Pensiun Jadi Jurnalis (Magang)

Sudah hampir dua tahun merasakan suka-suka menjadi jurnalis magang di Berita Kampus Kompas TV Jawa Tengah, kini saatnya saya purna tugas. Sedih, sangat sedih, mengingat minggu ini adalah minggu terakhir saya liputan dan memakai kartu juga baju pers. Sedih memang, saya jadi tidak punya alasan untuk pulang malam-malam karena rapat redaksi. Tapi mau bagaimana lagi, tidak baik terlalu lama dalam zona nyaman.

Menuju minggu-minggu terakhir semester enam, project-project dari mata kuliah jurusan jurnalistik semakin dekat. Membuat berita televisi durasi 30 menit, membuat majalah, menjadi event management, juga riset media yang masih mandek di kuesioner. Ditambah bayangan akan KKN dan juga magang yang awalnya dikira mudah ternyata hmm begitulah. Jadi mau tidak mau, saya harus purna tugas menjadi jurnalis magang.

Kemarin malam adalah rapat terakhir redaksi yang saya ikuti. Di sana saya mengutarakan keinginan saya untuk berhenti, dengan berbagai alasan yang sudah saya sebutkan di atas. Teman-teman kru tentu paham dan legawa, mungkin karena saya adalah kakak tingkat mereka, mereka tentu maklum karena saya ini angkatan tua.

Ada banyak sekali yang saya ingat selama menjadi jurnalis di Berita Kampus. Rapat redaksi sampai malam karena tak kunjung menemukan ide ulasan, liputan hujan-hujan sendirian, wawancara orang Korea pakai Bahasa Inggris seadanya, di PHP-in narasumber beberapa kali, dan masih banyak lagi. Aih, semua suka-duka itu akan saya kenang karena saya sudah menuliskannya di sini.

Terima kasih pimred Dany, yang sudah berusaha menjadi sebaik-baiknya pimred dengan mengayomi setiap kru. Inget nggak dulu kita liputan jalan-jalan keliling Kota Lama panas-panasan, terus beli nasgor mehong padahal bentukannya angkringan? :’)

Terima kasih korlip Raras, yang meski galak, sudah membuat para kru menjadi lebih disiplin dan bertanggungjawab akan kewajibannya.

Terima kasih Erlinda, si ngapakers yang logatnya selalu bisa buat saya ketawa juga teman sehati konsumen kerudung berlogo Rabbani.

Terima kasih Paund, teman berbagi film Barat juga teman liputan paling selow tapi profesional.

Terima kasih Gita, teman berbagi pecinta buku yang sama-sama suka Tere Liye, juga teman sharing drama korea hahaha.

Terima kasih Abim, adik kelas sewaktu TK yang selalu tertawa tiap saya tunjukkan humor receh humor remeh.

Terima kasih juga untuk Anggun, Firdha, Rizda, Kiky, Cilo, Zahra, dan Ridwan yang baru saja resmi menjadi kru Berita Kampus. Semoga kalian nyaman dan bisa berkembang ya!

Kru Berita Kampus tinggal 11 orang aja, tetap tabah sampai akhir!

 

 

29 pemikiran pada “Pensiun Jadi Jurnalis (Magang)

  1. Lhoo.. gimana sih. Kirain bakal tetep lanjutin sampai lulus ntar. Karena udah jalan lama, kupikir nggak ada masalah lagi untuk pembagian waktu, Ya mungkin KKN itu yang susah diatur. Jelas sedih banget lah rutinitas yang udah dijalani 2 tahun (disukai pula) harus berhenti 😒

    • Batas maksimal jadi jurnalis magangnya cuma 2 tahun doang kak, terus setelahnya lengser πŸ˜‚
      Sudah merasa tidak bisa membagi waktu lagi (gaya banget ya kak) 😒
      Iya sedih banget kak, ini aja udah bayangin minggu-minggu tanpa liputan bakal kerasa hampa πŸ™

  2. Namanya hidup mesti berlanjut za. Semoga ke depannya bisa mengambil banyak pelajaran selama magang untuk masa depan jurnalistiknya agar menjafi lebih baik lagi Amiin. Sukses selalu za….

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s