KKN: Akhir yang Manis

Aih, rasanya kurang lengkap kalau saya hanya menulis dua sesi soal KKN yang durasinya super lama ini. Jadi izinkan saya untuk menulis sekali lagi di sini kebetulan laptop juga baru selesai diservis. Ini mungkin akan panjang…

162395
Satu hari sebelum penarikan kami sempatkan foto-foto

Rasanya nggak adil kalau sebelumnya, saya nggak menceritakan ketujuh kawan saya selama 40 hari KKN di Desa Banjarmulya, Pemalang. So here we go… Saya urutkan dari yang paling kiri ya!

Aldi : Satu kata yang menggambarkan betul seorang Aldi adalah ‘suamiable’. Kenapa? Ada banyak alasan yang membuat saya reflek menyebutnya demikian. Pertama, Aldi hobi bersih-bersih. Dari seminggu, bisa empat sampai lima kali dia menyapu seluruh rumah, kadang juga di-pel. Kedua, Aldi selalu bangun subuh. Yak, meski nggak sholat di masjid (haha), Aldi selalu bangun subuh dan langsung mandi! Ketiga, Aldi peduli dan suka menolong. Dari ketiga laki-laki yang ada di posko, Aldi geraknya paling cepat, dimintai tolong juga nggak pernah nolak. Sudah nggak terhitung berapa kali saya minta tolong ke Aldi untuk beli sarapan, kuota, galon. Tapi memang tidak ada laki-laki yang sempurna ya. Aldi nggak suka humor. Bawaannya serius, seringnya dicap aneh sama orang-orang yang belum kenal (first impression saya ke Aldi sejujurnya juga buruk). Dan… kalau ngomong suka pakai bahasa yang berat. Berat sungguhan men, harus buka kamus saking filosofisnya. Beruntungnya Aldi punya pacar yang ‘istriable’. Mereka sekecamatan, jadi bisa dipastikan tiap malam minggu Aldi nggak pernah ada di posko. Sibuk sama cemewewnya bikin buku filsafat.

Mbak Niken : Tidak pernah terbersit sebelumnya dalam diri bahwa saya akan menjumpai teman yang aneh saat KKN. Tapi bayangan saya ternyata salah. Mbak Niken, teman sekamar saya adalah makhluk bernama manusia paling aneh sejagad raya. Saya sampai nggak habis pikir kenapa Mbak Niken kuliah di jurusan teknik sipil, hehehe. Aneh karena, Mbak Niken kalau diajak ngomong loadingnya lama, udah gitu, jawabannya suka nggak nyambung. Tipikal orang cerdas memang biasanya begitu. Juga, Mbak Niken punya kebiasaan-kebiasaan unik yang sepertinya nggak perlu saya sebutkan semuanya di sini, salah satu kebiasaan uniknya adalah tiap subuh Mbak Niken selalu ke WC untuk semedi sambil ngeden dan dengerin lagu dari HP-nya. Iya, setiap hari, setiap subuh. Tapi dibalik keanehannya, Mbak Niken ini polos dan lugu sekali. Nggak heran Mbak Niken jadi korban bullying di posko, padahal umur Mbak Niken yang paling tua. Oh iya, Mbak Niken juga suka bantuin Aldi beberes, tapi paling males kalau disuruh nyuci pakai tangan. Mbak Niken suka habisin cemilan di posko saking nggak tahu dirinya, mentang-mentang yang paling tua jadi semena-mena. Tapiii, Mbak Niken adalah tempat curhat paling menyenangkan. Segala peristiwa dan ‘peristiwa’ yang terjadi selama KKN berlangsung, selalu saya ceritakan padanya. Satu lagi, Mbak Niken masih jomlo dan butuh pasangan yang alim. Kalau ada yang minat bisa komentar.

Bagian saya di-skip aja.

