampai sepinggang aja, and to be honest, we *audience* barely care, ngapain juga sih kita ngelirik2 rok si mbak kalau emang tujuannya berita haha

    • Peluk balik kak Ris 🙆
      Iya kak, pendapatnya kak Ris benar kok, reporter yang live memang nggak keliatan sampai bawah. Cuma kalau liputan kuliner atau jalan-jalan pasti keliatan sih 😂
      Nah iya, audience pasti lebih mengutamakan pembawaannya ketimbang penampilan ya kak wkwkwk 😂
      Mungkin memang mbaknya waktu interview lagi pms kali ya kak 😂

    • Hihihi tau aja kalo tampilannya udah ganti zah 😂
      Nah ayo! Makin yakin kan kamu zah untuk masuk ke komunikasi dan jadi jurnalis? Yuk semangat SBMPTNnya yaa! 😘😘😘
      Btw, besok UNBK Bahasa Indonesia ya! Keep fokeus ya! 😘

  3. Walaupun ada dukannya atau mungkin bnyak dukanya, klo kmu melakukanny dengan hati banget gk bkal ngerasa capek, trus yg ada seneng terus, duka mungkin cuma di rasain bntar trus berlalu gtu aja😄teteup semangaaaat zah😘😘

    • Iya kak Kunu, aku nggak pernah ngerasa lelah, kalau bosan sih memang wajar ya namanya juga rutinitas 😂
      Makasih banyak kak Kunu untuk semangatnya, sering-sering nyemangatin aku ya kak wkwkwk 😂

  4. Ziz, ngerjain apa yang disukai itu enak ya atau aku salah?? mungkin kakak itu ga mau ngeliat rok kamu dihembus-hembus angin sewaktu liputan karena itu bakalan memalukan buat reporter atau mau ngeliat kegigihanmu, seberapa keras kamu memperjuangkan hal tersebut dengan menunjukkan kelebihan lain yang akan membutakan matanya terhadap hal-hal seperti rok, tapi kalau memang cuma karena sekedar “ga banget” bagaimana kalau balas dendam seperti komen sebelumnya “berjuang yg keras biar jadi reporter pertama yg pake rok”, tak tambahin “yang dia lihat”

    • Iya kak, pekerjaan yang menyenangkan kan hobi yang dibayar, kata-katanya Kang Emil 😄
      Hmm bisa jadi sih kak, cuma memang aku nya aja ya yang terlalu berprasangka buruk 😂
      Balas dendam yang paling baik memang dengan karya ya kak 😆
      Makasih kak Awak motivasinya, jadi makin termotivasi lagi nih kak 😆

  5. Semangat mbaaak! Wkwk jurnalis, sempet bercita-cita juga dulu jadi jurnalis tapi setelah dipikir-pikir, ah nggak deh jadi anak pariwisata aja heuheu.

  6. Oh ditulis juga toh dukanya. Kirain karena nggak mau mengingat duka lebih baik tak tertuliskan haha. Yah semua duka yang ada di sini kebayang sih za. Sepertinya memang begitu bagi tiap jurnalis mahasiswa ya haha. Quote di bagian kejar tayang itu nggak banget za wkwk.. Seandainya diterapkan di skripsi… *menerawang* *lalu geleng2 cepet*

    Aku pribadi nggak terlalu masalah tentang masalah nggak digaji di sini, selama biaya transport, tiket, atau apapun biaya lain itu diakomodir. Tapi ya kalau alasan gajinya jatuh buat nambal keperluan meliput kok agak sedih ya. Tak kirain kalau sudah sekelas kompas peralatan meliput dari yang advance sampe remeh temeh sudah rede. Hmm..

    Pfffttt… Lagi UTS yak 😂😂😂
    Santai za. Cuma UTS kok. UTS kan Ujian Tidak Serius. Ujian Tidak Sinau juga bisa (HA HA!)

    • Emang nggak suka menulis duka, tapi rasanya perlu disampaikan kak agar dunia mengerti bagaimana nano-nanonya kehidupan jurnalis magang 😂
      Duh duh, semangat berproses terus untuk skripsinya ya kak 💪
      Karena sebenarnya memang kami nggak diberi peralatan dari kompas nya kak, jadi kami memang beli dan service sendiri. Yah namanya juga stasiun tv berjaring kak, jadi masih belum sanggup sampai ngasih peralatan2 liputan yang super mahal 😂
      Tenang, barusan selesai UTSnya nih, akhirnya lega juga~

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s