Berbincang

Malam ini saya berbincang serius dengan Umi. Ditemani semangkuk es gempol, pempek, dan buah sawo (entah apa korelasinya yang penting enak), kami mendiskusikan banyak hal. Bukan, bukan tentang saya. Saya jarang membicarakan diri sendiri bahkan di rumah sekalipun. Hal-hal yang menjadi perbincangan kami tentu saja, tak jauh dari Abah, kakak, dan Umar. Topik diskusi kami akhir-akhir ini hanya seputar mereka bertiga saja.

Pertama Umar, masih ingat postingan saya yang menceritakan soal betapa nelangsanya kisah cinta Umar? Cerita ini sampai sekarang masih berlanjut. Update terakhir, Umar sedikit demi sedikit mulai melunak dan semakin membuka dirinya untuk menerima masukan-masukan dari Umi. Saya sejujurnya tidak banyak membantu Umi soal masalah-cinta-tapi-dosanya si Umar selain bantuin stalking profil cemewewnya. Ya gimana ya, bukan karena nggak dekat sama Umar. Tapi ada perasaan canggung kalau saya ikut nimbrungin dan pasti saya bakal diledekin sama Umar.Β 

“Halah mbak, mbak, tahu apa kamu soal cinta? Dengerin lagunya Kunto Aji aja menghayati banget”

Pada akhirnya Umar mencurahkan segenap perasaannya ke Umi tanpa ada yang ditutup-tutupi. Intinya Umar mengerti apa yang dia lakukan selama ini salah, tapi posisi Umar juga serba salah. Sudah berkali-kali ternyata Umar memutuskan hubungan dengan cemewewnya, tapi berkali-kali juga perempuan itu datang kembali membawa tangisan dan berharap balikan. Alasan lain yang membuat posisi Umar menjadi serba salah sepertinya tidak perlu saya ceritakan di sini. Demi kebaikan Umar dan cemewewnya juga.

“Umi tahu kamu sudah baligh, sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sudah fitrahnya kok kamu merasakan perasaan itu, tinggal bagaimana kamu menyikapinya saja. Di sini Umi cuma bisa mengingatkan dan terus mengingatkan, Allah itu Maha Membolak-balikkan hati. Kalau memang kamu pengin serius, ya sekarang coba kamu lepaskan. Biarkan kamu mengembangkan diri, biarkan dia juga berkembang. Jangan sampai kamu jadi penghambat ia berproses dalam hidup. Kalau esok lusa kamu siap, Umi juga siap bantu kamu.”

Lalu Umar merespons, “Tapi Mi, aku pengin kayak Alvin anaknya Arifin Ilham”

Umi tertawa, “Ya kamu beda sama dia. Dia sudah matang secara finansial, jiwa, ilmu agama, dan sebagainya. Kamu kalau mau kayak Alvin mau dikasih makan apa perempuanmu itu sehari-hari? Cari universitas aja masih belum ketemu,”

“Mar, menikah itu bukan cuma soal cinta, tapi juga tanggung jawab. Cinta cuma ada di awal-awal aja. Kamu tuh nanti bakal sama dia dari bangun tidur sampai tidur lagi. Nggak cuma sebulan dua bulan, tapi sampai berpuluh-puluh tahun. Udah nggak ngomongin cinta lagi nanti kalau udah kayak Umi gini.”

Umar diam sambil menghapus air mata. Iya, Umi cerita katanya Umar sampai nangis habis curhat ke Umi. :’)

“Iya makanya Umar kepingin dia juga belajar agama. Umar cariin murabbi (guru ngaji) untuk dia lewat murabbinya Umar,” Umar merespons.

“Yaudah biar Umi saja yang carikan murabbi untuk dia. Kalau memang dia serius untuk mau berubah, nanti kan akan terlihat dari mutabaahnya. Kamu juga fokus memperbaiki diri. Mulai kurangi frekuensi bertemu, berkirim pesan, dan sejenisnya ya.”

Kesimpulannya, Umar sedang sibuk introspeksi diri selepas ramadhan ini. Mulai lebih sering berkumpul dengan teman-teman liqonya, mulai rutin tadarus selepas sholat maghrib, mulai lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama saudara-saudaranya ketimbang bermain keluar.

Kedua Abah, diskusi soal Abah sebenarnya bukan diskusi yang serius. Kami hanya membicarakan perihal Abah dan Umar yang makin kesini makin kelihatan miripnya. Entah dari cara berbicara, cara menghadapi orang lain, cara menyelesaikan masalah, dan sebagainya. Makin kesini Umar makin mirip Abah dan Abah nggak ngerasa kalau dirinya semakin ditiru sama anaknya sendiri. Sama-sama humble, tapi bukan tipikal orang yang suka kepikiran. Negatifnya, kadang suka nggak sadar kalau udah kebablasan. Positifnya, bisa dengan mudah mendapat pekerjaan (ini kata Umi dan entah kenapa aku ketawa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚).

Ketiga soal kakak. Kalau yang ini rahasia.