Mbak Rahma : Bu kordes tercinta kami seposko. Salah satu dari dua kordes perempuan se-kecamatan. Mbak Rahma punya sifat yang paling tenang dan woles. Mbak Rahma nggak pernah mengeluh mendengar segala keluhan kami yang begitu banyak. Sosok kordes idaman semua orang. Alon-alon asal kelakon. Nggak cuma itu, Mbak Rahma juga jago banget menghibur kami seposko dengan goyang dangdutnya yang asoy. Pokoknya tiap denger lagu dangdut, Mbak Rahma reflek menggoyangkan pinggangnya dan menaikkan jempolnya. Mantapsoul. Saya nggak bisa bayangin posko kami akan seperti apa tanpa kehadiran Mbak Rahma. Sungguh terlalu banyak jasamu, Mbak. Mulai dari berkomunikasi ke perangkat desa, tetangga-tetangga, ibu-ibu PKK, guru-guru, anak-anak. Aih, tanpamu kami akan buka google translate saking nggak ngerti bahasa ngapaknya orang sana.

Mas Arco : Nizam dewasa. Suer,wajahnya mirip banget sama Nizam. Mas Arco adalah tipe laki-laki yang sudah seperti bapak-bapak. Sukanya suruh-suruh tapi kalau dimintain tolong susahnya minta ampun. Kalau nyari barang-barang nggak pernah pakai mata tapi pakai mulut. Pokoknya cerewet. Tapi tapi tapi, Mas Arco ini baik sekali. Udah nggak terhitung berapa banyak duit yang dikeluarin sama dia buat bahagiain kami seposko. Udah nggak terhitung juga berapa kali Mas Arco masakin kami seposko. Perut kami aman bersamanya. Satu hal yang bikin saya nggak habis pikir adalah, Mas Arco ternyata takut banget sama tikus. Pernah sekali waktu ada tikus di rumah kami, Mas Arco sampai minta ditemenin ke kamar mandi saking parnonya tikus belum hilang. Mas Arco juga suka ngebanyol, nggak terhitung berapa kali kami semua tertawa gara-gara Mas Arco adu mulut sama Mbak Niken. Lucu aja ngelihat mereka berdua yang lebih tua kok malah kelihatan kekanakan, hahahaha. Oh iya, doakan Mas Arco biar cepat sidang ya, warganet!

Mella : Princess dari gua hantu. Datang dari Bekasi dan di hari awal-awal KKN sudah menangis karena kangen dan ngidam nasi padang tapi nggak kesampaian. Manjanya memang kadang suka bikin ngelus dada, nggak heran Mella jadi yang paling diperhatikan di Posko. Pokoknya motto posko kami itu “Mella first! Yang lain belakangan”. Tingkahnya Mella itu imut sekali, seperti melihat adik sendiri. Mella juga jadi satu-satunya orang di posko yang menemani saya mencuci setiap hari. Iya, pokoknya tiap hari di jemuran selalu ada baju-baju kami berdua di sana. Di samping manja, Mella juga penakut, setiap malam dia selalu minta tolong ditemani ke kamar mandi. Diajak nonton film Munafik pun dia teriak sambil tutup mata. Ketawa kami ngelihat tingkahnya dia yang lucu. Bisa dipastikan hampir setiap hari Mella menelepon sahabat-sahabat kampusnya, kadang video call. Sampai kami semua hapal betul percakapannya, “Nyet! Nyet! Lo sini gih, kangen gue sama lo nyet!”

Mbak Binti : Dari semua orang yang ada di posko kami, Mbak Binti adalah yang paling normal dan paling manusia. Hidupnya di posko teramat datar. Dibilang pendiam nggak, dibilang cerewet juga nggak. Seorang sekretaris desa yang kelewat santai karena percaya penuh bahwa deadline mampu mengerjakan semua pada akhirnya. Malam-malam terakhir kami di posko riweuh ngurusin laporan-laporan yang digarap kelewat selow sama Mbak Binti. Aih jadi kangen malam penuh hectic itu hahaha. Mbak Binti juga jadi yang paling pintar masak di antara kami semua. Mau dimasakin apa? Mbak Binti siap selama bahannya ada. Rasanya juga endeus, saya jadi belajar masak juga dari Mbak Binti. Saya curiga Mbak Binti ditaksir sama Wisnu (eeeh masih ingat sama Wisnu kan ya? Itu lho, adik di desa kami yang pintarnya luar biasa). Gara-gara dia suka dikasih bunga sama Wisnu, udah gitu suka berduaan juga di depan posko, atau jalan-jalan di sekitar posko juga berdua. Eh curiga saya berbuah hasil, satu hari sebelum penarikan Mbak Binti dapat surat cinta dari Wisnu. Hahahahaha.

