KKN: Separuh Perjalanan

“Nggak kerasa ya udah tiga minggu kita di sini”

Kerasa kok, kerasa banget tiap bangun tidur pasti ngitung udah hari keberapa…

• Now playing: Michael Buble – Home •

Yak, sudah hampir tiga minggu saya KKN di Desa Banjarmulya, Pemalang. Nggak kerasa ya? Halah. Sudah banyak yang terjadi selama tiga pekan saya berada di sini. Dari yang apes sampai yang bahagia. Dari yang kangennya biasa aja sampai kangen banget banget banget sama orang-orang rumah. Aaaak kangen!

Mari saya mulai dari kisah halalbihalal unik yang terjadi di sini…

Kebetulan saya dan teman-teman tinggal di rumah sepasang suami-istri yang memang selalu dikenal punya hajat di Dusun Penuntun (dusun tempat posko kami tinggal). Bayangin aja, baru dua minggu kami di sini, sudah ada dua halalbihalal yang sukses digelar. Halalbihalal pertama sih tidak ada yang unik, masih seperti halalbihalal pada umumnya yang ramai dan diisi dengan doa bersama juga bincang-bincang. Nah berbeda dengan halalbihalal yang pertama, halalbihalal yang kedua sukses bikin kami semua menganga nggak percaya. Kenapa? Karena halalbihalal yang ini H E B O H.

Heboh, ya rasa-rasanya sangat menggambarkan. Coba saja bayangkan, ada acara yang digelar di hari Selasa ketika matahari sedang terik-teriknya, yang dihadiri oleh ribuan orang dari segala penjuru desa. Ribuan orang. Mereka tersebar di mana saja, di dalam rumah, depan rumah, panggung, depan panggung, belakang panggung, rumah tetangga, masjid sebelah rumah. Pokoknya sampai radius kurang lebih 50 meter itu isinya manusia semua. Dengan pusat perhatian yang terfokus di panggung utama yang terletak di depan rumah kami persis. Ustadzah Mumpuni, seorang ustadzah jebolan lomba dakwah di Indosiar yang kata orang-orang di sini terkenal (tapi saya nggak tahu babarblas). Pantes aja kalau antusiasmenya tinggi. Uniknya, halalbihalal ini lebih mirip kayak pasar tiban yang saking ramainya, pedagang dengan beragam genre saling berlomba-lomba mengais rezeki di sini. Coba bayangin, ada pedagang jagung serut, tahu aci, mainan anak-anak, pakaian (ini termasuk pakaian dalam), bakso, es lilin, ayam alay (anak ayam yang diwarnai), tumplek blek di sini. Nyong kaget. Luar biasa. Bisa dibayangkan ya kami habis berapa duit cuma buat muasin nafsu mata yang tergoda sama jajanan-jajanan mengandung vetsin dan jauh dari kata higienis itu. Yang penting kalau kata Pak Bondan, maknyus. 👌

Selepas halalbihalal, kami mulai fokus menjalankan program monodisiplin. Mengajar ke sekolah. Sekolah yang ramainya ngalahin pasar dan anak-anaknya yang bandel bukan main. Di sinilah kesabaran dan keteguhan hati kami diuji. Baru ngomong satu dua kata, eh ada yang klotekan meja. Ngomong sekalimat, eh mulai banyak yang nggak fokus. Giliran kami bilang ‘permainan’ dan ‘hadiah’, mereka seketika mirip minion yang mau dikasih pisang sama Gru. Awww. Tapi sejauh ini kami menikmati mengajar di sekolah, karena kami jadi mengerti pemahaman anak-anak di sini sudah sejauh apa. Nyatanya memang berbeda dengan anak-anak kota ya. Mengajari mereka suatu pelajaran harus ekstra sabar. Minggu ini juga masih harus mengajar di sekolah yang lain, stok sabar kami masih sangat banyak kok. 👌

Apesnya, beberapa hari yang lalu saya ketilang. Rencana mau cuci mata jalan-jalan ke kota malah berakhir dengan slip merah. Aih hubungan saya dengan polisi ini sungguh luar biasa ya hahaha. Jadi ceritanya kenapa saya bisa sampai dapat slip merah adalah saya lupa bawa dompet untuk yang kesekian kalinya. Ndelalah ada operasi zebra, ya apes deh. SIM teman saya disita dan saya harus ke kejaksaan besok tanggal 3. Untung sidang di Pemalang nggak musti nunggu lama kayak di Semarang ya. Bersyukur.

Sedihnya sih masih sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Kangen tak berkesudahan dengan orang-orang rumah. Setiap hari paling nggak sekali luangin waktu cerita ke Umi, Abah, Simbah, atau si bungsu. Tapi alhamdulillah tadi pagi saya dikunjungi Budhe dan Pakdhe saya yang datang dari Comal. Setidaknya bertemu saudara di posko sedikit bisa mengurangi rasa kangen. Allah Maha Baik.

Sedihnya lagi, saya kangen banget makan tahu gimbal. Di Pemalang saya baru menemukan satu angkringan yang jualan tahu gimbal. Tapi tiga kali bolak-balik kesana selalu saja tutup. Semoga besok buka ya, saya tidak akan menyerah demi sepiring tahu gimbal yang menawan.

Btw, lontong dekem sama nasi grombyang enak lho teman-teman, apalagi yang di dekat alun-alun. Mantap surantap. Nyong suka!

Sekian dan selamat lapar.

53 pemikiran pada “KKN: Separuh Perjalanan

  1. Jaman saya kuliah di 2 tempat antara tahun 2003-2009 sudah tdk ada kegiatan KKN.
    Jadi tak ada cerita nostalgia ttg KKN
    Semoga KKN nya bener menjadi Kuliah Kerja Nyata, bukan Kisah Kasih Nyata mengingat tak sedikit mrk yg KKN mendapatkan jodohnya di sana.

  2. Ayam alay? Wkwkwkwk <– ini malah bebek, haha.
    Yang sabar ya, 3 minggu kalau KKN menurutku rasanya emang cepet lho, soalnya banyak kegiatan jadi nggak kerasa. Semoga kangennya segera tersembuhkan 🙂

  3. Nguquq 😂😂😂😂😂
    Ribuan orang demi halalbihalal desalah, ayam alaylah, jajanan bermandikan vetsin yang walaupun merasa tak baik tetep saja dikonsumsi karena inget kata Pak Bondan wkwk. Sayang aku nggak baca ini duluan :”)

    Dan semua itu akan berakhir! Tahu gimbal akan dapat kembali menjadi keseharian. Tolong ntar kalau memang senang jangan terlalu kelihatan senang dalam radius 50m posko 😂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s