Persoalan Rindu

Seperti malam-malam sebelumnya.

Rindu adalah benalu yang membenamkanku dalam pilu-pilu.

Menikam jantung dengan parau suaramu.

Di ujung langit sana

kudengar kau berdoa dengan air mata.

Mengajukan pinta pada Tuhan agar kita

tetap mampu bertahan di kejauhan.

Sementara di sini, rindu sudah mengubah diri menjadi pisau, diirisnya dada sampai malam kacau.

– Seperti Malam-Malam Sebelumnya, Boy Candra –

 

Bagaimana pun, rindu itu kejam

Ia tak berujung, menerormu di tiap sepinya malam

Bagaimana pun, rindu buatmu susah memejam

Ia tak berperiperasaan, menghujam isi kepala otakmu dengan paras, senyum, suara, dan gurauannya yang selalu bersemayam

Bagaimana pun, rindu adalah kemelaratan yang diam

Diam-diam menangis, diam-diam membayangkan, diam-diam berharap lalu berakhir suram

Bahkan bila diceritakan dengan sebegitu menyedihkannya,Β aku masih suka merindukanmu

Karena memang lebih baik merindu

Ketimbang aku harus bertemu denganmu

Kenapa? Inginkah kau tahu?

Sederhana saja, karena merindukanmu tak kenal batasan waktu

Berbeda jika aku bertemu denganmu

Rasa rinduku mungkin akan menguar karena temu

Tapi bukankah setelah itu, kamu pergi dan kembali meninggalkanku?

Aku takut, takut kalau temu hanya membuatku semakin tak bisa menahan semua rasa egoisku

Untuk tidak ingin berpisah lagi denganmu

Untuk tidak perlu lagi merindukanmu

Sebab kamu selalu ada di sampingku

– Semarang, 5/2/2017

 

Puisi 20 menit jadi, untuk penanda dan pengingat tulisan ke 300 di blog ini. Selamat malam dan selamat merindu!

 

 

 

47 pemikiran pada “Persoalan Rindu

  1. Belakangan kamu jadi lebih sering ngepost ya perasaan haha. Kurang lebih aku paham dinamika kehidupan yang kamu rasakan akhir-akhir ini πŸ˜‚
    Baca puisi ini berasa naik roller coaster. Dikasih tikungan sedih, abis tu seneng, lalu dilempar tinggi menyambut harapan yang entah bagaimana akan tercapai atau tidak

    • Jadi bagaimana kiranya dinamika kehidupanku, duhai semut hitam?
      Coba dibacanya sambil membayangkan seseorang kak, wkwkwk πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      • Ngebayangin siapa lagi za? Satu2nya orang yang aku tau masih berbicara gaya seperti itu cuma kamu πŸ˜‚

        Mungkin karena pensiunnya seorang dari magang jurnalis dan perasaannya yang makin deg2an tiap mau lewat pos polisi membuat seseorang itu perlu menyesuaikan lagi ritme kehidupannya saat ini

        Yak. Sok tau sudah jadi keahlian baruku πŸ˜‚

      • Maksud diriku, kak fadel waktu baca puisinya coba sambil bayangin seseorang πŸ˜‚
        Teng! Salah! Dinamika hidupku tidak sesulit itu kak sesungguhnya wkwkwk. Tapi udah niat sih udah mau nebak ini kak fadel πŸ˜‚

  2. Kadang pertemuan malah menghasilkan kerinduan yang semakin parah dari sebelumnya.
    Haha… Bicara apa aku ini πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s