Dan nggak terasa sudah satu jam lebih kami ngobrol di ruang makan sambil ditemani gigitan nyamuk dan teriakan kedua adik perempuan yang sedang sibuk bermain dengan boneka-bonekanya. Selalu menyenangkan memang bisa diajak mengobrol serius dengan Umi. Sesuatu yang baru beberapa bulan ini saya rasakan karena pada akhirnya Umi menganggap saya sudah cukup berkapasitas untuk mendengarkan dan turut memberikan solusi dari setiap permasalahan yang terjadi di rumah kami. Aih, ternyata begini secuil rasa menjadi Ibu. Berat sekali ya. Pantaslah surga ada di telapak kakinya. :’)


Berhubung satu minggu lagi saya akan melaksanakan KKN dan besar kemungkinan di tempat saya KKN minim sinyal, saya mohon pamit undur diri untuk beberapa hari ke depan jika menghilang dari peradaban perblogeran. Cuma 42 hari kok, jangan rindu-rindu ya! *halah*

41 pemikiran pada “Berbincang

  1. Wededeeeeew~ Umarmu leh uga mbak wkwkw. Dia pengen nikah juga yaaa? Wkwkwkw tapi kehalang finansial, ilmu agama, dll yg beda sama anaknya arifin ilham?
    Sudaaa, kalau memang belum bisa, jangan cintacintaan dan merencanakan sama siapapun. Akhirnya mesti belum tentu berhasil. Sendirilah dan perbaiki diri. Kalau siap, cari lalu nikahi. Udah gitu aja.

    Hhuuuuuft.

    • Iya kak, duh gara-gara anaknya Arifin Ilham ini banyak yang kepincut buat nikah muda πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
      Iya kak Febri, bener lho kata-katanya, sangat relatable πŸ˜„
      Doanya saja kak Umar masih dalam proses memperbaiki diri, nanti kan juga mengerti kalau urusan nikah nggak semudah membalikkan telapak tangan :3

  2. Ya Allah Umar teman ingusanku :’. tapi eruntunglah umar masih punya keluarga yang perhatian dan tau agama. seomga yang terbaik deh untuk umar!
    Btw mbak, paragraf terakhirmu sedih juga ya. ah, 42 hari. itu nggak sebentar lho. sebulan lebih ;( susah sinyal ya?;’) semangat kkn ya mba;’) ditunggu cerita ceritanya nanti *hiks* cepet pulang, cepet ketemu di orange diponegoro. *hiks

    • Wkwkwk sampai sekarang kan ya masih jadi teman kan Zah…
      Aamiin! Doain temanmu ya Zah!
      42 hari sebentar kok Zah sebentar, semoga aku kerasan ya wkwkwk nanti aku mara-mara sama kamu terus πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
      Yak, tunggulah cerita-cerita dariku dan kehadiranku di kampus oren tercinta kita! *kita jare wejian*
      😘😘😘

  3. Ane yg dijadiin tumbal nikah paksa aja ga mau tuh. Masa iya harus bertanggung jawab untuk perbuatan orang lain.
    Nah ini lagi kang Umar pengen nikag, mending kerja dan belajar dulu, hehe

    • Satenya di mana?
      Satenya tuh di sini di dalam hatiku
      Satenya tuh di sini harganya seribu
      Satenya tuh di sini di dalam hatiku
      Satenya tuh di sini harganya seribu
      Sate sate sate nya tuh di sini
      Sate sate sate nya tuh di sini

  4. Omg lucu banget curhat ke uminya sampe nangis:”) Btw sama banget tun kayak adekku, kalo curhat cinta – cintaan Kiki curhatnya ke emakku. Gemeshh aja gitu ya kalo ada anak laki curhat ke ibunya:33

  5. Aku bakal balas dendam besar-besaran kalau jadi Umar. Teganya kamu kak wkwk -,-

    Namanya juga remaja. Kita semua pernah ngerasain. Yang mnugkin nggak semua ngerasain itu curhat ke orang lainnya wa bil khusus ortu. Dipendem-pendem memilukan huhu. Btw memang seru sekali berbincang serius seperti itu. Bersama mendiskusikan orang tersayang di keluarga. Dan betul, biasanya yang dijadikan objek diskusi anggota keluarga lain. Hampir tak pernah tentang kita. Masalahnya, yang baru kutau, ortu juga membincangkan hal seserius ini bersama anggota keluarga lainnya. Yang artinya kita juga akan/pernah menjadi topik utama diskusi mereka yang beberapa di antaranya aib πŸ˜‚πŸ˜‚

    • Umar sebagai adik akan berlapang dada~
      Dipendem-pendem lama-lama meledak lho kak πŸ˜‚
      Aih aku lupa fakta yang itu, bener juga ya kak, tapi kok aku yakinnya yang bicarain aku cuma abah sama umi aja ya nggak ngajak-ngajak anak-anaknya hahaha πŸ˜‚

      • Nasib jadi adik ~
        Iya juga ya. Akan sampai waktunya semua tumpah ruah :”)

        Aibnya terjagalah ya. Yang tau cuma lembaran-lembaran diary, beberapa postingan blog, dan beberapa orang yang awalnya tak sengaja membacanya *duh

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s