Wisnu : Tolong diingat ini adalah Wisnu yang berbeda dari yang saya ceritakan di atas. Oke. Wisnu adalah partner motor saya selama KKN. Pokoknya kalau mau pergi seposko, saya dibonceng sama dia. Karena partner, udah nggak kehitung berapa kali Wisnu curhatin pacarnya, mantan gebetannya, adik-adiknya, almarhum ayahnya, dan sebagainya. Gampang banget Wisnu dipancing untuk curhat, hahaha. Wisnu punya kisah yang kalau dibikin draw my life kayak youtuber-youtuber kekinian bakal ngehasilin banyak penonton. Karena kisahnya seperti sinetron. Ya, kadang hidup emang lebih sinetron daripada sinetron itu sendiri. Well, Wisnu memberikan perspektif lain bagi saya soal laki-laki. Saya suka minta pendapat seperti, “Laki-laki kalau kayak gini artinya apa? Kalau bilang kayak gitu artinya gimana?” Saya pun juga suka berdiskusi sama Wisnu soal perempuan atau pun kehidupan. Wisnu juga suka bikin sajak di tengah perjalanan, ada bakat nyastra juga ternyata.

Sudah cukup perkenalannya. Lanjut ke hari-hari terakhir KKN…

Dua minggu terakhir selama KKN kami disibukkan oleh agenda Expo dan laporan akhir. Setelah segala tugas monodisiplin dan multidisiplin selesai di empat minggu sebelumnya, di dua minggu terakhir kami fokus pada kegiatan di luar masyarakat. Iya, Expo itu semacam event gede yang isinya kami sekabupaten dipertemukan dalam satu tempat dimana setiap desa memamerkan hasil kerjanya selama KKN di desa masing-masing. Entah itu memamerkan produk UMKM, revolusi mental, atau pun BUMDes. Setelah itu malamnya akan ada acara hiburan yang diisi oleh pentas seni dari setiap kecamatan dan pementasan wayang. Pokoknya di Expo kami ramai-ramai memeriahkan hari penarikan yang akan segera tiba. Selama Expo, saya banyak berkeliling untuk mendokumentasikan kegiatannya dalam bentuk video. Mahasiswa jurusan ilmu komunikasi memang suka dijadikan tumbal untuk acara begini. Aih tapi saya senang karena saya ditemani teman sejurusan yang suka mengeluh.

Oh iya, selama Expo, stand desa kami jadi stand yang paling kosong di antara stand desa lainnya sekecamatan. Ketika desa lain sibuk memamerkan produk UMKM mereka yang menggiurkan seperti nugget jamur, telur asin, keripiki tempe, desa kami hanya memamerkan foto-foto saja. Iya, hanya foto-foto, nggak lebih nggak kurang. Karena program KKN kami di desa lebih difokuskan pada bagian diplomasi dan relasi. Untunglah ketika ditanya dosen kami bisa menjelaskan dengan baik dan elegan. Aih. Selepas segala pameran UMKM dan sejenisnya selesai. Kami semua melenggang ke lapangan utama untuk menikmati hiburan-hiburan di sana. Ada pertunjukan musik perkusi yang atraktif, dangdut yang heboh, dan nyanyian khas KKN yang membuat kami jadi merasa sedih ketika mengingat sebentar lagi masa penarikan akan datang.

“Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu. Uwooo”

“Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang melepas semua kerinduan yang terpendam. Uwooo”

Sebelum selesai, kami menerbangkan lampion. Satu desa satu lampion. Naas, lampion kami masuk ke sungai bukannya terbang. Terlihat kesedihan paling mendalam di raut wajahnya Mbak Niken, karena dia udah ready banget pegang HP mau ngerekam. Ahahaha. Lalu kami pulang ditemani gerimis. Makan malam bersama sambil bercanda kemudian mengantuk dan tidur.

