Sungkem

Ada satu tradisi yang tidak pernah bisa dilepaskan di hari raya, terkhusus ketika kami sekeluarga mudik ke Temanggung. Sungkem, sebuah tradisi di mana seseorang memohon maaf dengan bersimpuh kepada seseorang yang lebih tua dan dihormati, seperti sungkem kepada kakak-adik dari simbah kakung dan simbah putri. Biasanya kami melakukan sungkem di hari pertama atau kedua hari raya, beriringan bersama menghampiri satu rumah ke rumah lainnya untuk meminta maaf dan bersilaturahim. Uniknya sebelum sungkem, kami (keenam anak Abah dan Umi) selalu diajarkan tutorial sungkem yang baik dan benar. Pertama, dengan menggunakan Bahasa Jawa setiap memulai sungkem. Entah mengapa kami selalu merapalnya seperti kami menghapal mantera. Kira-kira begini bunyinya,

“Kulo ngaturaken sugeng riyadi lan nyuwun pangapunten dumatheng sedoyo kelepatanipun.”

Artinya: “Saya ucapkan selamat hari raya dan meminta maaf dari semua kesalahan.”

Untuk kami bertiga yang sudah dewasa, menghapal satu kalimat itu tentu mudah dan tak menghabiskan banyak waktu. Tapi bagi ketiga adik saya yang lain, mereka sampai menulis dan mengulang-ulang kalimatnya di perjalanan bahkan sebelum berangkat mudik. Mereka bertiga selalu terbolak-balik membacanya, membuat saya dan kedua kakak yang lain sering merasa terhibur juga jengkel karena selalu diulang-ulang (dan masih tetap salah).

Kedua, setelah meminta maaf dengan menggunakan Bahasa Jawa, biasanya kami bebas untuk memberikan sepatah dua patah kata tambahan seperti, “Taqabalallahu minna wa minkum”, atau “Minal aidzin wal faidzin”, atau sejenisnya. Untuk kami ketiga bersaudara yang sudah berumur, tentu tambahan bumbu pemanis permohonan maaf sudah hapal di luar kepala. Berbeda dengan ketiga adik lain yang juga pemalu (kalau ketemu orang lain), biasanya hanya ditambahi kalimat, “Aku minta maaf ya mbah” sambil cengangas-cengenges.

Ketiga, kalau simbah-simbah menimpali permohonan maaf kami dengan Bahasa Jawa yang tidak kami pahami, cukup anggukkan kepala dan katakan, “Nggih, nggih, nggih”. Sebuah penghormatan yang lebih dari cukup ketimbang respon melongo karena nggak paham (padahal sebetulnya memang betulan nggak paham).

Tutorial sungkem sudah selesai. Saatnya duduk manis untuk menikmati sajian jajanan yang disediakan. Uniknya di Temanggung, kami nggak hanya disediakan camilan-camilan ringan. Tetapi kami selalu disuruh masuk ke dapur untuk turut menikmati sajian lebaran para tuan rumah. Sajiannya tentu saja makanan berat, entah itu opor, bakso, empis-empis (masakan khas Temanggung), dan sebagainya. Biasanya saya hanya kuat makan besar sampai di rumah yang kedua atau ketiga. Sisanya, saya ke dapur cuma buat tanya di mana kamar mandinya, hehehe.

Tradisi sungkem ini juga berlaku di keluarga saya. Biasanya kami sungkem selepas sholat idul fitri. Tradisi yang entah mengapa selalu sukses membuat Umi saya meneteskan air mata ketika kami (keenam anak Umi dan Abah) meminta maaf dengan mencium tangan sambil bersimpuh di kedua lututnya. Setelah memberikan nasehat-nasehatnya, Umi dan Abah akan mencium kedua pipi dan kening kami. Lalu saya dan kakak serta adik saling bergantian menyalami satu sama lain sambi berbagi senyuman. Aih, enaknya punya saudara banyak.

Nah, berhubung masih dalam suasana hari raya, saya ingin meminta maaf jika selama ini saya punya salah dalam menulis, berkomentar, atau pun berperilaku di blog. Baik dengan para kawan bloger atau pun para pembaca yang budiman. Semoga dimaafkan ya, kita kembali 0-0 lagi. Kalau nggak dimaafin, saya siap kok disuruh sungkem. Sungkem virtual, ya! Hehehe. πŸ˜‚

Selamat menikmati arus balik mudik dan selamat kembali ke rutinitas harian! ^^

50 pemikiran pada “Sungkem

  1. “Nggih” memang selalu jadi penyelamat untuk segala suasana… terutama pas ga faham apa yg dikatakan πŸ˜‚

    Mohon maaf lahir batin Ziza 😊

  2. Hahaha dulu jaman masih SD aku jg ngapalin gitu Zaa. Diulang-ulang sampai hapal. Kalau udah mentok banget ya cengangas cengenges ajaaa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ anak kecil kan selalu dimaklumin

    • Aku berarti juga begitu dulu kak, aih tapi aku sudah nggak inget πŸ˜‚
      Namanya anak kecil pasti dimaklumi ya kak, tapi lucu aja gitu kita udah minta maaf pake Bahasa Indonesia eh dibalesnya tetep pake Bahasa Jawa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s