KKN: Sebuah Pengantar

Kata kakak tingkat, KKN itu banyak nganggurnya.

Kata orangtua, KKN itu gampang.

Kata orang-orang terdekat, KKN itu ajang untuk mencari jodoh.

Kata saya? Jujur, masih belum ada gambaran soal KKN. Saya baru KKN lima hari, newbie pakai banget, yang bisa saya simpulkan dari kelima hari ini cuma satu kata: Menyenangkan.

Hari pertama tidak ada yang spesial, jadi izinkanlah saya mengenalkan pada kalian teman satu tim KKN selama 42 hari di Pemalang.

Dari kiri: Aldi, Wisnu, Mbak Rahma, Mas Arco, saya, Mella, Mbak Binti, Mbak Niken

Kami berdelapan, dengan empat mahasiswa semester tujuh dan empat mahasiswa semester mbah-mbah sepertinya cukup serasi untuk menjadi sebuah keluarga. Sejauh ini masih menyenangkan. Mereka semua baik dan humoris, dapat tertawa bersama mereka sudah lebih dari cukup.

Di hari pertama sesampainya di Kecamatan Pemalang, kami diberikan pengarahan oleh Pak Camat dan DPL (Dosen Pembimbing Lapangan). Setelah itu kami langsung dilepas dan berkendara menuju posko KKN kami, di Desa Banjarmulya.

Tempat tinggal kami 42 hari kedepan

Karena sewaktu survei sebelumnya saya tidak ikut, saya sudah mempersiapkan segala kemungkinan terburuk soal rumah yang akan kami tinggali nanti selama 42 hari. Alhamdulillah, semua kemungkinan buruk itu musnah begitu tiba dan melihat sekilas tempat tinggalnya. Saya langsung merasa nyaman.

Setelah selesai sapa menyapa dengan pemilik rumah dan Pak Kades, kami seketika nganggur. Tidak ada kerjaan selain mencari sinyal dan merapikan barang sampai keesokan paginya.

Di hari kedua, kami juga menganggur saudara-saudara. Pagi-pagi menelepon Pak Kades untuk mohon izin bertemu ternyata beliau meminta untuk sowan besok saja. Oke baiklah. Kami sibukkan waktu seharian itu hanya untuk mencari sinyal lagi dan berkeluh kesah karena sinyal sekelas Telkomsel pun nggak berfungsi di sini. Saya juga mengamati lingkungan sekitar, di depan rumah ada masjid dan warung kelontong, di samping kiri ada konter (jualan pulsa sama token doang nggak jual kuota), di samping kanan ada rumah warga. Et et et, percaya nggak percaya, di depan rumah kami persis, angkot dan bis biasa lewat lho. Padahal hitungannya Banjarmulya ini pelosok hahaha.

Angkot lewat depan rumah 👌

Sorenya, rumah kami tiba-tiba diinvasi oleh dua anak kecil yang datang malu-malu mengenalkan diri. Wisnu dan Hendra namanya, yang besok Senin mereka sudah duduk di bangku kelas enam. Wisnu, salah satu anak perangkat desa yang pintarnya bukan main. Wawasannya luas, dikasih obrolan macam apapun pasti nyambung, segala Lebah Ganteng dia tahu. Gokilnya, hari ini dia berhasil benerin kipas angin teman saya yang rusak hanya dengan tangan telanjangnya saja. Lebih gokil lagi, kalau pinjam HP saya, history-nya luar biasa

Cara membuat pembangkit listrik…

Berlanjut ke Hendra, yang datang malu-kalem ke rumah menemani Wisnu yang sudah santai ngomongnya. Hendra diam saja dan menjawab pertanyaan dari kami sekenanya. Hendra jadi satu-satunya anak yang paling rajin main ke rumah kami. Pagi jam delapan setelah mandi dan sarapan. Siang jam satu setelah sholat dhuhur dan makan siang. Sore jam empat setelah mandi. Malam jam tujuh selepas makan dan sholat isya. Begitu terus sejak hari ketiga kami di sini sampai sekarang. Hendra juga yang selalu mengetok-ngetok pintu rumah dan jendela kamar kami satu-satu tiap siang sambil bilang, “Kak Ziza Kak Wisnu ayo main jangan tidur terus.” Aih, besok-besok Hendra sudah tidak bisa begini lagi, Hendra sudah mulai sekolah.

Di hari ketiga, kami sudah siap sejak jam delapan pagi untuk ke Balai Desa bertemu Pak Kades, tapi sayang beribu sayang, Pak Kades ngendhika diundur lagi besok saja karena perangkat desa masih belum lengkap. Errr, baiklah. Kami menganggur lagi. Hari ketiga kami habiskan dengan aktivitas yang berbeda, ada yang ingin jalan-jalan ke kota, dan ada yang ingin menghabiskan waktu di rumah saja bermain bersama anak-anak. Saya tentu lebih memilih di rumah ketimbang harus panas-panasan ke kota, hehehe. Lagi-lagi bermain bersama para anak-anak. Wisnu, Hendra, Anggun, Anggi 1, Tita, Rizky, Anggi 2, Mesthi, Dika, Ali, Selfi, Ryan, Ruli, Ima, Nadine, Feliz, Intan, dan masih banyak lagi. Sumpah kalau lihat wajahnya saya sudah hapal nama-namanya, kurang keren apa saya? 😎

Hari keempat! Akhirnya kami tiba di Balai Desa. Bertemu dengan Pak Kades dan perangkat desanya. Berbincang, berdiskusi, dan bercerita tentang Desa Banjarmulya. Akhirnya kami bisa sedikit tercerahkan mau membuat program apa yang sekiranya dibutuhkan di desa ini. Alhamdulillah. Dilanjutkan dengan sowan dari warteg ke warteg. Bukan, bukan karena kami rakus, tapi ini juga jadi salah satu cara kami untuk menggali informasi lebih dalam lagi soal Desa Banjarmulya. Duh ngelesnya pinter banget.