Expo sudah selesai, kegiatan kami tinggal membuat laporan dan menyusunnya. Dua minggu terakhir di sana kami hampir sudah tidak ke balai desa, hanya menghabiskan waktu di rumah untuk mengerjakan laporan dan bermain bersama anak-anak, atau pun ke kota untuk melepas penat. Di minggu inilah saya merasa galau, satu sisi saya senang karena sebentar lagi saya bisa bertemu sanak famili di rumah. Tapi di sisi yang lain saya juga sedih harus meninggalkan posko kami, desa kami, adik-adik kami, teman seposko, dan para tetangga sekitar. Saya jadi menikmati betul saat-saat terakhir di posko. Saya lebih banyak mendokumentasikan foto adik-adik, teman-teman, sampa ke kucing kesayangan posko kami si Muung.

Berita buruk mengagetkan saya selesai subuhan di H-5 sebelum penarikan. Salah satu teman sekecamatan di desa sebelah desa saya sebelahnya lagi, meninggal dunia. Penyebabnya apalagi kalau bukan kecelakaan. Jalur Pantura memang menyeramkan. Almarhumah meninggal setelah kehabisan darah karena kurang terpenuhinya fasilitas di rumah sakit. Lebih tepatnya karena takdirnya demikian. Duka menyelimuti kami sekecamatan, juga sekabupaten, dan tentu teman-teman KKN se-Undip. Saya dan teman-teman seposko menyempatkan untuk datang ke rumah sakit, memberi doa dan salam terakhir untuk almarhumah. Senyum terukir dari wajah pucatnya. Kabar kecelakaan ini tersebar kemana-mana. Semoga doanya juga tersebar kemana-mana. Aamiin.

Kami semua tiba-tiba jadi saling protektif satu sama lain. Mbak Rahma benar-benar menegaskan untuk tidak boleh ke kota kalau bukan kepepet dan nggak punya kepetingan. Berangkat keluar posko pun sudah tidak boleh sendiri. Saya memutuskan untuk menghabiskan lima hari terakhir di posko saja. Sungguhan, jalan di Pemalang ini menyeramkan. Banyak jalan yang bolong dan tidak rata karena masih sibuknya pembangunan jalan tol.

Karena lebih banyak menghabiskan waktu di posko, saya jadi lebih intens bertemu dan bermain bersama adik-adik. Kebetulan saya membawa bahan dan peralatan membuat gelang dari rumah. Adik-adik saya ajarkan membuat gelang dan gelang itu jadi kenang-kenangan untuk mereka. Senang bisa melihat wajah bahagia mereka ketika mengepang tali-temali gelang. Dilemanya, semakin mendekati hari penarikan, adik-adik semakin kencang merengeknya. Kata-kata seperti, “Kak, jangan pulang keee”, “Kak, pulangnya seminggu lagi reee” jadi makin terdengar intens di telinga kami. Sedih sih, tapi saya lebih sedih kalau nggak pulang. Jadinya nggak jadi sedih.

Lalu di malam sebelum penarikan, kami mencoba untuk menjadikan malam terakhir kami di sini sama seperti malam-malam biasanya. Kami menari India bersama, bernyanyi bersama, tertawa bersama, belajar bersama. Tapi entah kenapa tiba-tiba ada satu adik yang menangis sendirian di dapur. Namanya Anggun. Anggun, satu-satunya adik perempuan yang percaya diri bilang sama kami dia nggak akan nangis kalau kakak-kakak KKN pergi nanti. Anggun malah jadi yang pertama kali menangisi kepergian kami besok. Nah namanya anak-anak, kalau udah ada satu yang nangis, ya semuanya ketularan nangis. Si Anggi, Mesty, Intan, Tita, Agni, Sheryl, Citra, dan adik-adik lainnya yang saya lupakan namanya bergantian menangis. Aaaah, jangan nangis dek… Untungnya dari kami cuma Mbak Binti saja yang nangis, sisanya sibuk menenangkan adik-adik. Aldi dengan bijak berkata, “Jangan dibilangin jangan nangis, nanti adiknya malah makin nangis.” Entah berapa lama para adik-adik itu bergantian menangis sampai pada akhirnya kami mengantar mereka ke rumah mereka masing-masing.

Paginya, kami berpamitan ke tetangga-tetangga, ke sekolah, ke balai desa. Di balai desa kami mendapatkan salam perpisahan yang sederhana, kami dipesani nasehat oleh kepala desa. Di sekolah kami berpamitan dan ditangisi lagi sama adik-adik di sana. Aih saya ingat mata saya berkaca-kaca saat itu. Kali ini semuanya akan segera berakhir. Nggak ada lagi mengajar mereka belajar, ngajakin mereka bercanda, aaah. Belum pergi pun sudah rindu.

Di posko sebelum kami berangkat, kami berkumpul untuk mengucapkan salam perpisahan. Kami saling berterima kasih dan meminta maaf. Lalu kami berpelukan dan saling berjanji untuk tetap keep in touch di kampus nanti. Saya juga berpamitan pada Muung, kucing kesayangan seposko. Dia sedang hamil, mungkin sekarang perutnya sudah semakin besar dan Muung pasti makin suka tidur.

Lalu kami berangkat ke kecamatan untuk pelepasan, naik ke bus untuk diboyong ke Semarang. Sepanjang perjalanan di Pemalang saya melambaikan tangan ke tempat-tempat penuh kenangan selama KKN bersama Mbak Niken. Selamat tinggal semuanya.

Terima kasih untuk Perangkat Desa Banjarmulya yang sudah baik hati menerima kami yang begini. Terima kasih para tetangga, Pak Tarisno dan Ibunya Rizky yang berbaik hati memberi kami makan dan bala bantuan. Terima kasih karang taruna Desa Banjarmulya, ibu-ibu PKK, bapak-bapak arisan. Terima kasih untuk adik-adik desa wa bil khusus Intan, Anggi 1, Anggi 2, Mesthy, Tita, Anggun, Citra, Hendra dan Wisnu yang selalu membuat saya tertawa. Terima kasih untuk warung Bu Tini, warung tenda biru, warung putih, warung sebelah rumah, nasi goreng Penuntun, nasi goreng Tamansari, mie ayam alun-alun, lontong dhekem, nasi grombyang, sate loso, tahu gejrot, kebab, yang sudah mengisi perut kami di sana. Terima kasih mas-mas langganan kuota yang menyelamatkan hampanya hidup kami tanpa internet di sana. Terima kasih untuk posko KKN sebelah yang mau saya tumpangi dan saya repotkan. Terima kasih untuk mas-mas yang godain saya di warung nasi goreng, sudah saya block kontakmu mas. Terima kasih untuk mas-mas ganteng di lapangan yang wajahnya mirip artis korea tapi bau badannya kayak lunpia. Terima kasih untuk mas-mas yang suka noleh tiap lewat depan posko sambil senyum-senyum caper. Terima kasihnya kok ke mas-mas terus ya? Oke ganti. Terima kasih untuk wifi di balai desa yang super kenceng dengan password ‘oraonopaswod’ yang bikin kami bisa download film sepuasnya. Terima kasih untuk guru-guru di SD Sumberharjo yang sudah mengajari kami makan lontong dengan gorengan. Buk, perpaduannya enak sekali, saya pengin makan itu lagi hiks. Terima kasih untuk abang-abang penjual jajanan SD dan pasar tiban. Terima kasih untuk tsunami debu dan badai angin yang sudah mengotori dan menjatuhkan motor saya. Terima kasih untuk panas yang menyengat di siang hari dan dingin menusuk di malam hari. Terima kasih semuanya!

Terima kasih juga untuk kamu, kamu, kamu semua yang nggak perlu saya sebutkan namanya di sini tapi pasti akan notice karena kalian sudah menghibur hati saya yang sepi selama KKN 40 hari. Hahahahaha!