Hari kelima tadi kami habiskan untuk jalan-jalan menyisiri Dusun yang ada di sini. Sambil bertanya ke warga yang lewat juga untuk menggali informasi lagi. Untung cuacanya mendung, jadi tadi kami senang-senang aja jalan kaki jauh-jauh. Malamnya ada Pasar Tumpah di depan rumah kami persis. Jadi malam ini ramai sekali. Banyak yang menjajakan jajanan menggoda perut yang sudah mulai membuncit beberapa hari terakhir. :’)

Selama lima hari ini, tentu beberapa kali saya sempat merasa rindu dengan rumah dan keluarga. Maklum, ini pertama kalinya dalam hidup saya merasakan jauh dari keluarga. Di hari kedua saya sudah ditelpon Abah dan Simbah, yang sama-sama bertanya soal letak lokasi KKN. Simbah katanya mau jenguk yasalam apa yang harus saya lakukan kalau Simbah benar-benar serius sama ucapannya. 😂

Kemarin juga saya video call dengan Abah, Umi, dan ketiga adik saya. Abah penasaran dengan aktivitas saya di sana, untungnya waktu itu saya kelihatan lagi sibuk hahaha. Melihat wajah mereka semua dari layar ponsel kok rasanya nyes sekali, kepengin ada di sana juga gitu sama mereka. Jadi begini rasanya long distance relationship….

Yak itulah garis besar pengalaman saya selama lima hari KKN di Desa Banjarmulya, Kecamatan Pemalang, Kota Pemalang. Besok ada kerja bakti dan halalbihalal, saya pamit dulu. Nantikan kisah KKN saya yang lain ya! Nyong pamit ndisit!

50 pemikiran pada “KKN: Sebuah Pengantar

  1. KKN, ada sungai jadi tempat paforit 40% peserta. Dulu di daerah kutai timur, ada sepupu yg kkn cuma beda kecamatan, pulang dia punya pacar 2, tapi pacarnya ikan sungai.

    • Wah asyik kak Mhirza tempat KKN nya dulu ada sungai ya, di sini sangat gersang 😢
      Kenapa cari pacarnya malah ikan, jadi ketawa ini wkwkwk 😂

  2. Selamat datang di bumi ngapak ya zhaa. Jangan lupa cobain nasi megono khas Pemalang 😁
    Btw, aku kangen jaket KKN yang kamu pakai. Wkwk dulu aku pengin dapet KKN di Pemalang dst tapi apadaya dapetnya di Demak 😂😂😂 #makinjauhdarirumah

    • Sudah pernah makan nasih megono kak Destini, henyaaak ❤
      Wah kak Destini alumni Undipkah? Walaah di Demak panas dong ya kak 😂😂😂

      • Iyaa emang enak itu nasi megono. Dulu waktu ada praktik lapangan di Pemalang hampir tiap pagi sarapan nasi megono+medoan 😂
        Iyaa Ziza he he. Di kampus hijau. Gdg fakultasku di belakang FPIK 😃
        Iyaaa Demak puanasss zaaa.

      • Wah mantap kak Destin 😂😂😂
        Eh apa itu ya kak kampus hijau itu? Aku di kampus oranye jadi nggak begitu tahu soal Undip di bagian hilir 😢

  3. Jd terkenang masa2 kkn dulu hehe kalau dulu si masyarakatnya welcome bener bahkan mereka mengharapkan perubahan dengan adanya kami di sana.. Hasilnya si 30 hari kkn udh bisa buat ibu2 sama adik2 d sana nangis pas kami pulang. Menurut ku si seru kkn ya cinlok si biasanya ada haha

    • Wah kak Ade udah pernah KKN juga ya ternyata 😅
      Iya kak, warga di sini juga sangat welcome, katanya sih adik-adik bakalan nangis nanti kalau udah mau pisah :’)
      Duh, cinlok ya kak? Aku pilih cilok aja deh yang lebih enak wkwkwk 😂

  4. Duuu nostalgia jadinya aku wkwkw. Salut sama anaknya bapak kades, siapa namanya Wisnu ya? Temenmu itu namanya Wisnu juga yang rambut gondrong? Aku punya temen sekelas waktu kuliah namanya juga Wisnu rambut gondrong tapi berkacamata. Aku juga punya temen KKN cewek namanya Niken. Jangan-jangan… jangan kangkung, jangan bayam, jangan tewel. Btw, semangat ya ziza. Udah ketemu koneksi internet kan ini?

    • Wisnu bukan anak pak kades kak, anak perangkat desa wkwkwk
      Jangan-jangan… Jangan bikin ketawa dong kak wkwkwkwk ngakak ini aku tengah malam bacanya 😂😂😂
      Iya kak Umami terima kasih penyemangatnya 😆
      Udah kak udah, udah nemu provider yang cucok cyin di desa ini :3

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s