Muung
Halalbihalal h e b o h

 

Upacara 17-an
Di depan rumah waktu lagi ada Pasar Tiban
Saya paling jarang difoto hiks
Ke kota mencari makan
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Candid
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Foto bersama anak-anak kelas 6 SD Banjarmulya 02
20170722_170819_0013
Hayo tebak kami sedang apa?
20170711_170909_0011
Selesai kerja bakti
20170812_170909_0001
Expo KKN Kabupaten Pemalang
Bersama Wisnu, Hendra, dan Ruli
Surat perpisahan dari Hendra
Selfie terakhir bersama Hendra dkk di posko. Mereka menyempatkan datang dari sekolah untuk berpamitan kembali :’)
Upacara penutupan. Minus Mas Arco dan Mella yang mager, serta Mbak Binti yang sibuk bikin laporan

162380
Saya kangen sekangen-kangennya KKN :’)

35 pemikiran pada “KKN: Akhir yang Manis

  1. Yg pertama itu yang sepatunya bagus itu yha???

    Niken yg joget india sama nyanyi home michel buble

    Si arco yg badan gede doang takut sama tikus itu…

    Kalo yg suka lompat2an kaya ngeluarin jurus~jurus nggak jelas iku sopo za???

    Kok bagianmu nggak adaaa sihhh… juga beberapa sosok tak terlihat yg menemanimu KKN gt

    • Iya bener yang sepatunya bagus

      Iya bener yang joget india sama yang nyanyi

      Iya bener lagi yang takut sama tikus

      Kalau yang suka lompat-lompat itu si Wisnu, otaknya kadang geser kalau collab sama mas Arco

      Nggak ada yang mau tau πŸ˜‚ sosok tak terlihat? Kak Momo kalau ngerasa sih sudah kusebutkan juga di atas, kalau ngerasa 😌

  2. Kenapa za klo digodain mas2 langsung di block? Wua ha ha….

    Selamat atas selesainya KKN. Dan selamat kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Moga lancar kuliahnya sampai lulus nanti πŸ˜€

    • Habis suka di misscall terus kak Shiq, kan nggak nyaman jadinya. Yaudah di block aja, kenalan juga nggak pernah πŸ˜‚

      Makasih banyak ya kak Shiq, aamiin aamiin πŸ™πŸ™πŸ™

  3. Waahh.. ini pun versi singkatnya ya za. Entah bakal jadi sepanjang apa kalau fenomena yang terjadi di hari-hari akhir sana tertulis semua hahaha. Kubaca sampai titik-komanya lho. Dan entah mengapa serasa kayak baca tulisan sendiri -_-

    Masih sempat ketemuan nggak tuh sama orang-orang seatap sepenanggungan di Banjarmulya di Undip raya? Pasti mereka seneng warbiyasah dikasih desc begini haha. Moga silaturahimnya nggak putus ya. Tentang Mbak Binti-Wisnu di situ udah. Kamu-Hendranya nggak ikut diceritain?? *syululululu

    Aku suka kata-kata terima kasihmu di akhir. Menyeluruh. Berisi ucapan manis sekaligus disisipi perkataan menyakitkan juga. Pasti mas-mas nasgor itu masih menyayangkan kenapa dia nggak bisa hubungi kamu lagi hmm

    Btw jadi kangen Hendra 😦 dan kakaknya Wisnu :(( dan ayam-ayam alay di sana juga :(((

    • Ini pun komentar versi singkat ya kak -_-
      Jangan merasa begitu, ini tulisanku lho -_-
      Masih ketemuan dong! Besok-besok juga masih ketemu lagi 😏
      Aku nggak mau ceritain Hendra di sini, takut ada yang cemburu 😌

      Makasih lho Semut Hitam untuk pujiannya πŸ™ƒ
      Kakaknya Wisnu? Kakaknya? Oke nanti aku kasih kontaknya kalau mau πŸ‘Œ
      Aku juga kangen kak 😦

    • Nanti, 3 tahun lagi ngerasain kok Zah wkwkwk πŸ˜›
      Yak, makanya coba rasakan dulu sendiri baru kamu bisa menilai beneran asyik atau hanya terlihat asyik aja πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s